Belajar dari Falsafah Hidup Viktor Laiskodat

0
196
Peluncuran buku “Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat”, Selasa (21/02/2023), bertempat di New Sasando International Hotel.

Kota Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Selasa (21/02/2023), bertempat di New Sasando International Hotel, diselenggarakan peluncuran buku berjudul “Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat”. Penulis sekaligus Ketua Tim Penyusun Buku Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat, Pius Rengka, S.H. M.Sc., mengungkapkan, lahirnya buku tersebut berawal dari sebuah diskusi biasa, namun apa yang keluar dari mulut Gubernur VBL begitu kaya akan pandangan filosofis dan menjadi spirit dasar kepemimpinannya.

“Sebagaimana biasanya, saya selalu diajak ngobrol dan ada banyak hal serius yang kami bicarakan. Lalu dalam setiap percakapan itu selalu ada ucapan-ucapan puncak yang saya angkat itu sebagai kristalisasi filosofis,” ungkap Pius Rengka.

“Karena sering diucapkan, saya mulai menanyakan dengan serius ini apa maknanya? Dan dijelaskanya. Nah, sejak saat itulah saya memutuskan untuk mendengar, mencermati dan mengkritisinya. Pada puncaknya saya bertanya, apa maknanya ini untuk Bapak Gubernur? Dan dia selalu menjawab, inilah yang selalu menjadi spiritualitas dasar dalam kepemimpinan kami. Sejak saat itu saya mulai mencatat dan sungguh sangat banyak catatan saya. Kemudian saya membentuk tim editor. Lalu, saya menyusunnya dan mengajak untuk melihat bersama-sama serta mendiskusikannya. Dan terjadilah buku ini,” urai Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik ini.

Mengenal Gagasan dan Ide VBL

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Dr. Drs. Josef Nae Soi, M.M., menyampaikan, pertanyaan paling dasar dalam filsafat ialah mengapa saya ada di sini? Sosok VBL telah menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menarik untuk direfleksikan.

“Dulu waktu pertama kali belajar filsafat, pasti seorang pengajar filsafat akan bertanya kepada kita yang dalam bahasa Latin-nya Cur Hic Sumus artinya mengapa kita ada di sini? Itu pertanyaan yang sangat menarik. Mengapa kita tidak ada di tempat lain melainkan ada di ruangan ini,” ujar Wagub Nae Soi.

“Ruang, waktu, tempat dan jam, ada sesuatu yang menarik kita. Siapa yang menarik? yang menarik kita adalah sosok seorang yang menarik kita secara langsung maupun tidak langsung. Kalau tidak ada sosok VBL yang ditulis di sini, saya kira tidak mungkin kita ada di sini. Ini pertanyaan yang sangat mendalam,” terangnya.

Wagub NTT Josef Nae Soi

Lebih lanjut, Wagub JNS menjelaskan bagaimana sebuah falsafah hidup menjadi prinsip dasar bagi seseorang untuk berpikir dan bertingkah laku demi mencapai tujuan hidupnya. Pandangan hidup tersebut harus dihargai dan diapresiasi seperti halnya sosok VBL yang punya gagasan dan ide yang luar biasa.

“Tidaklah berkelebihan kalau kita menuliskan tentang seseorang, apalagi berbicara mengenai Falsafah. Falsafah ini bahasa Arab, kalau bahasa Latin-nya Filsafat, jadi sama sebenarnya. Falsafah dalam KBBI mengatakan bahwa Falsafah merupakan suatu pendapat, gagasan bahkan sikap batin dari seseorang. Pemerintah NTT sangat-sangat menghargai, pendapat, gagasan dan sikap batin dari siapa pun juga yang ada di dunia, indonesia maupun yang ada di NTT. Tidak mengenal dia itu siapa, tapi kalau dia memiliki gagasan, pendapat bahkan memiliki sikap batin dan kemudian dimanifestasikan dalam kegiatan sehari-hari, maka wajib hukumnya kita harus mengenang dan memberikan apresiasi kepadanya,” urai Wagub JNS.

