Puisi-Puisi Regesti Salomi Bauana (2)

0
430
Regesti Salomi Bauana

PEREMPUAN SENJA

Seorang perempuan sepi bersenandung pada sayap-sayap senja

Merangkai bahasa dari seberang fajar

Menuliskan pada gemercik ombak dan karang

Lalu memudarkannya pada jingga mata ibu dan temaram suara ayah

Tidak pandai bicara, namun menyukai suar suara puisi

Tak pandai melagu namun menyukai lirik-lirik patah

Tak pandai masak seperti ibu namun menyukai makanan

Mencintai laut dan gelombang seperti ayah dahulu

Dia adalah segambar diri dari dua manusia yang telah berlalu

Hilang dalam kenang namun hangat di kening

Sudah  lama ia berkawan dengan senja dan siluetnya

Bercerita perihal beberapa kemenangan dan bentuk kekalahan yang nadir

Di lengkung senja itu ia bisa menangis sekaligus melebur tawa

Sebab ketika senja berpulang, hanya tersisa deru ombak dan pasir

Membalut luka sendiri dan melepaskan depresi ke udara

Ternyata setelah langit mewarnai senja, Ayah dan ibu melahirkan seorang perempuan

***

TUMBUH

Ketika Tuhan menyirami semesta dengan rintik hujan

Tanah sedang merawat dirinya dengan dedaunan yang mulai membusuk

Menjadikannya lapisan-lapisan yang menutup permukaan

Pertanda sebuah kehidupan akan dimulai dari kedalaman yang rahasia

Jika benih amatir itu beruntung, ia akan memulai perjalanan

Membelah diri dan menembus kematian untuk mempertontonkan kehidupan

Perihal itu, kurasa Tuhan tidak bercanda

Ia memang berencana

Soal hidup atau mati, kita lihat saja nanti

Jika ia beruntung, ia bisa hidup lebih lama dan membuktikan diri

Menancap akar lebih kuat terhadap angin dan merawat tubuh terhadap serangga

Makan udara dan matahari supaya bisa berdiri lebih tinggi  

Jika ia jatuh dan mati, ia adalah pengecut

Namun jika ia nampak tenang, ia sedang tumbuh

***

BINAR EMBUN

Pagi membuka mata lebih awal

Sedang embun masih menempel di punggung daun

Mengawal matahari yang menjadikannya lenyap

Ia masih saja dingin dan bisu seperti biasa

Ia cerah bening apa adanya

Tak ada yang ia tutupi dari hidupnya  

Refleksinya transparan tapi ia mudah jatuh

Terkadang karena terlalu polos ia sering ditipu

Embun bisa pergi dan pulang seenaknya

Keberadaanya memberi aroma basah yang sejuk

Binarnya mempercantik tunas semesta

Tapi sayangnya ia tak pernah pamit saat pergi

Kata orang dia sedang memberi diri kepada langit

Menimbun bulir-bulir air dari seluruh dunia

Menjadi air langit yang kita sebut dengan hujan

Atau setidaknya kembali menjadi sebulir air di punggung daun

***

SENDIRI

Di magrib yang lembut ini

Aku memilih sendiri dan menyendiri

Setidaknya untuk kali ini mari berdialog

Atau berkenalan seperlunya saja

Kujemput kembali suara ombak yang merdu

Kupeluk lagi sejuknya desir udara yang berputar

Untuk kembali lagi ke beberapa tempat dimana pernah ada tenang

Juga ejaan-ejaan kata yang belum sempurna namun ada

Bukan aku tidak suka ramai dengan pekamu

Namun aku tidak biasa untuk berbicara keras apa lagi terlalu dalam

Aku sendiri di sini untuk merayakan beberapa kehilangan

Juga penjelasan dari beberapa pertanyaan yang masih bungkam

***

SEDARI DULU

Aku terdiam di teduh matamu yang sayu

Mengenang semua kenangan yang membuatmu membiru pagi ini

Memperhatikan serimbun rumput tempat kakimu menari kala hujan

Kau tak sendiri, ada aku yang tersenyum di batas hujan kemarin

Ku temani kau melewati laut yang penuh emosi

Tepian senja yang suka sekali berlalu tanpa pamitan dengan kita

Juga pasir yang rapuh dari ruas-ruas jari kita yang dingin

Adakah jatuh yang lebih berkelas dibanding kita hari itu?

Aku tak pandai membaca skenario Tuhan tentang makhluk ajaib yang disebut manusia

Mereka mengalami banyak musim tak terduga dalam hidup

Dan menaklukannya sebagai pemeran utama dalam naskah 

Sedari dulu sampai sekarang, masalah kita tetap sama 

Ini cuma soal melepaskan atau memperjuangkan

***

Regesti Salomi Bauana, lahir di Olafulihaa pada 29 Agustus 1995 dan sekarang menetap di Rote Ba’a. Menyelesaikan pendidikan di SDN Olafulihaa (2004), SMPN 1 Pantai Baru (2010), SMAN 1 Pantai Baru (2013), dan menamatkan studi Sarjana di Universitas Nusa Lontar Rote (2019).

Memiliki hobi membaca karya fiksi membawanya mencintai dunia puisi. Baginya puisi itu bernilai magis seperti isi hati dan isi kepala penulisnya. Ia menulis beberapa puisi untuk mengisi waktu luang, diikutkan ke beberapa lomba puisi dan pernah masuk dalam 50 karya terbaik yang diterbitkan dalam buku “Kata-Kata Kita” (Akalanka Team). Beberapa puisinya juga dibacakan melalui platform youtube dengan nama channel Regesti Salomi.  

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini