“Hananu” dan “Eco Art” (Ada Nono Nono Lain dari Oefafi)

0
195
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI)

Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay, bocah cerdas, biasa disapa Nono, pada medio Januari 2023 sempat menggemparkan jagat maya di Indonesia. Betapa tidak, bocah Sekolah Dasar (SD) ini mengalahkan 7000 peserta lain dari seluruh dunia, dalam ajang ABG International Mathematics Competition yang diselenggarakan International Abacus Brain Gym. Kini, Nono tinggal kisah dan letupan inspirasi dari prestasinya.

Setelah dua pekan ‘bertamasya’ ke Jakarta untuk menghadiri undangan Mas Menteri Nadiem, pun beberapa Stasiun Televisi Swasta Nasional, kini ia kembali ke Amarasi Selatan, tepatnya di SD Buraen 2 Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, tentunya untuk melanjutkan pendidikan dan menikmati keseharian bersama anak-anak desa lainnya.

Hananu dan EcoArt Ada di Oefafi

Tidak ada kaitannya dengan asal Nono, Oefafi hanyalah salah satu desa di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten KupangNusa Tenggara TimurIndonesia. Tentu sama-sama berasal dari kabupaten yang sama. Apakah punya kesamaan cerita dengan Nono di Buraen?

Hananu, adalah sebuah istilah yang asing di telinga orang-orang NTT. Apalagi Indonesia. Bagi masyarakat Belu dan Malaka, Provinsi NTT, istilah ini sangat familiar, karena berasal dari bahasa Tetun yang berarti bernyanyi. Istilah ini mulai digunakan oleh Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi) ketika pada tahun 2021 mengikuti kompetisi proyek sosial yang diselenggarakan Pertamina Foundation, yang memberikan kesempatan kepada para orang muda (PFmuda 2021) untuk berkontribusi menuntaskan isu Sosial, Pendidikan, Seni, Politik, dan lain-lain. Hananu dijadikan salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia anak-anak di Kabupaten Malaka (perbatasan). Mempertahankan Bahasa Indonesia merupakan salah satu prinsip nasionalisme sebagai pesan kandungan karakter bagi anak-anak bangsa di ‘batas’.

Bernyanyi (Hananu) tak sekadar bernyanyi,tetapi mesti menyanyikan lagu-lagu yang mempunyai nilai nasionalisme dan lagu-lagu etnis daerah setempat yang tentunya punya kandungan pesan-pesan moral yang sangat kaya. Dari lagu-lagu tersebut anak-anak (SD, SMP, dan SMA) dilatih untuk mengenal kosakata Bahasa Indonesia, pun dilatih untuk punya sikap moral, serta berjiwa nasionalis untuk masa depan bangsa dan kepribadian individual mereka sendiri.

Tahun 2022, Yaspensi kembali mengajukan diri untuk melanjutkan proyek sosial yang sudah diselenggarakan tahun sebelumnya. Masih dengan konsep yang sama, Yaspensi tetap mengusung metode Hananu, tetapi untuk isu lingkungan hidup (ancaman global warming). Kali ini bukan lagi di Malaka, tetapi di Sekolah Kasih Karunia, di Desa Oefafi, Kabupaten Kupang. Pesertanya berjumlah 30 orang, terdiri dari anak-anak SDTK Kasih Karunia, SMPTK Kasih Karunia, dan SMAK Kasih Karunia, serta beberapa guru pendamping. Uniknya, para siswa dan guru di sana berasal dari seluruh nusantara, mulai dari Papua, hingga Sumatera.

Kegiatan ini lebih meruncing pada kampanye Eco Art; Seni untuk lingkungan, dengan pendekatan Hananu, untuk peserta bisa menghasilkan karya tulis dalam bentuk narasi dan puisi, serta karya seni musik dalam bentuk cipta lagu. Semuanya bertema lingkungan, dan penguatan karakter menghadapi global warming yang terus menjadi ancaman. Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di sekitaran lingkungan sekolah. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Kupang. Turut hadir Kepala Desa Oefafi. Narasumber kegiatan ini berasal dari akademisi, praktisi, seniman, dan juga sastrawan.

Eco Art Membangun Fondasi Kesadaran

Sasaran akhir (goals) yang lahir dari kegiatan ini bukan semata-mata agar anak atau para peserta mampu menghasilkan karya tulis yang inspiratif maupun puitis, atau mampu menciptakan lagu yang indah dan bergelora, tetapi jauh dari pada itu agar tercipta outcome sebagai fondasi untuk kesadaran sejak dini agar anak mencintai lingkungan dan alam sekitar; tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengotori tempat-tempat umum, mengenalkan bahaya penebangan pohon, bahaya asap kendaraan bermotor, bahaya pembakaran hutan, bahaya mengganggu satwa terlindungi, dan lain sebagainya. Sambil ber-Hananu, untuk membangkitkan kesenangan mereka berproses, diajarkan untuk mencintai pohon, udara segar, laut, tumbu-tumbuhan, binatang, dan seisi alam jagat raya ini.

