Jika Seorang Guru Ingin Memonolog, Ruang Kelas Bukan Panggungnya

0
468
Oleh E. Nong Yonson, Penulis buku "Dosa Sang Penyair", Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Ruang kelas semestinya menjadi tempat perjumpaan yang menyenangkan. Diskusi akademik yang luwes, kedekatan emosional yang nyaman, harmonisasi tanpa kekhususan, dan kolaborasi kreativitas serta inovasi proyek yang berdampak. Uniknya, banyak ruang kelas hanya diterjemahkan sebagai gedung yang mempertemukan peserta didik dan guru dengan rutinitas yang menyebalkan, yaitu pengajaran.  

Pengajaran termasuk dalam kategori aktivitas yang membosankan. Sebab, pengajaran menempatkan seseorang sebagai pusat atau satu-satunya pengendali yang aktif berfungsi. Pusat pengajaran sudah pasti adalah guru itu sendiri (teacher centre). Sedangkan, peserta didik secara sengaja diposisikan sebagai penerima yang pasif-komunikatif dan juga tidak dibiasakan untuk bernalar kritis-interaktif.   

Semestinya, yang dilakukan di dalam ruang kelas bukan pengajaran tetapi pembelajaran. Perbedaannya adalah pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai pusat atau inti (students centre) sementara guru sebagai fasilitator. Dalam KBBI, fasilitator didefinisikan sebagai penyedia fasilitas. Jika dikaitkan dengan konsep belajar mandiri, maka fasilitator tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan tetapi lebih bersifat sebagai pendukung atau pelengkap.

Selalu ada dua pertanyaan yang muncul, ketika persoalannya merujuk pada suasana kelas yang menyebalkan dan membosankan. Kotroversi pertanyaan itu, yakni “Apakah peserta didik yang pasif? Ataukah Guru yang tidak kreatif?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, menempatkan guru dan peserta didik untuk saling menghakimi.

Pasif dan tidak kreatif adalah dua aspek yang menjadi jawaban andalan guru dan peserta didik untuk meloloskan diri. Ketika sasaran pertanyaan tertuju pada peserta didik, “Mengapa Anda pasif di kelas?” Jawabannya adalah “Guruku tidak kreatif”. Ketika pertanyaan diarahkan pada guru, “Mengapa Saudara tidak kreatif?” Jawabannya adalah “Peserta didiklah yang pasif”. Keduanya melempar batu sembunyi tangan. Meskipun sisa tanah dari batu-batu itu masih membekas jelas pada tangan mereka.

Untuk mengatasi permasalahan ’lempar batu sembunyi tangan’ ini, ubahlah pertanyaan itu menjadi “Sudahkah Saudara menikmati peran sebagai guru dalam ruang kelas?”. Pertanyaan yang mengejutkan sekaligus menutup ruang pembelaan ini, akan mengantarkan guru pada permenungan tingkat tinggi. Kontemplasi ini merupakan cermin bagi setiap guru untuk berkaca. Merefleksikan perannya dalam ruang kelas, mengevaluasi fungsinya dalam pembelajaran (students centre).

Inti Ruang Kelas

Terdapat komponen penting yang menjadi inti dari ruang kelas yang terlupakan. Selama ini, ruang kelas hanya merujuk pada kursi, meja, alat tulis, guru, dan peserta didik. Padahal, ruang kelas terbagi atas dua, yaitu secara fisik dan psikologis. Secara fisik, sudah jelas diurutan seperti di atas. Namun, secara pisikologis adalah yang terlupakan dan mungkin saja tak terhitung.

Ruang kelas secara psikologis berkaitan erat dengan ketenangan jiwa dan kenyamanan hati peserta didik dan guru. Suasana inilah yang disebut Ki Hadjar Dewantara sebagai ‘taman belajar yang membahagiakan’. Pertanyaannya, “Bagaimana menciptakan ruang psikologis ini?”.

