Menilai Lomba Musik Para Calon Guru Musik Unwira

0
137
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., Guru Seni Budaya, Ketua Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI)

Pementasan seni, perlombaan seni, atau pun festival seni tentunya menjadi suguhan yang selalu menarik, selalu ditunggu-tunggu, bahkan selalu menjadi ajang untuk melampiaskan kreativitas seorang seniman, dimana eksistensi sebagai pekerja seni benar-benar tergambar dalam tiap sajian karyanya. Entah seni musik, tari, rupa, drama atau teater, pun seni sastra, akan menjadi baru di tiap panggung, tentu dengan balutan dan polesan komposisi khas para seniman tersebut.

Hari Sabtu, 2 Juli 2022, saya berkesempatan menjadi juri pada salah satu ajang lomba musik yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Pendidikan Musik, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Dulu prodi ini bernama SENDRATASIK (Seni, Drama, Tari, dan Musik). Saat ini nomenklaturnya sudah diubah menjadi Pendidikan Musik. Mungkin mempertimbangkan musik sebagai basis pendidikan, pun kesenian lainnya.

Tak tanggung-tanggung, tiga (3) mata kuliah dilombakan (diuji) sekaligus, yakni Manajemen Pementasan Seni, Ansambel Musik Sekolah, dan juga Paduan Suara. Sebagai alumnus, saya merasa bersyukur, ini sebagai sebuah inovasi dari almamater untuk terus memberikan ruang ilmiah-akademik bagi para mahasiswanya. Bahwa, sesungguhnya, di ‘lapangan’ (sekolah) nantinya, teori yang didapatkan dari kampus berkisar 50%-an saja yang dipakai, selebihnya adalah proses demi proses yang mereka lalui dalam tiap latihan praktik sebagai aplikasi dari teori-teori yang dipelajari.

Seperti biasa, saya selalu berusaha hadir tepat waktu ketika pada surat undangan juri menuliskan jam tertentu. Ini memang keseringan yang terkadang menjadi keletihan, ketika acara bisa molor hingga dua bahkan tiga jam berikutnya. Celah ini tentunya menjadi peluang, sebagai bahan evaluasi dewan juri, terkhusus menyoal manajemen pementasan seni, yang tentu mesti diolah dan dikelola dengan tepat.

Untungnya saya memakai baju bertuliskan “Jalan Pagi” (pemberian sahabat saya, Saverinus Suhardin, penulis/pegiat #JalanPagi), memang sebagai wujud sabda yang mesti menggerakkan semua orang untuk bangun pagi, kerja pagi, giat pagi. Pokoknya pagi. Intinya pagi. Apalagi bagi para guru dan calon guru. Pagi adalah saat dan pagi adalah kunci dari semua proses kreativitas untuk memajukan pendidikan seni di bumi ini. Seperti ada ketabahan ketika memakai baju ini; begitu gumam saya dalam hati.

Pelajaran Seni Budaya tidak Penting

Sub judul ini adalah hasil rekaman yang sering saya dengar ketika hampir 10 tahun menjadi guru Seni Budaya. Di beberapa sekolah, di beberapa tempat, di beberapa ajang, selalu mendengar celoteh bahwa pelajaran Seni Budaya adalah pelajaran ‘nomor 2’, bahkan 3, bahkan 4, mungkin 10 ataupun 20. ‘’itu tidak penting…ko hanya pelajaran kesenian sa ju…”. Ada 3 kesimpulan besar yang ingin saya ramu dari celoteh seperti ini. Dan ini merupakan situasi pelik Pendidikan di NTT yang selalu menempatkan pelajaran kesenian menjadi ‘belum’ berarti.

