Temu Sastra, Upaya Meningkatkan Roh Kedaerahan dalam Perkembangan Sastra Indonesia

0
42
Temu Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang digelar secara hibrida di Purwekorto, Kamis (28/7/2022).

Purwokerto, SEKOLAHTIMUR.COM — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura), Universitas Islam Negeri K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) menggelar kegiatan Temu Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang bertema “Roh Kedaerahan dalam Pertumbuhan Sastra Indonesia”.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Muhammad Abdul Khak menyampaikan bahwa perkembangan Mastera murni terkait urusan kreatif dunia kesastraan. Menurutnya, ke depan Indonesia akan menginternasionalkan bahasa Indonesia. Hingga kini sebanyak 50 negara telah membuka jurusan atau program studi (prodi) Bahasa Indonesia selain lembaga-lembaga kursus, serta lebih dari 150 lembaga juga sudah mengajarkan bahasa Indonesia.

“Saya kira ini harus kita dukung sebagai upaya pemerintah juga beberapa lembaga swasta yang mengajarkan bahasa Indonesia sehingga Mastera ini mulus berjalan tanpa hambatan,”ujar Abdul Khak dalam acara yang digelar secara hibrida di Purwekorto, Kamis (28/7/2022).

Selain itu, disampaikan Abdul Khak bahwa unsur kedaerahan sangat mewarnai pertumbuhan sastra Indonesia sehingga mesti terus dijaga. “Melalui Temu Sastra ini, semangat kedaerahan dalam keindonesiaan dapat menjadi pendorong para sastrawan muda untuk kembali menggali akar tradisi sebagai latar proses kreatif dan penciptaan karyanya,” imbuh Abdul Khak.

Lebih lanjut Abdul Khak juga mengajak para peserta yang hadir agar turut menyumbangkan kosakata daerahnya masing-masing untuk diajukan sebagai bahasa Indonesia. “Silakan bapak, ibu, siapapun dari masing-masing daerah berkesempatan menyumbangkan kosakata daerahnya untuk menjadi pengaya kosakata bahasa Indonesia. Ke depan tentu bahasa Indonesia akan menjadi bahasa yang berbeda sekali dengan bahasa Melayu,” ajak Abdul Khak.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UIN Saizu, Muhammad Roqib menjelaskan bahwa dalam upaya mengembangkan program sastra, UIN Saizu akan membuka prodi baru di bidang bahasa yaitu prodi pendidikan bahasa Indonesia yang nantinya akan berkembang menjadi prodi bahasa dan sastra. Lebih dari itu, sebagai upaya pengembangan sastra dalam konteks lokalitas di daerah, ada perkumpulan rutin sastrawan lokal dari wilayah Banyumas raya.

“Untuk menginternasionalisasi bahasa Indonesia di tingkat yang lebih luas maka kita menggunakan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura). Selain itu, kami juga melakukan pengembangan lokalitas seperti istilah penginyongan,” tutur Roqib.

Menyambut baik kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh LK Nura sebagai salah satu lembaga baru di lingkungan UIN Saizu, Roqib mengungkapkan terima kasih kepada Badan Bahasa. “UIN Saizu berterima kasih kepada Badan Bahasa karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berbuat lebih banyak dalam mengekspresikan apa yang kita miliki. Harapannya sesuai yang sudah disepakati yaitu untuk maju dalam rangka membawa sisi budaya lokal penginyongan Jawa Tengah bagian barat,” terang Roqib.

Selanjutnya, diungkapkan Roqib, kegiatan ini menjadi realisasi dari Perjanjian Kerja Sama yang telah ditandatangani awal tahun 2022 dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek ,serta Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. “Kami berharap UIN Saizu dapat menjadi kampus yang mewadahi serta mengembangkan warna lokalitas, khususnya penginyongan, dalam khazanah sastra di Indonesia,” tutur Roqib.

Sementara itu, Ahmad Tohari, budayawan dan penulis sastra asal Banyumas, menyampaikan gagasannya seputar lokalitas dan perannya dalam karya sastra. Menurutnya, sejak dulu hingga kelak di masa yang akan datang, warna lokalitas kedaerahan merupakan hal yang akan selalu tumbuh dalam dunia sastra Indonesia. “Karyanya yang melegenda misalnya, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah contoh nyata. Selain itu, ada sederet nama penulis senior hingga penulis muda di zaman kiwari yang masih setia mengangkat tema-tema kedaerahan,” jelas Tohari.

Heru Kurniawan, dosen UIN Saizu sekaligus penulis, juga membahas sastra anak dan tema lokalitas yang berjarak. Dari sudut pandangnya, salah satu persoalan yang muncul di dunia sastra anak di Indonesia adalah tidak berbasis pada estetika lokalitas tetapi berorientasi pada pragmatisme edukatif.

Dalam acara turut hadir Dimas Indiana Senja, alumni Program Penulisan Mastera, yang membahas persoalan kedaerahan dalam dunia para penulis muda. “Kaum muda punya sisi yang amat kontradiktif, antara lagu-lagu dengan bahasa daerah yang mereka simak dan pilihan tema yang mereka pilih jauh dari tema lokalitas,” ungkapnya.

Kegiatan ini dilakukan secara hibrida di auditorium perpustakaan UIN Saizu dan diikuti oleh 300 orang peserta yang terdiri atas sastrawan, dosen, serta mahasiswa dari beberapa universitas di Purwokerto, Jawa Tengah. Selain itu, kegiatan ini juga disiarkan langsung melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube uinsaizu_official. (kemdikbud.go.id/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here