Kembali Jadi Mitra Pertamina Foundation, Yaspensi Usung Isu Lingkungan

0
343
Pose bersama usai pembukaan kegiatan “Hananu Sebagai Eco Art” (Pesan Karakter untuk Global Warming), Rabu (1/2/2023) di Sekolah Kasih Karunia Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kab. Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Usai menjadi salah satu pemenang PFmuda 2021 lalu, Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menjadi salah satu mitra Pertamina Foundation dalam ajang Proyek Sosial PFmuda 2022. Pada kesempatan keduanya di ajang nasional ini, Yaspensi mengusung isu lingkungan dalam kegiatan bertajuk “Hananu Sebagai Eco Art” (Pesan Karakter untuk Global Warming) yang digelar pada Rabu – Jumat, 1 – 3 Februari 2023 di Sekolah Kasih Karunia Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Ketua Tim Pengusul sekaligus Ketua Yaspensi, Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., mengungkapkan, menanggapi isu global warming yang menyita perhatian dunia, Yaspensi tergerak untuk menyuarakan kesadaran cinta lingkungan melalui karya seni yang dimotori oleh anak-anak dengan menggunakan pendekatan “Hananu” (bahasa Tetun: bernyanyi).

“Ini kedua kalinya kami berhasil memenangkan Proyek Sosial PFmuda. Sebagai lembaga yang bergerak khusus di bidang pendidikan, kami melihat bahwa anak-anak atau peserta didik belum dilibatkan dalam aksi-aksi untuk menyuarakan cinta akan lingkungan. Untuk alasan inilah kami menggunakan metode ‘Hananu’ (bernyanyi) sebagai aktifitas yang disukai anak-anak NTT,” ungkap Marianus dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan tersebut.

“Pendekatan Eco Art ini baru di NTT. Secara sederhananya Eco Art, bagaimana seni bermanfaat bagi lingkungan. Seni apa pun itu. Anak-anak kalau terus dirasuki dengan hal-hal yang membangun dirinya sendiri, dia tidak akan menampilkan sebuah keindahan saja melainkan juga punya manfaat yang luas, begitupun juga dengan bernyanyi. Kegiatan ini tidak akan habis dalam 3 hari saja, melainkan akan berlanjut. Produk yang dihasilkan yakni buku dan lagu. Inilah yang akan dijadikan sarana atau media kampanye bagi anak-anak,” jelasnya.

Mewakili Yaspensi, Marianus pun menyampaikan terima kasih kepada Pertamina Foundation yang kembali memberikan kepercayaan kepada Yaspensi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Sekolah Kasih Karunia, dan semua pihak yang telah mendukung program tersebut.

Literasi dan Kampanye Cinta Lingkungan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Drs. Imanuel M. E. Buan, M.M., yang hadir dan membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada tim Yaspensi yang telah memikirkan persoalan-persoalan tentang hidup sosial dan lingkungan hidup.

“Tadi saya terkesima dengan apa yang disampaikan oleh pengusung program ini. Mereka bercerita, berdiskusi di kedai kopi. Sulit kita mendapatkan orang yang duduk kemudian berpikir tentang kehidupan ini, berpikir tentang masalah sosial dan masalah lingkungan. Saya kira ini luar biasa,” ujar Imanuel Buan, Rabu (01/02/2023) di Aula Sekolah Kasih Karunia.

Suasana kegiatan di Kelas Cipta Lagu

Lebih lanjut ia menegaskan, kemampuan lietasi memampukan seseorang untuk melihat permasalahan, menganalisisnya dan membuat kebijakan-kebijakan untuk dilaksanakan agar bisa menyelesaikannya.

