Pawang Hujan dan Nasib Pelajaran Seni Budaya

0
692
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., Guru Seni Budaya, Ketua Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI)

Sebuah ‘sejarah’ penting yang mewarnai salah satu peradaban di Indonesia–dan juga dunia–baru saja tercipta. Terselenggaranya gelaran balapan MotoGP yang diadakan di sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, 19 – 20 Maret 2022. Walau ini bukan yang pertama terjadi di Indonesia, karena pada tahun 1996 dan 1997, tepat di sirkuit Sentul, Jawa Barat, pernah diselenggarakan gelaran yang sama.

Dan apa yang menjadi sejarah penting tersebut? Mata masyarakat Indonesia ataupun dunia tertuju pada satu momen, ketika hujan dan petir seakan ingin memaksa penundaan jadwal gelaran tersebut.

Rara Istiani Wulandari

Rara, nama panggilannya. Ia lahir di Papua, 22 Oktober 1983. Saat ini menetap di Denpasar, Bali. Inilah salah satu sosok yang sangat viral dalam gelaran MotoGP Mandalika. Melebihi Miguela Olivera yang menjadi pemenang, dan juga presiden Jokowi yang sempat hadir, pun para penabuh marching band yang tetap bermusik di tengah gerimis pada acara pembuka. Pekerjaan mbak Rara saat ini adalah pawang hujan. Sebuah profesi yang menuai jutaan apresiasi sekaligus kontroversi oleh netizen dari Sabang sampai Merauke.

Sementara akun Twitter @MotoGp menuliskan “THANK YOU for stopping the rain! Setelah beberapa saat melihat aksi individu mbak Rara berjalan beberapa langkah di area sirkuit sembari sesekali memukul tempayan yang dipegangnya, sedikit berkomat-kamit hingga berteriak. Ia terus melangkah, memukul tempayan sembari menengadahkan kepala ke langit yang terus mengguyurkan hujan. Rugi besar kalau semisal race saat itu ditunda (?).

Ketika menonton beberapa tayagan live streaming dari beberapa media lokal, beberapa saat setelah gelaran balapan selesai, mbak Rara mengaku bahwa apa yang dia lakukan itu adalah berdoa kepada Yang Kuasa dengan perantara aliran kepercayaan yang ia yakini.

Aliran Kepercayaan, Salah Satu Sumber Karakter

Pada tahun 2017, ada sekitar 187 kelompok penghayat kepercayaan yang diakui di Indonesia. Sebagian di antaranya seperti Kejawen di Jawa, Sunda Wiwitan di Banten, Parmalim di suku Batak, Marapu di Pulau Sumba, Kaharingan di Kalimantan, Aluk Todolo di Tanah Toraja, dan Buhun di Jawa Barat.

Dalam praktik, tiap aliran kepercayaan selalu memanfaatkan alam, seperti pohon, batu, mata air, lautan, gunung, serta hulu-hilir sungai sebagai sarana atau jembatan giat ‘ibadahnya’. Mereka tetap mempercayai Yang Kuasa, Dewa di tempat yang Maha Indah sebagai penciptanya. Bahkan banyak sumber menuliskan informasi tentang apa yang mereka lakukan sebagai bentuk menghormati serta mewarisi tradisi leluhur seraya melestarikan seni dan budaya peninggalan leluhur, yang punya filosofi serta makna yang melahirkan nilai-nilai kebaikan; seperti saling menghormati antar-makhluk ciptaan, menjaga persaudaraan dan kekerabatan sebagai warisan yang kuat, mencintai lingkungan, seraya saling menopang dalam hidup tradisi kesehariannya.

Sebagian ajaran-ajaran, terutama tentang nilai-nilai karakter yang didapatkan dari ragam aliran kepercayaan ini, masuk ke pendidikan formal dalam mata pelajaran Seni Budaya serta beberapa di antaranya diimplementasikan dalam Muatan Lokal. Entah apa yang terjadi, atau apa yang salah, masih banyak warga bangsa Indonesia masih belum memahami keunikan, kekhasan, dan peruntukan aliran-aliran kepercayaan sebagai salah satu warisan kearifan lokal yang turut memperkuat seni dan budaya Indonesia untuk tetap ‘kaya’ di mata dunia.

