Hadiri “Hananu di Batas Negeri”, Ini Pesan Kepala Kantor Bahasa NTT dan Direktur Pertamina Foundation

0
236
Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis, ketika hadir dalam kegiatan "Hananu di Batas Negeri", Kamis (24/02/2022) di aula SMKN Kobalima, Kab. Malaka, Prov. NTT.

Kab. Malaka, SEKOLAHTIMUR.COM – Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, Syaiful Bahri Lubis, S.S., M.A., menghadiri secara langsung pembukaan kegiatan “Hananu di Batas Negeri” yang diusung Yayayan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi), Kamis (24/02/2022) di aula SMK Negeri Kobalima, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, Syaiful Bahri Lubis mengungkapkan bahwa program dari Yaspensi yang memiliki visi untuk meningkatkan kemampuan Berbahasa Indonesia di daerah perbatasan Kabupaten Malaka, layak dan pantas untuk dimenangkan oleh Pertamina Fondation.

“Bagaimana teman-teman dari Yaspensi yang bersaing dan berlomba agar mendapatkan sebuah program yang menarik dari Pertamina Fondation. Ada sebuah judul yang menurut saya tidak sembarangan dipilihkan ‘Hananu di Batas Negeri’, lalu dijabarkan lagi menjadi ‘Hananu sebagai Metode Peningkatan Kemampuan Berbahasa Indonesia Anak-Anak Perbatasan NKRI Kabupaten Malaka, Provinsi NTT’. Kalau pun saya sebagai Direktur Pertamina, pasti proposal seperti ini langsung saya setujui, karena ini adalah sebuah visi yang bagus,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Syaiful menegaskan bahwa Bahasa, Bendera, Lagu Kebangsaan dan Lambang Negara selalu menempati posisi tertinggi yang harus dihargai serta dihormati seluruh masyarakat di NKRI. Apalagi, posisi Kabupaten Malaka sebagai teras depan dan wajah Bangsa Indonesia, sehingga menjadi tanggung jawab Malaka untuk tampil lebih baik. Selain itu, sambungnya, bahasa Indonesia dan bahasa daerah merupakan bagian penting yang harus dijaga, dilestarikan dan tidak boleh dilupakan.

“Perbatasan negara, ibaratnya teras sebuah rumah, ruang depan Republik Indonesia. Kalau buruk teras rumahnya, jelek selasarnya, maka negara ini juga terlihat jelek. Oleh karena itu, Malaka harus tampil lebih baik. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah merupakan dua sisi mata uang yang harus dimartabatkan. Bahasa Indonesia untuk tempat-tempat formal dan di sisi lain bahasa daerah harus juga diajarkan di rumah-rumah atau lebih bagus lagi kalau dalam kegiatan-kegiatan seperti ini juga disisipkan bahasa daerah. Jadi, menurut saya, inilah salah satu yang menyebabkan panitia seleksi melirik proposal ini dan harus dimenangkan, apalagi tempatnya di daerah perbatasan,” tandasnya.

Bahasa, Kunci Komunikasi Efektif

Sementara itu mewakili Pertamina Foundation, Direktur Operasi Pertamina Foundation, Yulius S. Bulo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yayasan Pustaka pensi Indonesia (Yaspensi) sebagai penyelenggara kegiatan. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan “Hananu di Batas Negeri”.

Direktur Operasi Pertamina Foundation, Yulius S. Bulo menyampaikan sambutan melalui rekaman video.

Yulius menuturkan, dewasa ini penggunaan bahasa yang baik dan benar merupakan kunci komunikasi yang efektif. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari komunikasi dan pemakaian bahasa. Melalui bahasa kita dapat mengungkapkan berbagai ide, gagasan, buah pikiran, hingga keinginan dalam menyampaikan pendapat maupun menyebarluaskan berbagai informasi termasuk kegiatan-kegiatan baik.

