PESPARANI dan “Singing Don’t Worry” Bob Marley

0
400
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., Guru Seni Budaya, Ketua Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI)

Gelaran Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik II Tahun 2022, Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur telah usai. Dengan membawa pulang banyak kisah dan kasih yang mengisi ruang giat yang serba melelahkan (kekurangan), akhirnya membawa harapan baru. No glory, without sacrifice, itulah yang terus ‘dinyanyikan’ Gubernur Nusa Tenggara Timur, sewaktu berkesempatan menutup gelaran akbar tersebut.

Persoalan pelik, tentang urusan ‘pendanaan’, menjadi konsentrasi yang rumit untuk dipecahkan. Kening terus berkerut, jantung terus berdebar, dan hati terus diarahkan pada ‘mukjizat’ penyelenggaraan Sang Ilahi. “Akhirnya jadi juga, e…”, cetus OmRemus Fernandez, ketika asyik menonton peserta dan panitia bergoyang ria selepas acara penutupan.

Balada PESPARANI

Balada dimaknai sebagai sebuah kisah yang mengharukan. Sangat tepat, bila memang PESPARANI adalah sebuah balada, karena mengandung dan mengundang sejuta pertalian makna. Diawali dengan keraguan akut para panitia pelaksana, sampai pada singing don’t worry-nya Bob Marley, yang dikumandangkan oleh Prodi Pendidikan Musik UNWIRA Kupang.

“PESPARANI harus jadi. Tuhan tidak akan terlambat menolong kita,” ujar Ketua LP3KD Nusa Tenggara Timur, Bapak Frans Salem, ketika menyulutkan gelora semangat bagi panitia pelaksana. Keraguan panitia pelaksana mulai sedikit demi sedikit menemui harapan cerah nan ceria, ketika ‘berjuta’ sumbangan para donator mulai ‘mengalir’. Satu per satu datang. Seperti hembusan bayu senja yang membawa biduk ke tepian cerah. Berlayar pada arus deras. Kapal oleng. Namun angin membantu. “Gusti Ora Sare”, sebuah falsafah Jawa yang kerap diucapkan Ahok pada masa ‘krisis’ suasana ibu kota beberapa tahun silam. Dan pada akhirnya, Tuhan tidak pernah tidur (diam) dalam membantu umat-Nya.

Singing Don’t Worry

Sebuah lagu berjudul Three Little Birds, yang diciptakan Bob Marley, turut beri warna dalam sajian balada PESPARANI. Lagu ini menceritakan tentang tiga burung kecil yang tak henti berkicau di hari pagi, menyanyikan lagu-lagu yang indah, dengan melodi yang murni dan teratur (benar) sebagai pesan ketika memulai tiap aktivitas di pagi hari. Pesannya sederhana; “singing: don’t worry about a thing, cause every little thing gonna be all right…’’. Bernyanyi: jangan mengkhwatirkan suatu hal sekalipun, karena setiap hal kecil akan baik-baik saja.

Bingkisan syair ini sangat kuat, seakan akan Bob Marley memberi pesan reflektif bahwa (hanya) dengan bernyanyi (bermusik) semua hal (masalah) akan kelihatan kecil dan baik-baik saja. Pesan ini disampaikan oleh tiga burung kecil yang setiap pagi bernyanyi, dan memberikan pesan berantai, hari lepas hari, agar umat manusia juga ikut bernyanyi (bersukacita) dalam tiap memulai aktivitas tiap harinya.

Apakah bernyanyi adalah sebuah bentuk komunikasi musikal yang memang terus dilakukan tiap orang, yang melahirkan emosi baru untuk memulai aktivitasnya? Musik sering dikatakan memiliki kekuatan dalam komunikasi emosi (Meyer, 1956). Emosi, jika dikaitkan dengan suasana batin pada situasi tertentu, dengan rujukan pesan lagu Three Little Birds, sebetulnya mengabarkan sebuah harapan baru, bahwa memang musik, yang sebagian diwakilkan pada harmonisasi indah para peserta lomba, memang mengandung ‘perintah’ untuk selalu bersukacita dan segera melupakan (memperbaiki) tiap ruang kosong pada peluh dan kekhawatiran akut gelaran ini.

Musik yang Menyembuhkan

Kahlil Gibran pernah menulis: “Musik adalah bahasa Roh. Itu membuka rahasia”. Ini memberi satu peluang bahwa, ketika manusia mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan musik, kidung dan nyanyian-nyanyian, akan ada nilai kebaikan (penyembuhan) yang mengikutinya. Karena musik dan syair memberi peran ‘menyembuhkan’. Musik bagi jiwa, kata-kata bagi pikiran (Modest Mouse). Tak ada waktu untuk ragu dan berhenti. Saat kata-kata berhenti, musik dimulai (Heinrich Heine). Karena ketika kita menghentikan aliran musik, itu seperti menghentikan aliran waktu itu sendiri (Aaron Copland).

Peluang terakhir yang bisa dimaknai dari riuhnya gelaran PESPARANI Katolik II Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur ini adalah; memaknai tiap alunan musik dan syair sebagai sebuah kebutuhan pokok dalam otak dan jiwa, yang bisa membangkitkan, mengubah, dan memberi kepastian bahwa alam semesta mendukung tiap aktivitas (gelaran) bermusik. Musik di dalam jiwa dapat didengar oleh alam semesta (Lao Tzu).

Teruslah bermusik. Bernyanyi dan bersukacita. Karena musik adalah musik itu sendiri! “Singing: don’t worry about a thing, cause every little thing gonna be all right…’’ (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here