Pertama; ketiadaan guru Seni Budaya di sekolah bersangkutan. Hal ini dikarenakan ketersediaan guru Seni Budaya pada sekolah-sekolah di NTT masih minim. Sebut saja di Kota Kupang (ibu kota Propinsi), masih ada juga sekolah-sekolah yang belum memiliki guru Seni Budaya. Ini bisa jadi benar celotehan itu, memang Seni Budaya tidak penting, karena guru saja tidak ada. Alhasil, guru-guru yang bukan basic Seni diminta untuk mengajarkan materi Seni, dan seperti adegan-adegan formalitas yang terjadi; yang penting nyanyi-nyanyi, yang penting menari-menari, yang penting selesai, intinya tuntas. Padahal, Seni juga adalah ilmu pengetahuan yang mesti diajarkan oleh ‘ahlinya’.

Kedua; kesadaran manajemen sekolah, baik kepala sekolah, sampai jajaran para guru masih punya cara pandang, bahwa memang pelajaran Kesenian hanyalah sebagai tambahan. Tidak terlalu penting. Terkadang hanya bikin ribut. Menyita waktu sekolah anak-anak. Paradigma seperti ini memang susah diubah, walaupun di sekolah tersebut sudah ada guru Seni Budayanya. Maka pelajaran Seni Budaya tersebut menjadi terhimpit dan tak berkembang, pada akhirnya gurunya pasrah dan menyerah; memang tak penting, karena tidak adanya dukungan manajemen sekolah.

Ketiga; adalah karena ‘ulah’ si guru Seni Budaya yang tidak ingin ambil pusing dengan pelajarannya. Sebatas teoretis, tahun ganti tahun, kurikulum ganti kurikulum, tak ada perkembangan, tak mau sibuk urus PENSI ataupun lomba ataupun festival lainnya. Nah, keadaan ini justru lebih ‘sadis’ dari dua kasus sebelumnya di atas. Apalah jadinya jikalau gurunya tak mau peduli dengan masa depan pelajarannya? Ini sering terjadi. Ada. Masih banyak.

Beberapa Catatan

Balada ketiga kisah di atas, saya sampaikan ketika memberikan evaluasi sebelum pengumuman kejuaraan perlombaan. Saya lebih memilih sikap memberikan masukan lain di luar hal teoritis, karena saya berkesempatan menjadi juri bersama beberapa bapak-ibu dosen pengampu mata kuliahnya. Saya sudah ‘memendam’ kisah ini untuk harus disampaikan kepada para mahasiswa peserta lomba yang memang adalah para calon guru-guru Seni Budaya masa depan.

Mengisahkan fakta bahwa pelajaran Seni Budaya masih dianggap tidak penting di lingkungan sekolah saat ini. Lalu, ke manakah arah mereka nantinya ketika jadi guru? Artinya apa yang bisa dilakukan untuk membalikkan keadaan tersebut, bahwa pelajaran Seni Budaya adalah sama pentingnya dengan pelajaran lainnya di sekolah. Di makanakah posisi para calon guru ini?

Proses adalah salah satu momen yang mesti digelut. Proses sebagai suatu rangkaian yang dilakukan terus menerus (Siagian, 1994: 114). Bahwa dalam tiap proses latihan untuk perlombaan, para mahasiswa yang adalah calon guru, mesti benar-benar mengalami dan mengilhami tiap aplikasi dari ragam teori yang diterima. Bahwa dalam proses, itu seperti sedang mengalami melatih dan mengajarkan hal yang sama kepada para peserta didik nantinya.

Proses yang kuat dan tahan uji, akan menanamkan bibit yang mampu tumbuh melebihi ukuran pohon tertinggi, tak terbatas, dan tentu menghasilkan banyak dan ragam buah, diluar ekspektasi. Jika prosesnya benar, terus-menerus, maka akan melahirkan guru-guru Seni Budaya yang nantinya berbeda dan akan dibutuhkan di tempat nanti ia berkarya. Hasil tak akan mengkhianati proses. Yang berposes dengan benar akan menerima dampak, kuat, kreatif, inovatif, dan juga progresif.

