“Milk Moringa” Bantu Tekan Stunting di NTT

0
76
Pose bersama Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Kupang, Tamran Ismail, S.Si., MP., dan Pelaku UMKM sekaligus kepala rumah produksi Mimo, Citra Masniary Bramawidjaya.

Kota Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Salah satu pelaku UMKM binaan Dekranasda NTT berhasil memproduksi “Milk Moringa” (Mimo), susu bubuk dari daun kelor. Selain untuk meningkatkan protein, nutrisi dan gizi, produk tersebut diharapkan dapat membantu mencegah masalah stunting di NTT.

Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, saat berjumpa dengan awak media pada Jumat (06/01/2023) di rumah produksi Mimo, mengungkapkan keinginannya agar produk tersebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yang lebih luas.

“Citra merupakan salah satu pelaku UMKM yang kita fasilitasi dalam program heigth drink berupa kelor tersebut. Lalu, dia juga selama ini yang terus menggelutinya dan selalu kerja sama dengan kami. Dan inovasi ini adalah susu kelor,” ungkapnya.

“Saya minta Citra jangan berhenti di susu kelor saja, tapi juga ada inovasi-inovasi yang lain lagi. Tidak boleh juga hanya stagnan sampai di pabrikan saja. Supaya produk dari kapsul kelor kita, susu kelor kita, dari mie kelor kita. Semua produk kita ini yang mau saya perjuangkan supaya masuk di PMT (Pemberian Makanan Tambahan) nasional, sebab tidak hanya produk dari luar saja melainkan juga ada produk dari dalam negeri dan salah satunya dari NTT yaitu kelor,” lanjutnya.

Julie Laiskodat juga mengharapkan agar produk tersebut yang merupakan hasil dari kekayaan alam NTT dapat membantu menekan angka stunting dan juga meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kalau saya sebagai ketua Dekranasda punya beban, untuk supaya bagaimana stunting tersebut bisa kita berantas dan bisa kita cegah. Selama ini, produk-produk yang ada untuk menangani stunting itu nota benenya adalah produk-produk dari luar. Saya mau tidak hanya ketahanan kesehatannya, tapi ketahanan ekonominya juga dapat, karena potensi kita luar biasa. Tapi kita butuh orang untuk berkolaborasi menjadikannya sebuah end produk,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Kupang, Tamran Ismail, S.Si., MP., menyampaikan, produk susu memiliki kadar resiko yang cukup tinggi, oleh sebab itu sangat dibutuhkan izin operasionalnya. Selain itu, Balai POM  juga dapat memfasilitasi pelaku UMKM dengan pihak industri.

“Yang paling penting adalah harus memenuhi persyaratannya untuk mendapat izin, Karena ini produknya beresiko tinggi, karena mengandung susu. Oleh sebab itu harus terdata di Balai POM. Salah satunya harus ada informasi nilai gizinya untuk perlindungan kesehatannya,” ungkapnya.

“Kami di Balai POM punya program, namanya orang tua asuh. Orang tua asuh itu merupakan kerjasama Balai POM dengan industri besar yang ada di Jawa. Jadi, kita akan menghimpun UMKM yang ada di NTT untuk bisa dibantu,” tandas Tamran Ismail.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa produk Mimo tersebut mempunyai kandungan protein yang cukup untuk tumbuh dan kembangnya anak serta bisa juga untuk mencegah stunting.

“Proteinnya cukup tinggi, yaitu 10%. Kalau proteinnya di bawah 4% itu tidak bisa masuk di produk susu. Jadi, di sini proteinnya cukup bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Dan dengan komposisi seperti ini sangat bisa sekali untuk pencegahan stunting,” ujarnya.

Pelaku UMKM sekaligus kepala rumah produksi Mimo, Citra Masniary Bramawidjaya menyampaikan, terima kasih atas dukungan dari Dekranasda dan Balai POM sehingga Mimo bisa diproduksi serta mencukupi nutrisi anak-anak.

“Semua ini tidak terlepas dari dukungan yang luar biasa dari Bunda Julie. Awalnya kami cuma manual saja, yaitu susunya dimasak, tapi karena susu sapi di sini terbatas, saya didampingi BPOM dalam program anak angkat dan bisa bertemu dengan Frisian Flag dan di situ juga dapat solusi untuk terus memproduksi susu untuk anak-anak agar nutrisi gizinya tercukupi, terlepas dari keterbatasan susu sapi yang kita miliki,” ujarnya.

“Saya juga bersyukur karena saat ini Mimo bisa dilounching dengan informasi nutrisi yang lengkap dan cukup untuk memenuhi kebutuhan anak NTT, mungkin juga di Indonesia atau boleh saya berharap bisa sampai ke manca negera,” lanjutnya. (Yosi Bataona/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here