“Yang menjadi kelemahan di dunia pendidikan adalah lemahnya kompetensi literasi, numerasi dan karakter. Literasi bukan kemampuan membaca, tapi literasi itu kemampuan membaca, menganalisis, membuat kesimpulan-kesimpulan dan kemudian mengambil keputusan serta tindakan dari apa yang kita pelajari. Jadi, bagaimana kita mempelajari sesuatu dan menghubungkannya dengan kondisi di sekitar kita. Kemudian numerasi itu kemampuan menganalisis secara statistik atau matematik untuk mengambil keputusan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kapasitas akademik yang baik harus juga disertai dengan karakter yang baik pula, sebab perkembangan ilmu pengetahuan dapat merusak manusia.

“Kalau kita ajar anak-anak untuk memiliki kompetensi dan kapabilitas yang baik dalam bidang akademik, tapi tidak disertai dengan karakter yang memadai, maka besok lusa ilmu pengetahuan yang menghasikan teknologi bisa dijadikan untuk memusnakan manusia,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Imanuel Buan berharap agar karya lagu dan tulisan yang dihasilkan dari kegiatan tersebut menjadi media kampanye dan sarana bagi anak-anak untuk menyuarakan cinta terhadap lingkungan hidup.

“Isu pemanasan global menjadi menjadi salah satu bahan diskusi di negara-negara G20. Yang dulunya paru-paru bumi ada di Indonesia, sekarang sudah di sulap jadi kebun sawit. Dulu di Oefafi banyak sumber air dan masih terdengar kicauan burung, sekarang tidak ada lagi. Nah kalau tidak ada yang berpikir tentang ini adalah suatu keniscayaan,” ungkapnya.

“Jadi, saya minta kobarkan terus kampanye ini dan ciptakan lagu yang kira-kira bisa menggugah dan menjadi media kampaye agar bisa menjadi suatu lagu yang bisa menyulut semangat anak-anak bangsa yang ada di semua jenjang pendidikan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Suasana kegiatan di Kelas Menulis

Sementara itu Kepala Sekolah Pertama Teologi Kristen (SMPTK) dan Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) Kasih Karunia, Yandri N. Elia, S.Pd., M.A.P., mengungkapkan, kehadiran program Yaspensi sangat disambut baik oleh Sekolah Kasih Karunia karena sesuai dengan visi dan misi sekolah yakni “Bertumbuh dalam Firman dan Menjadi Berkat bagi Banyak Orang”.

“Ketika ditawarkan program dari Yaspensi dan Pertamina Fondation, kami melihat program ini sangat bagus dan sangat cocok dengan apa yang menjadi visi dan misi dari sekolah ini, dimana berkaitan dengan literasi dan bernyanyi. Nah, itu pas dengan Sekolah Kasih Karunia serta sesuai dengan harapan kita. Kemudian rasa simpati dan empati mereka terhadap lingkungan bisa dipertajam lagi,” ujarnya.

Selanjutnya, Yandri Elia juga menjelaskan, berbagai kegiatan demi pengembangan literasi di Sekolah Kasih Karunia sangat aktif dilakukan, sebab mereka menyadari bahwa kemampuan tersebut yang menjadi modal bagi masa depan anak-anak dan juga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita punya kegiatan literasi yang full di bulan Oktober. Untuk SD minimal 250 halaman yang dibaca dan disharing di kelas, SMP 450 halaman, SMA 650 halaman. Kemudian guru dan semua staf di sekolah sampai staf kebersihan baca 1000 halaman. Kami berusaha menghidupi literasi itu,” ungkapnya.

Kegiatan “Hananu Sebagai Eco Art” (Pesan Karakter untuk Global Warming) yang digelar Yaspensi dengan dukungan Pertamina Foundation tersebut melibatkan 30 peserta didik Sekolah Kasih Karunia dan sejumlah guru pendamping.

Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut, Kepala Desa Oefafi Lorentius Djabi, Kepala SD Teologi Kristen Kasih Karunia Yesi Aome, Sekretaris Yaspensi Robertus E. L. Bau, dan sejumlah guru Sekolah Kasih Karunia serta tim Yaspensi. (Yosi Bataona/rf-red-st)    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here