Perlukah Penulis Mengalami Peristiwa agar Karyanya Mendekati Realita?

0
354
Oleh E. Nong Yonson, Penulis buku "Dosa Sang Penyair", Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Judul berupa pertanyaan ini menempatkan penulis pada posisi mutlak berkontemplasi. Tujuan permenungan itu, bukan sekadar mengembalikan ingatan proses kreatif penulis, melainkan menjawab tanya, tentang mengapa menulis menjadi pilihan penulis. Lahirnya sebuah karya, lazimnya karena dua hal, yaitu alasan dan tujuan. Mengapa sebuah peristiwa itu diangkat ke dalam tulisan dan untuk apa dijadikan sebuah tulisan. Dua hal ini memosisikan penulis sebagai perekam sekaligus pengembara.  

Sebagaimana pendapat para ahli, sastra lahir dari sumber pengalaman sastrawan sendiri, baik dalam bentuk pengalaman lahiriah, maupun pengalaman batiniah (dalam Thahar: 2008:25). Mungkin ada benarnya, tetapi tidak selalu begitu. Memang, ada beberapa penulis yang sengaja mengalami suatu pengembaraan asing untuk medapatkan inspriasi yang unik seperti yang dilakukan Emilie Zola yang hidup bersama buruh tambang sebelum melahirkan novelnya Germinal.

Demikian pula Buang Sine, yang mendekati sempurna dalam mendeskripsikan Rote dan Sumba secara geografis, sosial budaya, dan sentilan renyah permainan birokrasi pada novelnya Dua Malam Bersama Lusifer.

Berbeda dengan Emilie Zola dan Buang Sine, Karl May seorang pengarang kisah-kisah suku Indian, ternyata belum pernah ke Amerika ketika selesai menulis kisah-kisah tentang suku-suku asli yang hidup di benua Amerika dan kisah pada tulisannta itu mendekati sempurna. Karl May merupakan salah satu bukti, bahwa sebenarnya untuk merekam objek yang akan dijadikan bahan tulisan tidak perlu pergi ke tempat peristiwa itu terjadi. Cukup dengan mengumpulkan audio atau audio visual, buku-buku bacaan dan hasil tuturan orang lain.    

Kisah Karl May sesungguhnya telah menjawab pertanyaan kontemplatif pada judul tulisan ini. Namun, ada dua hal yang menjadi titik pijak sebagai penggenap, penulis sebagai pencipta dan pengembara dalam tulisannya.

Penulis sebagai Pencipta

Masih jelas dalam ingatan saya, ketika mengikuti perkuliahan Bengkel Sastra (2013) yang diampu oleh Dosen sekaligus Partner diskusi segala persoalan kreativitas dan inovasi menulis, Pak Marsel Robot. Beliau mengekalkan pernyataan seperti ini “Jika kisah yang menjadi objek rekaman itu terkesan biasa, maka di tangan penulislah kisah itu wajib luar biasa”. Beliau melengkapi pernyataan tak biasa itu dengan contoh yang gurih-renyah. Dengan gayanya yang khas, Beliau berdiri, jalan tekap, irama sepatu boot besar hitamnya serasi mengiringi warna suaranya. Beliau berkisah.  

“Banyak pengarang menulis kisah Cinta Segitiga. Jika di dalam kisah itu menempatkan tokoh satu gadis cantik dengan dua pria tampan dan kaya, itu kisah yang biasa dan basih. Namun, ketika salah satu tokoh sengaja digantikan profilnya oleh pengarang, semisal ada gadis cantik menjalin cinta dengan pria tampan yang kaya dan juga Om Tukang ojek yang kemomos serta sengsara baik secara fisik maupun finansial. Dan pada akhir kisah itu, si gadis tercantik itu justru lebih memilih Om Tukang ojek daripada pria tampan dan kaya itu. Pengarang harus bisa memaparkan alasan tentang pilihan itu. Contohnya: Pada dasarnya setiap perempuan hanya membutuhkan tiga hal dari ritual romantismenya, yaitu pengertian, kenyamanan, dan pengakuan. Ketiga hal itu ia temukan secara tulus dari Om Tukang ojek bukan dari pria tampan dan kaya itu”.

Mendengar cara pandang dengan alasan itu, semua kaum hawa di dalam ruang perkuliahan serentak berekspresi sepakat sambil mengangguk-angguk dan sesekali berbisik “benar Pak”. Suasana kelas kami selalu ramai terarah, kami bahkan sudah merdeka belajar sebelum program ini booming.  

