Penguatan Sinergi Bersama dalam Penanggulangan Stunting di Indonesia

0
70
Penguatan Sinergi Bersama dalam Penanggulangan Stunting di Indonesia.

Jakarta, SEKOLAHTIMUR.COM – Pemerintah terus menggalakkan upaya menurunkan prevalensi angka stunting di Indonesia dari 24 persen menjadi 14 persen di tahun 2022. Guna mendukung komitmen tersebut, serta bersamaan dengan Hari Gizi Nasional ke-62, Southeast Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) menyelenggarakan rangkaian acara webinar berskala nasional dan internasional secara hibrida di Jakarta, dimulai dari tanggal 27 sampai dengan 29 Januari 2022.
 
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Suharti, menyampaikan bahwa Kemendikbudristek akan terus berperan aktif di dalam memastikan penanganan stunting di Indonesia. Hal ini, kata dia, sejalan dengan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021. Selain stunting, Suharti menyebut, isu obesitas juga menjadi perhatian dalam tema utama di Hari Gizi ke-62, karena selain stunting, obesitas juga telah berdampak di berbagai kelompok masyarakat.

“Kami juga ingin memastikan bahwa bidang pendidikan bisa berkontribusi secara signifikan untuk menangani masalah stunting dan obesitas,” urai Suharti, dalam sesi acara pembukaan, Kamis (27/01/2022).

Suharti menjelaskan, penanganan stunting dan obesitas yang baik merupakan kunci dari pembangunan manusia Indonesia yang berujung pada terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di tahun 2045. Suharti menambahkan, Kemendikbudristek juga telah menyusun dan melaksanakan beberapa kebijakan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan menengah dan juga pendidikan tinggi.

“Sebagai contoh, penguatan satuan PAUD dilakukan dengan pendekatan holistik integratif yang mengedepankan pola pengasuhan dan juga menyangkut pengetahuan serta asupan gizi yang baik,” tutur Suharti.
 
Senada dengan itu, Direktur SEAMEO RECFON, Muchtaruddin mengungkapkan bahwa satuan pendidikan merupakan wahana strategis untuk menjangkau kelompok-kelompok usia yang penting dalam mengatasi masalah gizi. “Dalam upaya penanganan masalah gizi dan stunting, SEAMEO RECFON menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan mitigasi dan yaitu pendekatan prevensi atau pencegahan,” tutur Muchtaruddin.
 
Muchtaruddin menambahkan bahwa SEAMEO RECFON sebagai pusat kajian gizi dan pangan regional, yang memiliki mandat pendidikan, pelatihan, diseminasi dan peningkatan kapasitas SDM di bidang gizi, telah melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana strategis dan target yang ditetapkan. Ia menyebut, program-program tersebut sejalan dengan kebijakan pada tingkat regional melalui SEAMEO Council dan kebijakan nasional melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal ini disampaikan Muchtaruddin dalam rangka Hari Ulang Tahun SEAMEO RECFON yang ke-11 yang mengusung tema utama “Sustaining Good Nutrition for All Amidst Covid-19 Pandemic”.
 
Tenaga Ahli Utama, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Kantor Staf Presiden RI, Brian Sriprahastuti menyampaikan bahwa persebaran kurang lebih 290 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di berbagai daerah di Indonesia menjadi tantangan untuk semua lembaga dari sektor pendidikan dalam mengintegrasikan Posyandu aktif dengan PAUD.
 
“Upaya integrasi Posyandu aktif dengan PAUD dapat menunjukkan bahwa pola asuh merupakan core dalam pencegahan stunting. Posyandu menjadi garda utama terdepan dalam penanganan pencegahan stunting,” tegas Brian.
 
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Sekretariat Wakil Presiden, Suprayoga Hadi mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo memberikan target agar supaya penurunan angka stunting dapat mencapai 3 persen tiap tahunnya. “Tentu ini bukan perkara mudah, namun pemerintah mendorong adanya kolaborasi dari pihak pemerintah maupun swasta, di samping itu pemerintah pusat tetap berkomitmen terutama dari sisi pendanaan terkait stunting tidak ada yang dikurangi. Terutama dengan terbitnya Perpres nomor 72 tahun 2021 yang menjadi pondasi hal-hal apa saja yang perlu diperkuat,” tekannya.

Secara khusus Suprayoga menyoroti pentingnya peran dunia pendidikan tinggi dalam penurunan angka stunting. “Penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi sebaiknya dilakukan untuk menghasilkan sebuah rekomendasi yang applicable dan implementable untuk perbaikan pelaksanaan program, terutama program penurunan stunting,” ujarnya.

Selain rangkaian webinar, SEAMEO RECFON meluncurkan media edukasi gizi produk pendukung pengentasan stunting di Indonesia yaitu: (1) Modul Anakku Sehat dan Cerdas: Buku Orangtuan dalam Sesi Parenting dengan Metode Pengajaran Jarak Jauh; (2) Modul Anakku Sehat dan Cerdas: Panduan bagi Pendidik PAUD dalam Penerapan Konsep PAUD-HI melalui Sesi Parenting dengan Metode Pengajaran Jarak Jauh; (3) E-book Stunting dan Tembakau; (4) Best Practice Implementasi NGTS di Indonesia; (5) Kurikulum Pelatihan Daring Tata Laksana Gizi Masyarakat untuk Tenaga Pelaksana Gizi Indonesia; dan (6) Kurikulum Pelatihan Daring dan Keamanan Pangan dan HACCP untuk Tenaga Pelaksana Gizi Indonesia.

Adapun rangkaian webinar dan peluncuran media edukasi gizi mendapat dukungan penuh selain dari Kemendikbudristek, yaitu dari berbagai Kementerian/Lembaga lainnya seperti Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (Sumber berita dan foto: kemdikbud.go.id/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here