Pertanyaan lanjutan, apakah guru tipe seperti ini tidak disenangi oleh lingkungan tempatnya mengabdi? Apakah pelajaran yang ia ajarkan nanti tidak disukai oleh warga sekolahnya? Apakah menjadi tak penting lagi? Tak mungkin. Mulanya biasa saja, akan berakhir dengan luar biasa.

Catatan Tambahan; Kegundahan Klasik Tiap Perlombaan

Kegundahan klasik yang sudah tentu menjadi kegelisahan tiap perlombaan atau pun festival Seni adalah problem tentang sound system. Masalah ini saya jadikan catatan khusus. Sebenarnya bukan hanya untuk kasus diajang ini, tetapi pada tulisan-tulisan sebelumnya di ajang lain, bahwa kualitas sound system untuk urusan pagelaran seni selalu dan selalu, terus dan terus kacau. Kunci sebenarnnya adalah mesti infrastrukturnya dikelola oleh sound man yang tepat dan sesuai bidang keahliannya.

Tentu, untuk pengaturan sound manajemen mesti dipilah dengan teliti, antara menangani hajatan pesta ataupun kondangan, dan menangani paduan suara, ataupun menangani anasambel musik, pengelolaan sound manajemen mesti berbeda. Tidak bisa dicampur-aduk, kekuatan dan kestabilan bunyi tentu sangat berbeda. Penggunaan merek microphone juga tentu berbeda. Penataan dan penempatan stand mic pun berbeda. Ini tentu jadi soal yang unik, ketika ‘menyama-ratakan’ semuanya dengan dalil bahwa yang penting bunyi. Ya, alhasil memang tak berbunyi, hanya menambah kegaduhan karena timbul soal lain, ekspresi lain, dan juga kepanikan lainnya.

Dugaan sementara saya, proses gladi resiknya tidak dilakukan dengan baik. Ada anggapan bahwa gladi resik hanya untuk tes panggung dan ukuran formasi yang dikreasikan. Dan biasanya sound manajemen jarang menempatkan semua kebutuhan peralatan sound-nya untuk dicoba dan disesuaikan masing-masing kebutuhan para penampil. Ini awal petaka. Kebiasaan klasik, semua peralatan sound system hanya ‘diturunkan’ saat hari pementasannya. Bencana pun tak mungkin dihindarkan. Komposisi musik ataupun paduan suara yang sudah matang dipersiapkan, digagalkan hanya karena produksi bunyi pada sound system yang tersendat bahkan terputus dengan meninggalkan bunyian pada satu dua alat music tertentu saja.

Guru adalah Kunci

Gambaran semua kisah pada tulisan ini sebenarnya bukan hanya sebagai evaluasi pada tataanan perlombaan ini. Sebenarnya ini menjadi pesan umum untuk semua guru dan juga calon guru pelajaran Seni Budaya di tiap sekolah. Catatan ini menjadi bahan reflektif, bahwa memang guru adalah kunci.

Dalam konteks kurikulum Merdeka Belajar, yang menyatakan guru sebagai fasilitator, justru semakin menempatkan posisinya menjadi lebih sentral sebagai seorang problem solver, yang akan menjembatani geliat kreativitas dari anak-anak (peserta didik) milenial yang sudah ‘bergaul’ dengan era seni kontemporer yang sangat maju.

Guru akan menjadi fasilitator yang baik, bila mana dalam tiap proses persiapan profesinya, adalah mereka yang benar benar patuh pada proses, terus menerus, tahan uji, demi buah yang baik. Mampu menganalisa dan memproduksi sebuah pementasan dengan sebaik-baiknya, memilah, mengatur, sampai pada me-manage dengan rapih. Tak hanya soal bunyi, tetapi juga soal waktu, soal urusan artistik dan non artistik, soal motivasi untuk menjadikan seni sebagai alat pendidikan guna membentuk karakter, memajukan peradaban.

Guru akan menjadi fasilitator yang baik bilamana ia berliterat, belajar terus, long life education. Mari terus sama-sama belajar. When I teach you, I teach my self! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here