Persoalan lain yang muncul sebagai kendala penulis sebagai pencipta adalah pengakuan bahwa sangat sulit memulai kalimat pertama dalam proses menulis. Saya juga pernah mengalaminya. Namun, bergerak dari pengetahuan yang pernah saya peroleh dari Pak Marsel Robot, saya menggantikan kalimat pertama dengan bukan ujaran melainkan tanda baca titik-titik. Ini hadir sebagai implementasi bagaimana mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Saya memulai dengan kalimat kedua, mengawalinya dengan konjungsi sebab kalimat pertama hanyalah deretan tanda titik.

Kemudian, mengembalikan kebersamaan itu dalam ingatan adalah luka dalam jiwa dan memilih menciptakannya lagi adalah lelah dalam kalbu”. Kata Nome mengiringi pulangnya mentari ke peraduannya. Jingga yang perlahan menjadi hitam. Sejuk yang sekejap menjadi dingin, seakan turut merasakan betapa perih luka yang berdarah dan bernanah pada ruang rasanya. 

….

Pada akhir kisah itu, saya menulis “Inilah adalah kisah dengan tanpa kalimat pertama”. Sehingga, judul karya itu adalah “Tanpa Kalimat Pertama”. Berani berbeda baik dari sudut pandang dan model penulisan menjadi tanda bahwa penulis merupakan pencipta.

Selain itu sebagai pencipta, penulis berkebebasan untuk merekayasa imajinasi. Dengan mengubah makna simbol atau lambang yang lazim menjadi tak biasa. Misalnya, warna hitam identik dengan ‘kejahatan’ dan putih identik dengan ‘kebaikan’. Pada karyamu justru terbalik, putih yang jahat sedangkan hitam yang baik. Bisa juga dengan warna lain. Semisal, biru ‘setia’, kuning ‘cemburu’ dapat diubah tentuk dengan penokohan dan konflik dalam tulisan yang logis.

Kekuatan penulis sebagai pencipta terbentuk dari empat aspek, yaitu pengalaman batin, kepekaan terhadap realitas kehidupan, kekayaan bahasa, dan berani berbeda. Ke empat aspek ini jika dikolaborasikan secara kreatif akan menciptakan “tikaman jiwa”bagi setiap pembacanya.      

Penulis sebagai Pengembara

Para ahli sastra mengatakan bahwa, karya seni tidak berangkat dari kekosongan. Artinya, cikal bakal karya seni itu termasuk sastra merupakan refleksi dari kenyataan (dalam Thahar: 2008:29). Selain refleksi dari kenyataan yang menempatkan penulis sebagai perekam realitas, terdapat juga kemungkinan-kemungkinan yang diprediksi, yang menjadikan penulis sebagai pengembara realitas kehidupan.

Pada tahun 1865, penulis Prancis Jules Verne menerbitkan novelnya From the Earth to the Moon, ia menggambarkan sebuah senjata luar angkasa besar yang bisa meluncurkan proyektil langsung ke bulan. Lebih dari seabad kemudian, pesawat luar angkasa Apollo 11 mendarat di Bulan. Uniknya, jumlah orang yang diberangkatkan sama persis. Penulis bahkan berhasil meramalkan perasaan yang akan dialami astronot saat berada di luar angkasa.

Edward Bellamy dalam novel Looking Backward yang terbit pada tahun 1888, secara akurat meramalkan penggunakan kartu kredit. Tokoh utama novel ini, Julian West, jatuh tertidur pada tahun 1887 dan terbangun dalam masyarakat utopia pada tahun 2000. Pada masyarakat baru itu, setiap orang diberi jumlah kredit sama yang dapat digunakan secara global untuk membeli barang. Masih ada contoh lain seperti internet, headset bluethooth, teknik pembekuan mayat, dst.

Dengan dekimian, penulis tidak sekadar mengalami peristiwa agar karyanya mendekati realitas. Penulis bisa saja menciptakan peristiwa bahkan menciptkan realitas yang akan terjadi. Sebab, kekuatan pengalaman batin, kepekaan terhadap realitas kehidupan, kekayaan bahasa, dan berani berbeda akan menempatakan penulis pada posisi pencipta sekaligus pembembara. (*)

Sumber Bacaan

Aqib, Zainal. 2021. Teori & Praktik Menulis Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Yrama Widya

Nuhayati, Enung. 2019. Cipta Kreatif Karya Sastra. Bandung: Yrama Widya

Purba, Antilan. 2010. Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu

Thahar, Harris Effendi. 2008. Kiat Menulis Cerita Pendek. Bandung: Angkasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here