Ketenangan adalah suasana yang tidak berpeluang menciptakan kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, dan ketegangan. Kenyamanan terbentuk dari kedekatan emosional yang bersifat resiprokal (timbal-balik). Ruang psikologis seperti inilah yang semustinya diciptakan, ditumbuhkembangan, dan dibiasakan. Taman belajar yang membahagiakan akan terwujud dengan cara ini. Indeks kebahagiaan peserta didik akan melejit dengan metode ini. Sebab, inti dari ruang kelas adalah ketenangan jiwa dan kenyamanan hati. Bukan tentang seberapa banyak pendingin ruangan untuk mengatasi kepanasan, juga kemewahan fasilitas untuk memanjakan peserta didik dan guru.

Peran Guru

Guru adalah seseorang yang matang secara emosional, mantap secara intelektual, dan mampu berinovasi untuk berdampak. Pada taman pembelajaran, guru berperan dalam hal mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi, dan bahkan berkolaborasi dengan peserta didik. Sudahkah guru menikmati perannya dalam ruang kelas seperti ini?

Lagi-lagi pertanyaan ini mengajak guru untuk merenung dan membedah kebiasaan masing-masing. Mengajar, menilai, dan mengevaluasi adalah peran guru untuk memantapkan peserta didik secara intelektual. Sementara mendidik, membimbing, mengarahkan merupakan peran guru dengan tujuan mematangkan peserta didik secara emosional. Melatih dan berkolaborasi bertujuan untuk berdampak secara bersama-sama. Dua peran guru dalam mematangkan peserta didik secara emosional dan berdampak merupakan bagian yang tak terhitung bahkan terlupakan oleh guru zaman now.  

Bagian inilah yang tidak ditemukan peserta didik pada era pembelajaran digital. Pembelajaran digital hanya fokus pada pengetahuan. Sedangkan, sikap dan keterampilan merupakan alasan mengapa guru masih diwajibkan satuan pendidikan untuk berjumpa dengan peserta didik secara langsung. Peran guru belum dapat tergantikan pada aspek ini. Jika guru tidak melakukan hal ini, apa peran Saudara?

Pertanyaan, “Apa peran Saudara?” merujuk pada profesionalitas seorang guru. Istilah profesional berasal dari bahasa Latin profeus yang berarti ‘menyatakan mampu atau ahli pada bidang pekerjaan tertentu’. Kemampuan dan keahlian itu paling tidak terukur dari tiga hal, yaitu (a) memiliki penguasahaan ilmu dan keahlian untuk menerapkannya; (b) memiliki standar keberhasilan yang diukur oleh kesempurnaan melayani; dan (c) memiliki keterampilan untuk menjalakan praktik (Tokan, 2016: 35).

Taman belajar dalam bentuk ruang kelas dengan suasana psikologis yang menyenangkan hanya mampu diciptakan, ditumbuhkembangkan, dan dibiasakan oleh guru yang profesional. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik harus berperan secara total. Totalitas peran guru tidak boleh terkesan dipaksakan atau direkayasa. Sebab, secara psikologis peserta didik dapat merasakan perbedaannya. Mana yang tulus dan mana yang dibuat-buat.             

Pembelajaran yang Membahagiakan

Setelah mendalami inti ruang kelas dan peran seorang guru, hal penting lainnya sebagai manfaat ruang kelas dan peran guru adalah pembelajaran yang membahagiakan. Prof. Yohanes Surya, seorang fisikawan Indonesia, pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia/TOFI, juga pemerhati pendidikan pernah melakukan hal gila.

Beliau membuat permintaan mengejutkan “Tolong carikan saya anak yang paling bodoh dari Papua”. Untuk membuktikannya, beliau pergi ke Papua mencari murid yang paling bodoh. Paling sering tinggal kelas, tidak bisa menjumlahkan (matematika), pokoknya paling ba’i ngao (paling bodoh) kata orang Kupang.

Mereka dibawa ke Jakarta. Dalam tempo enam bulan, anak-anak itu sudah menguasai pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 SD. Uniknya, terdapat satu anak yang sudah 4 tahun tinggal kelas di kelas 2 SD. Dilatih, dibimbing, dipoles, kemudian menjadi juara nasional untuk olimpiade matematika dan juara lomba membuat robot tingkat nasional. Dengan demikian, beliau menyimpulkan bahwa, “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang belum mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang baik”.

