Hebat Jika Menghebatkan

0
188
Oleh Joni Liwu, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia SMPN 13 Kota Kupang, Pengurus Wilayah PPMN NTT.

Judul tulisan di atas merupakan pernyataan Ketua Perhimpunan Penulis dan Motivasi Nasional (PPMN) Pusat, Nurbadriyah, M.Pd. Selengkapnya, seseorang disebut hebat jika menghebatkan orang lian. Pendapat yang mengemuka dalam Pengukuhan Pengurus Wilayah PPMN Provinsi NTT, Kamis (24/03/2022).

Perwujudannya melalui jalan yang disebut literasi. Tentang literasi, baginya merupakan fondasi menuju peradaban, karena itu jangan menunggu untuk bergerak. Simpul sederhana, tergerak, bergerak dan menggerakkan.

Beberapa gagasan diurai sebagai visi dan misi PPMN. Menarik, karena bukan saja dunia literasi yang diarungi tetapi juga visi “kemanusiaan” lainnya sebagaimana latar belakang PPMN yang sebuah komunitas yang didirikan sebagai wadah kreativitas dan inovasi para cendekia dalam meningkatkan kompetensi melalui literasi, public speaking, dan cipta karya berskala nasional.

Berdasarkan hal tersebut maka PPMN pun  hendak mencipta dan menjaring para penulis, motivator baik pemula, amatir maupun profesional sehinga dapat melahirkan cendekia kritis, kreatif, komunikatif, dan kompeten.                                                                          

Beberapa gagasan yang sangat menyentuh kemanusiaan pun diurai selain bimbingan teknis soal menggelorakan literasi melalui misi project writing menuju penerbitan. Pada aras menggerakkan siswa untuk membaca, ia pun mengusung kiat. Di sekolah, misalnya ketika hendak mengompori peserta didik untuk membaca, beberapa vlog atau video blogging dapat disuguhkan.

Isi dan konten tentang naskah cerita dalam durasi 1 sampai 2 menit. Peserta didik difasilitasi agar dapat menonton vlog tersebut. Tentu saja cerita atau naskah yang belum selesai tersebut akan mengumbar semangat membaca. Selanjutnya, guru atau fasilitator pun memngarahkan  untuk membaca naskah lanjutannya pada buku. Kiat baru dengan vlog tentu membutuhkan keterampilan mendesainnya, dan PPMN adalah wadah yang akan memfasilitasi anggotanya dala hal-hal teknis tersebut. Sungguh sebuah aksi sebagai perwujudan menghebatkan orang lain.

Aksi kemanusiaan lainnya yakni, menggerakan dan menghebatkan kaum putus sekolah. Betapa hal ini sengguh menggugah nurani saya. Bak jaring laba-laba, gerakan kemanusiaan yang satu ini menyentuh generasi bangsa yang putus sekolah. Mereka yang tidak berdaya dan tak mampu mengeyam pendidikan sebagaimana kebanyakan orang lainnya.

Kiat PPMN akan tersaji dengan memberi bimtek bagi seribu pengurus, selanjutnya seribu orang tersebut memfasilitasi seratus orang di tiap daerah. Kepada yang seratus ini mengumpulkan dan membimbing serta memfasilitasi sepuluh orang putus sekolah. Maka kemudian PPMN akan memilki “anak asuh” yang literat. Sungguh ia menghebatkan dunia sebagaimana hasrat yang terus menggema dalam nubari PPMN, ”Menjelajah Dunia Bukan Wacana”.

PPMN bukan saja himpunan para penulis hebat, tetapi juga penulis pemula bahkan yang sangat memiliki semangat untuk menulis dan menggerakan serta menghebatkan orang lain. Hal itu beralasan karena dalam wadah ini yang hebat akan menghebatkan orang lain. Sebuah visi yang sederhana namun menyetuh. Sederhana namun belum menjadi niat dan minat orang-orang hebat. Kebanyakan orang akan merasa hebat untuk diri sendiri.

Jika demikian, akankah seseroang disebut hebat? Sebuah pertanyaan reflektif di saat bangsa ini  menggaungkan Gerakan Literasi. PPMN hendak berkolaborasi dengan setiap kompenen bangsa agar dapat menghebatkan orang lain karena bangsa ini tidak saja menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Bangsa sangat luas dan mendambakan kerja sama serta peran semua pihak.

“PPMN tempat menggerakan dan menghebatkan orang lain. Dengan mengehebatkan orang lain, mereka akan mengehebatkan kita,” demikian motivasi Ketua PPMN Pusat, Nurbadriyah dalam sambutan pembukanya.

Permenungan sampai pada simpulan bahwa PPMN bermetamorfosis sebagai wadah universal bagi pegiat literasi pemula, amatir, profesional dan motivator. Pada mereka yang ikhlas itulah visi misi PPMN ditebar. Mereka dapat menjelajah dunia dalam semangat yang sama, menggerakan dan menghebatkan. Dan itu bukan wacana. (*/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here