Guru di Mata Siswa Nakal dan Siswa di Mata Guru Berakal (Catatan Reflektif-Introspektif)

0
1375
Oleh E. Nong Yonson, Penulis buku "Dosa Sang Penyair", Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Pernahkan kamu berada pada posisi itu? Posisi sebagai guru di mata siswa nakal ataupun sebagai siswa nakal di mata guru berakal? Pertanyaan di atas memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk mengintrospeksi diri, menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman yang mungkin belum sempat mengisi ruang permenungannya. Inilah yang menjadi dasar, mengapa setiap persepsi mengenai ‘sesuatu’ butuh direfleksikan.

Guru merupakan akronim dari kata ‘gugu’ dan ‘tiru’. Dalam KBBI (2004), kata gugu ‘mempercayai, menurut, mengindahkan dan tiru ‘mencontoh, meneladan’. Artinya, menjadi guru adalah menjadi seseorang yang dapat ‘dipercayai’ dan menjadi ‘contoh’ bagi orang lain. Menjadi guru adalah menjadi tempat ditemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penanya (peserta didik). Guru adalah orang yang benar-benar matang secara emosional dan mantap secara intelektual dan spiritual.

Sudah gurukah Anda? Seperti apa guru di mata siswa nakal? Jawaban atas pertanyaan “Sudah gurukah Anda?” Sepatutnya menjadi cermin besar bagi setiap guru.

Sudah gurukah Anda?

Pada beberapa kesempatan, ketika penulis menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas. Khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia Peminatan. Terdapat beberapa momen yang menjadikan ruangan kelas terasa begitu sunyi. Momen-momen itu terjadi pada saat penulis mengajukan pertanyaan yang bersifat konseptual “Apa itu sastra?” Mendengar itu, peserta didik saling melirik satu dengan yang lain. Uniknya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat tangan untuk  menjawabnya.

Hal itu menjadi permenungan sekaligus mengantar penulis pada pertanyaan “Sudah gurukah saya?” pertanyaan yang sering muncul dalam permenungan itu adalah “Peserta didik yang tidak aktif atau saya yang tidak kreatif?” Penulis memilih fokus jawabannya pada pertanyaan yang kedua “Apakah saya yang tidak krearif?” setelah berbincang dengan beberapa guru senior, penulis mendapatkan cara agar kelas tidak lagi terasa sunyi.

PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, dan Menyenangkan) menjadi pegangan penulis pada pertemuan berikutnya. Dari PAIKEM, penulis belajar untuk mengubah setiap pertanyaan konseptual yang kaku wajib menjadi narasi-interaktif.

Sebelumnya penulis bertanya “Apa itu Sastra?” diubah dengan pertanyaan narasi-interaktif.

“Siapa di antara kalian yang pernah menulis puisi.

Siapa di antara kalian yang pernah membaca puisi, cerpen, atau novel.

Siapa di antara kalian yang suka menonton film?

Coba ceritakan bagaimana kamu menulis puisi.

Coba ceritakan puisi, cerpen, novel apa yang kamu baca dan apa isinya.

Coba ceritakan film apa yang kamu nonton, seperti apa jalan ceritanya.      

Dengan begitu, kelas yang sebelumnya sunyi berubah menjadi ramai terarah. Peserta didik yang sebelumnya pasif menjadi aktif kreatif.

Penulis mulai sadar bahwa pembelajaran deduktif (menempatkan tujuan utama pada awal kegiatan pembelajaran) harus diubah menjadi pembelajaran induktif (menjadikan tujuan sebagai simpulan) dengan pertanyaan narasi-interaktif. Dengan narasi-interaksi, peserta didik diajak berbincang bebas terarah, diajak mengingat dan menyampaikan apa yang pernah mereka alami dalam proses belajar mereka. PAIKEM ternyata terwujud dengan cara ini. Dengan demikian, ketika kelas sunyi bukan berarti peserta didiknya pasif, bisa jadi guru yang tidak kreatif.    

Seperti apa guru di mata siswa nakal?

Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja penulis mendengar desas-desus dari sekelompok siswa yang baru saja usai dibina oleh bapak/ibu guru bagian kesiswaan dan Bimbingan Konseling karena nakal. Desas-desus tersebut merupakan respon mereka yang lahir secara spontanitas. Ini pendapat mereka tentang guru.

Guruku mimpi terburukku

Sudah dua tahun saya bertemu dengan guru yang sama. Ia adalah mimpi burukku. Mimpi paling buruk. Wajah kejamnya, nada kerasnya, telapak tangan besarnya selalu hadir dalam ruang mimpi meski saya sudah berusaha memimpikan orang lain.”

