Tampil di Televisi Abu Dhabi, 2 Perwakilan ISBI Bandung Kenalkan Angklung dan Suling di Tanah Arab

0
47

Dubai, SEKOLAHTIMUR.COM – Dua perwakilan Institut Seni dan Budaya (ISBI) Bandung tampil dalam salah satu siaran langsung milik stasiun televisi Abu Dhabi TV, Senin (13/12) malam, waktu Dubai. Mereka adalah Manshur Praditya yang membawa alat musik angklung toel dan Pian Sopian dengan alat musik suling sunda.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama, ISBI Bandung, Suhendi Afryanto, mengatakan penampilan ISBI Bandung di Expo 2020 Dubai mendapatkan respons yang sangat baik dari pengunjung. Pria yang akrab disapa Hendi ini, menyampaikan bahwa penampilan ISBI Bandung di perhelatan yang dihadiri 192 negara tersebut membawa misi mengenalkan budaya Indonesia ke panggung internasional.

“Kami mendapatkan respons yang sangat baik dari audiens. Kami diundang juga untuk tampil di Abu Dhabi TV dan diajak kolaborasi juga sama Vietnam,” ujar Hendi saat berada di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Minggu (14/12).

Saat tampil di Abu Dhabi TV, Manshur dan Pian membawakan dua lagu, yaitu Indonesia Pusaka dan Es Lilin. Kedua lagu tersebut dipilih karena merupakan lagu nasional dan lagu khas daerah Jawa Barat. Manshur bercerita, kehadirannya di Abu Dhabi TV membuktikan bahwa musik yang dia usung dapat diterima di mana saja. Undangan yang diterima Manshur dan Ipin dari stasiun televisi tersebut merupakan bentuk kekaguman Abu Dhabi TV atas keunikan musik yang dibawakan kedua perwakilan ISBI Bandung ini.

“Kata mereka (Abu Dhabi TV), belum ada talent di expo ini yang diundang ke acara itu, baru kami berdua,” ujar Manshur bangga.

Musik yang dibawakan oleh Manshur dan Pian disebut unik karena memadukan alat musik tradisional, yaitu angklung, suling, dan kendang, dengan Electronic Dance Music (EDM). Perbedaan karakteristik kedua musik tersebut memberi warna baru pada jenis musik yang dibawakan.

Menurut Pian, musik yang dibawakannya bersama Manshur mengubah dua stigma. Pertama, kata dia, selama ini musik tradisional dikenal kolot dan kampungan, tetapi ketika dipadukan dengan musik EDM, ternyata bisa jadi musik modern yang diterima masyarakat. Begitu juga dengan EDM, lanjutnya, biasanya musik ini hanya dikenal dengan musik Disc Jockey (DJ), yang beat-nya cepat. Tetapi ketika dipadukan dengan musik tradisional, ternyata bisa untuk acara formal.

“Jadi kalau bahasa sundanya itu, mi indung ka waktu mi bapak ka zaman. Artinya, ber-ibu kepada waktu dan ber-bapak kepada zaman. Perkembangan musik itu harus menyesuaikan pada perkembangan zaman. Kami harus adaptasi untuk dapat langgeng,” jelas Pian.

Manshur dan Pian berteman dari masa sekolah di SMK Negeri 10 Bandung. Keduanya merupakan alumni jurusan karawitan di SMK tersebut. Setelah lulus SMK, keduanya sama-sama masuk ke ISBI Bandung tetapi di jurusan yang berbeda. Manshur mengambil jurusan angklung, dan Pian melanjutkan ke jurusan karawitan. Lulus dari ISBI Bandung pada tahun 2017, keduanya tetap menekuni alat musik tradisional yang mereka gemari dan memadumadankannya dengan EDM. “Pakemnya tetap kita bawa, tapi menyesuaikan zaman,” ujar Manshur.

Baik Manshur maupun Pian sangat berharap musik yang mereka bawakan dapat diterima secara luas di industri musik tanah air maupun mancanegara. Keduanya meyakini, musik tradisional bisa disandingkan dengan alat musik modern apapun. Bahkan, kata Manshur, musik tradisional bisa dimainkan siapapun dan kapanpun. Hal ini berbanding terbalik dengan alat musik modern, yang belum tentu bisa memainkan musik tradisional. Manshur yang berasal dari Jawa Tengah dan keluarga yang menekuni pencak silat, jatuh cinta pada angklung, alat musik asli Jawa Barat sejak 2009. Banyak lagu yang sudah dibawakannya menggunakan alat musik tersebut. “Musik tradisional itu bukan hanya untuk satu suku saja, semua orang bisa dan boleh memainkannya, seperti saya,” katanya. (Siaran Pers Kemendikbudristek Nomor: 784/sipres/A6/XII/2021/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here