Menggunakan pendekatan seni adalah salah satu jalan terbaik, ketika kampanye-kampanye tentang lingkungan seakan gagal diperdengarkan dan dipatuhi oleh masyarakat luas. Seni adalah sebuah aktivitas yang mengandung imajinasi tinggi, dengan kemampuan tiap unsurnya memproduksi struktur-struktur keindahan (ketertiban, kerapihan, dan kenyamanan). Yang tentu tak boleh terbatas pada kehadiran tiap karya seni yang dihasilkan, melainkan bagi pengembangan karakter, outcome, dan juga dampaknya untuk pembangunan Sumber Daya Manusia.

Ada Nono Nono Lain dari Oefafi

Jika Nono di Buraen memenangkan kompetisi Matematika skala Internasional, tentunya anak-anak lain di NTT tidak kalah. Intinya tidak ikut-ikutan harus pintar Matematika saja. Supaya bisa masuk televisi. Supaya bisa ke Jakarta. Tentu tidak seperti itu. Nono berjuang sejak usia dini untuk belajar mandiri Matematika bersama Ibunya. Menandakan kedisiplinan untuk membangun fondasi. Begitu pun anak-anak sekolah Kasih Karunia sebagai inisiasi pergerakan Eco Art di Kabupaten Kupang dan NTT, mesti ditanamkan kesadaran sejak dini untuk disiplin pada tiap aturan dan proses untuk kampanye menhadapi global warming kepada anak-anak sekolah lainnya nanti di seluruh NTT atau pun seluruh Indonesia.

Nono punya kelebihan skill di otak bagian kiri, anak-anak Oefafi punya kelebuhan skill di otak bagian kanan. Nono punya trik kekuatan imajinasi untuk mengisi otak kanannya, anak-anak Oefafi punya trik kekuatan literasi musik untuk mengisi otak bagian kirinya. Bedanya, ketika otak Nono balance sehingga ia cerdas, mendapatkan piala dan penghargaan, beasiswa, serta ke Jakarta untuk menghibur masyarakat Indonesia melalui tayangan televisi, anak-anak Oefafi tekun duduk untuk menghasilkan karya tulis dan karya musik, tidak ke Jakarta, tetapi asyik bermain dengan lumpur dan hujan, di bawah rerindangan pohon, untuk menanam kembali pohon guna pelestarian alam di sekitar lingkungan sekolahnya.

Aktivitas ini guna menjawab tantangan 9 bentuk kecerdasan menurut Prof. Dr. Howard Gardner yang adalah seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS yang merumuskan teorinya Multiple Intelligences (kecerdasan ganda/majemuk).

Dikutip dari laman https://triatra.wordpress.com, penelitian Howard Gardner membuktikan bahwa di dalam diri setiap anak tersimpan sembilan jenis kecerdasan yang siap berkembang. Masing-masing kecerdasan tersebut yakni; pertama adalah kecerdasan linguistik (Linguistic intelligence). Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral maupun secara tertulis contohnya pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan.

Kedua adalah kecerdasan matematis-logis (Logical – mthematical intelligence) Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika . Jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat .Contohnya matematikus, programer, logikus. Ketiga adalah kecerdasan ruang (Spatial intelligence). Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. Contohnya pemburu, arsitek, dekorator.

Keempat adalah kecerdasan kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence). Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah.

Kelima adalah kecerdasan musikal (Musical intelligence). Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik.

Keenam adalah kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence). Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kemampuan yang menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi dengan berbagai orang. Contohnya komunikator, dan fasilitator.

Ketujuh adalah kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence). Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan – gagasan . Mereka mudah berkonsentrasi dengan baik, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam. Contohnya para pendoa batin. Kedelapan adalah kecerdasan lingkungan/aturalis (Naturalist intelligence). Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik.

Kesembilan adalah kecerdasan eksistensial (Exixtential Intelligence). Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia.contohnya persoalan mengapa ada, apa makna hidup ini.

Kiranya, semua anak NTT diberi “suapan nutrisi” ilmu pengetahuan yang mempertimbangkan kebutuhan kedua belah otak mereka. Kelak Nono Nono baru akan bermunculan di NTT. Seni mampu mengubah stigma negatif anak-anak NTT, pun dapat digunakan untuk “penyembuhan” “stunting”. Semuanya berhubungan. Eco Art untuk pembangunan NTT. Mai ita Hananu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here