Pembelajaran yang memabahagiakan akan tercipta melalui beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan yang akan dipaparkan berikut merupakan saran dari pemerhati, akademisi, dan praktiksi pendidikan. Baik dari sudut padang psikologi pendidikan, pembelajaran, maupun pelajar. Terdapat banyak saran. Namun, pada tulisan ini hanya difokuskan pada tiga aspek yang menurut penulis menjawab pembelajaran yang membahagiakan.

Peka Terhadap Kondisi Fisik dan Psikis Peserta Didik

Misalnya, peserta didik dalam keadaan lesu dan tidak bersemangat karena terlalu lelah mengikuti apel bendera, kegiatan kesiswaan, atau semacam wejangan. Guru yang cerdas tidak akan memulai dengan diskusi atau tugas akamedik yang serius. Melainkan, memberikan waktu istirahat sejenak dengan beberapa humor atau narasi-narasi kekininan yang mengumpan tawa.

Setelah peseta didik dalam kondisi fisik dan psikis yang segar, bebas dari kelelahan, mengantuk, dan bosan. Pembelajaran boleh dimulai dengan memberi ruang bagi peserta didik untuk menarasikan materi pelajaran sebelumnya dengan bahasa sendiri (apersepsi). Hal ini bertujuan menyamankan dan memberikan gambaran peserta didik untuk tahapan pelajaran selanjutnya. Kondisi fisik dan psikis peserta didik menjadi perhatian serius, sebab faktor keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada aspek ini.    

Memberikan Motivasi Positif

Motivasi berbeda dengan nasihat. Ketika guru mengatakan bahwa “Jadilah anak yang baik, jangan malas belajar, ikuti arahan orang tua dan guru”, hal itu merupakan nasihat. Sedangkan, saat guru mengisahkan kerja keras seseorang pengusaha sampai pada titik menikmati hasilnya dengan bahagia, juga menarasikan buah yang matang dalam waktu berbeda tetapi pada tangkai yang sama dengan alasan yang logis, inilah sebuah motivasi. Motivasi biasanya dinarasikan secara terurut bukan ditegaskan dalam satu frasa atau kalimat.

Motivasi positif juga dilakukan dengan menyebut nama peserta didik pada contoh pembelajaran kontekstual. Namun, nama yang disebut harus dilekatkan pada narasi positif bukan pada narasi negatif. Semisal, jika pelajaran berkaitan dengan pelaku kejahatan, maka jangan menyebut nama peserta didik sebagai pelaku kejahatan itu. sebutlah si A atau si B. Apabila pelajaran berkaitan dengan narasi perjuangan, kerja keras, keberhasilan, dan kesuksesan, sebutlah nama peserta didik di dalam ruangan itu. Mereka akan tersenyum dan mengatakan ‘amin’ dalam hati.        

Berkolaborasi sebagai Tim

Melibatkan peserta didik dalam rencana pembelajaran dan proyek mata pelajaran merupakan cita-cita kurikulum merdeka belajar. Selain, membendung rasa takut peserta didik terhadap gurunya, hal ini juga akan berdampak pada soliditas dan kualitas projek yang dihasilkan. Perlu disadari bahwa, peserta didik jauh lebih cekatan terhadap implementasi aplikasi digital. Bayangkan, bagaimana guru tahun 80-an membuka diri untuk berkolaborasi dari konvesional dan tradisional menjadi modern aplikatif dengan tanpa meninggalkan ciri khas.

Betapa luar biasanya sistem pendidikan di negara ini. Betapa tingginya indeks kebahagiaan peserta didik dan guru di negeri ini, ketika pendidikan dijalankan dengan pembelajaran yang membahagiakan. Sebab benar kata Prof. Yohanes Surya, “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang belum mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan guru yang baik dan metode yang baik”. Berkolaborasilah, berinovasilah, dan bersahabatlah. Pada hakihatnya, ruang kelas bukan panggung bagi guru untuk memonolog.

Sumber Rujukan

H, Mahmud. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia

H, Hughes E, dkk. 2018. Psikologi Pembelajaran: Teori dan Terapan. Bandung: Nuansa Cendikia

Syah, Muhubbin. 2015. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Tokan, P Ratu Ile. 2016. Manajemen Penelitian Guru untuk Pendidikan Bermutu. Jakarta: PT Grasindo                        

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here