Pernyataan siswa tersebut di atas, merupakan hal negatif yang harus dihapus dari respon siswa atas perlakuan guru, sebab keberhasilan proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas sangat bergatung pada dua hal, yaitu kenyamanan dan kelembutan. Rasa nyaman siswa terhadap pembawaan seorang guru menjadi daya pengikat kedekatan emosional siswa terhadap gurunya. Dengan demikian, konsentrasi, partisipasi, enjoy siswa terhadap mata pelajaran yang dibawakan oleh guru tersebut dijamin seratus persen sempurna.

Kelembutan, “Cara terbaik untuk mengatasi hal terburuk adalah menyentuhnya dengan lembut.” Ungkapan ini semustinya menjadi fondasi sekaligus ciri khas seorang guru. Siapa pun siswanya, seperti apa perilakunya, tegurlah ia dengan lembut, ubahlah ia dengan lembut, arahkanlah ia dengan lembut. Sehingga benar apa yang dikonsepkan Dri Atmaka (2004:17) bahwa pendidik adalah orang dewasa yang bertangggung jawab memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani maupun rohani, agar tercapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri, memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan mandiri.

Guru itu malaikatkah?

Saya selalu menjadi siswa yang tidak baik, nakal, dan surat panggilan yang ditujukan ke orang tua saya bertumpuk. Padahal, hal yang saya lakukan itu biasa saja. Misalnya, minta uang dari teman yang disebut guruku ‘palak’, datang terlambat karena rumah jauh karena tinggal dengan wali, atau bercanda dengan teman yang dismpulkan sebagai bullyng. Saya juga harus kerja sebelum ke sekolah, dan terlambat mengumpulkan tugas.

Pernyataan siswa tersebut menempatkan guru sebagai orang yang bebas dari kesalahan. Pernyataan tersebut juga menunjukkan rasa jengkel siswa terhadap gurunya.  Namun, secara psikologis pernyataan tersebut semustinya dipahami sebagai ajakan yang ditujukan kepada guru untuk berada pada posisi sisiwa tersebut. Ia sebenarnya sangat ingin dimengerti. Ia sebenarnya sangat ingin ditanya bukan tentang “terlambat terus ini anak, itu anak nakal, panggil saja orang tuanya, atau sudahlah, masukan saja namanya dalam daftar anak-anak yang akan dikeluarkan atau calon tidak naik kelas.” Melainkan panggil siswa bersangkutan, bawahlah ke ruang guru, dan ajaklah bercerita empat mata. Misalnya dengan pertanyaan “Nak, mengapa sering terlambat? Rumahmu jauh ya? Atau mengapa sering terlambat mengkumpulkan tugas?” Kata tanya ‘mengapa’ mutlak membutuhkan jawaban berupa alasan, sementara suasana empat mata menjamin keterbukaan siswa pada gurunya. Dengan cara seperti itu, siswa akan dengan polos menyampaikan persoalannya secara total.

Tidak selamanya guru harus menjadi guru bagi siswanya setiap saat. Sebab, dalam strategi pembelajaran guru dapat berperan sebagai orang tua, kakak, saudara, sahabat, dst. Jika guru sudah terbiasa menjadi sahabat bagi siswanya pada situasi tertentu maka proses pembelajaran menjadi bagian yang sangat disukai oleh siswa.

Selanjutnya, cara paling efektif untuk mengatasi siswa yang bermasalah (nakal) adalah dengan tidak menguaraikan kenakalanannya satu per satu. Ceritakan hal lain yang berkaitan dengan akibat-akibat kenakalan dan jangan pernah menyinggung apa yang ia lakukan. Berikan kesempatan baginya untuk memahami perilakunya dengan caranya. Berikan kesempatan baginya untuk merenungkan perilakunya dengan ceritamu. Jadilah guru yang pantas digugu dan ditiru. Jadilah guru yang siap menjadi siapa pun untuk siswanya pada situasi apa pun. Sebab siswa nakal hanya bisa diatasi oleh guru berakal. Siswa bermasalah hanya bisa diakali oleh guru berakal. Intertaksilah dengan narasi dan narasikanlah setiap interaksimu dengan mereka dengan perhatian dan kelembutan. Itu alasan mereka akan menempatkanmu pada hati sebagai cinta sejati dan pada pikiran sebagai sosok terindah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here