“Kita ketahui bersama bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa, merupakan sarana pemersatu berbagai suku bangsa sesuai dengan yang telah dituangkan oleh para pendiri bangsa dalam UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Yulius melalui rekaman video yang dikirmkan kepada panitia.

Meskipun demikian, lanjut Yulis, fasih berbahasa Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi anak-anak di daerah perbatasan negara kita ini. Permasalahan tersebut kita temui salah satunya di Kabupaten Malaka, NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Tentunya hal tersebut berdampak pada proses pembelajaran formal di sekolah yang mana apabila tidak kita tangani maka akan menjadi hambatan untuk dapat menempuh jenjang pendidikan formal pada tingkat yang lebih tinggi.

“Lebih jauh lagi masalah tersebut akan berujung pada memudarnya rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. Mempertimbangkan keresahan akan pentingnya membumikan bahasa persatuan di daerah perbatasan, Yaspensi mengusulkan sebuah ide proyek sosial untuk mengupayakan peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia bagi anak-anak di Kabupaten Malaka melalui pendekatan “hananu” yaitu aktifitas bernanyi dengan stimulus lagu-lagu daerah Malaka yang dilantunkan dengan bahasa daerah Malaka namun terjemahannya dalam bahasa Indonesia,” jelasnya.

Ia melanjutkan, “Proyek tersebut telah berhasil keluar sebagai pemenang Kompetisi Proyek Sosial PF muda 2021 yang diikuti oleh lebih dari 3000 pendaftar dan lebih dari 2100 proposal diajukan. Proyek ini merupakan salah satu yang terpilih dari Top 50, artinya adalah dua setengah persen yang terbaik dari proyek-proyek sosial yang kami pilih.”

PFmuda, Kesempatan bagi Generasi Muda

Pada kesempatan tersebut, Yulius S. Bulo juga menguraikan, Program PFmuda adalah prakarsa anak muda dalam menuntaskan isu-isu sosial melalui proyek sosial yang inovatif dan inspiratif, mengusung tema “Inovasi Gerakan Milenial dalam Menuntaskan Isu-Isu Sosial”. Kompetisi ini bertujuan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berani merealisasikan gagasannya dalam sebuah prakarsa proyek sosial. Disediakan apresiasi pendanaan untuk membantu merealisasikan proyek sosialnya bagi yang lolos dan menjadi yang terbaik dalam ajang kompetisi yang bersifat sangat terbuka dan nasional.

“Tujuan PFmuda adalah untuk menemukan ‘young leaders’ yang inspiratif, yang memiliki kepekaan sosial dan lingkungan dengan aksi-aksi solusi inovatif untuk menjawab problem sosial di sekitar kehidupannya. Memang proyek ini kami desain untuk diikuti anak muda berusia maksimal 35 tahun karena kita tahu bahwa pembangunan Indonesia terletak pada bahu anak-anak muda,” tuturnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh Yaspensi, jelasnya, menjadi salah satu wujud nyata dalam menyelesaikan isu krusial yang seringkali tidak tampak di permukaan padahal merupakan hal besar yang mampu memberikan manfaat luas tidak hanya bagi anak-anak di Kabupaten Malaka tetapi untuk daerah-daerah perbatasan lainnya agar dapat dilakukan upaya serupa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Malaka khususnya Bapak Bupati, Dr. Simon Nahak, S.H., M.H., Bapak Kepala Kantor Bahasa NTT yang telah menyambut hangat serta memberikan dukungan untuk keberlanjutan proyek sosial ini nantinya. Kami meyakini bahwa proyek sosial yang mampu menuntaskan berbagai isu di lingkungan sekitar akan menjadi langkah awal dari sebuah tujuan besar untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kami ucapkan selamat menjalankan kegiatan ‘Hananu di Batas Negeri’. Tetap semangat dan jangan pernah berhenti untuk senantiasa bergerak, berinovasi, dan terus menginspirasi,” pungkasnya. (Yosi Bataona/ Robertus Fahik/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here