Contoh sederhana, ketika laman media sosial MotoGP menaikkan postingan tentang aksi mbak Rara di sirkuit Mandalika, yang menuliskan “THANK YOU for stopping the rain”, terdapat 79.682 respon, dengan rincian 56.711 likers, sebanyak 20.197 emoticon tertawa, 1.934 love, 419 wow, 314 peduli, 73 sedih, dan 34 marah. Setelah ditelusuri lebih jauh, yang memberikan emoticon tertawa adalah mayoritas nama-nama orang Indonesia sendiri. Ini paradoks(i)al di negeri yang (katanya) kaya budaya, negeri yang sangat toleran, dan negeri yang sangat indah. Menertawakan kekayaan budaya sendiri adalah bentuk kekerdilan pengetahuan dan peradaban.

Nasib Pelajaran Seni Budaya

Salah satu pelajaran yang sangat penting di lingkungan pendidikan formal saat ini adalah Seni Budaya. Ilmu yang dianjurkan dalam tiap topik, sesuai arahan Kurikulum 2013, mesti lebih kontekstual, mengintrepretasi Silabus dan RPP untuk menonjolkan keunikan dan kekayaan budaya lokal.

Saya dan peserta didik kelas XII di sekolah, merancang bersama satu topik pembahasan, sebelum mereka menutup lembaran ujian akhir sekolah. Topiknya explore Seni dan Budaya NTT. Judul diskusinya adalah ‘Pulang Kampung’. Anak-anak diberikan kesempatan untuk ‘pulang kampung’ menemui opa, oma, tetua adat, ba’i, te’o, to’o, inang, amang, babo, ine, ame, eyang, dan sebainya via komuniksi virtual, untuk menggali, menemukan, merinci, dan juga memahami kekayaan Seni dan Budaya daerah asal seraya menuliskan makna filosofi dan juga pemaknaan atau pesan karakter dari tiap item yang dieksplor.

Ada sekitar 15 item yang dikerjakan, seperti upacara tradisional, permainan tradisional, cerita rakyat, ungkapan tradisional, pengobatan dan obat tradisional, makanan dan minuman tradisional, senjata tradisional, peralatan tradisional, arsitektur tradisonal, pakaian tradisonal, kain tradisional, kesenian trdisional, pengetahuan tradisional, dan kearifan lokal. Narasumbernya wajib ‘orang-orang’ di kampung dengan melampirkan nama, usia, pekerjaan, dan alamat, tanpa ‘campur tangan’ om google.

Dalam riset sederhana, saya menemukan sebuah ‘kegembiraan akademik’ ketika para siswa mengetahui kekhasan adat, tradisi, kepercayaan yang belum pernah mereka ketahui. Begitupun opa dan oma di kampung, sangat senang ketika momen para cucunya menelepon untuk bertanya tentang item yang mereka gali.

Ini tentunya sebuah suasana baru, sebagai kekuatan, yang hemat saya wajib dilestarikan sebagai kekuatan pendidikan karakter anak-anak NTT ataupun Indonesia pada umumnya. Supaya ‘kasus’ menertawakan warisan budaya tidak boleh terjadi lagi. Karena harga diri bangsa sebenarnya ada pada warisan-warisan budaya dan tradisi, sebagai simbol pemersatu, simbol keberagaman, simbol kebhinekaan, dan juga simbol kekuatan peradaban.

Indonesia sebenarnya bisa belajar dari negara China atau Jepang. Selain hanya bisa jadi penikmat film-film mereka, mesti bisa melihat sajian Seni dan Budaya dalam karya audio visualnya, seperti arsitektur tradisionalya, pakaiannya, makanan dan cara menyajikannya, musiknya, sastranya, sistem pertaniannya, dan semuanya itu seperti menjadi fondasi untuk membangun negaranya hingga menjadi sangat maju.

Indonesia memang sangat (lebih) kaya, tetapi karakter nasionalime terlampau rendah. Ini adalah ancaman besar. Seperti tak pernah sadar, bahwa mereka berasal dari rahim terindah seorang wanita yang bernama Indonesia.

Bagaimana nasib mata pelajaran Seni Budaya di Indonesia masa mendatang, apabila para guru Seni Budaya berjuang menceritakan kearifan lokal Indonesia yang bayak diakui dunia, sementara di Indonesia hal seperti itu dinilai sebagai ajaran sesat, ditertawakan, sampai di-bully dan diasingkan dari tanah leluhurnya sendiri? Indonesia selalu punya candaan yang berlebihan dari otaknya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here