“Hari ini, kita me-launching sebuah buku yang namanya Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat, seorang sosok yang sudah kita kenal. Saya berterimakasih kepada pak Pius yang sudah menorehkan ini dalam sebuah buku. Kalau kita hanya ceritakan dengan tutur kata pasti akan hilang, tapi kalau dituliskan akan terkenang. Oleh sebab itu saya dari pemerintah harus memberikan apresiasi bukan karena VBL-nya, tapi karena gagasan dan idenya yang luar biasa. Buku ini adalah pancaran yang mewujudkan imajinasi dari sikap batin VBL,” tandasnya.

Berkualitas, Berpikir, dan Berubah

Pada tempat yang sama, pengkaji sekaligus pengulas buku Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat, Romo Dr. Okto Naif, Pr., menegaskan bahwa buku tersebut mengandung begitu banyak kekayaan pengetahuan, kebudayaan, moral-etika dan religius, sebagai aktualisasi diri manusia yang utuh, berkualitas dan  hidup seturut prinsip-prinsip yang baik dan benar.

“Tulisan ini sangat kaya, walaupun kalimat-kalimatnya singkat tetapi di dalamnya ada samudera kekayaan. Ada sebuah kekayaan ilmiah, kekayaan moral, spriritual dan kultural yang luar biasa. Terimaksih karena melalui buku ini, kita ditolong untuk berubah. Keseluruhan buku ini, tadi sudah dimulai oleh Bapak Wagub dengan Cur Hic Sumus, mengapa kita ada di sini? saya menjawab Ergo Sum Cogito, saya ada di sini untuk berpikir dan Cogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada,” ungkap Romo Okto.

Buku Falfasah Hidup Viktor B. Laiskodat

“Baiklah kita menjelajah isi buku ini. Buku ini mengandung 3 kualitas hidup manusia yakni; Epithumia, Thumos dan Logistikon. Epitomia berelasi dengan kepuasan-kepuasan yang bisa merusak. Di hal 35; ‘manusia sering mengejar hal-hal yang tanpa batas bahkan sampai merusak dirinya sendiri’. Lalu, beliau menulis; ‘Kenikmatan karena kebodohan itu adalah kefatalan yang tidak dapat dimengerti’. Kepuasan apa yang sering dikejar seseorang sampai merusak dirinya sendiri ialah; kekuasaan, harta dan seks. Thumos itu berkaitan dengan harga diri yang tinggi dan integritas (hal 26), ‘harga diri saya adalah integritas’. Tumos itu merangsang jiwa berani dan jiwa berontak ketika melihat sesuatu yang mengecewakan langsung kebas. Logistikon itu bagian jiwa yang paling mulia dan paling baik itu berkaitan dengan apa yang disebut keutamaan atau kebijaksanaan. Itu tersebar di seluruh buku ini,” urai dosen Fakultas Filsafat Unwira sekaligus formatur pendidikan dan pembinaan di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang.

Romo Okto Naif juga menyampaikan, sosok Gubernur NTT seperti yang dilukiskan dalam buku tersebut merupakan tokoh yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat dan kekayaan alam di NTT melalui pikiran-pikirannya yang cerdas serta punya daya yang kuat untuk membangun.

“Melalui buku ini beliau menunjukkan diri sebagai seorang pemikir sekaligus pendobrak pikiran. Kalau saya baca ini untuk mendobrak pikiran-pikiran klasik yang sudah tidak cocok lagi. Di dalamnya beliau mengatakan “ anda tidak akan begitu tega untuk mempromosikan keindahan NTT’, itulah kelemahan kita di NTT. Beliau mau mengajak kita untuk berpikir tentang apa yang kita lihat, kita rasa dan kita dengar. Saya yakin beliau melantik pejabat di sini untuk berpikir,” tandas Pastor asal Keuskupan Atambua ini.

Lebih lanjut Romo Okto Naif mengajak semua orang yang mengabdikan dirinya melalui tugas dan tanggung jawabnya sebagai pegawai pemerintahan agar menjadikan diri dan hidupnya lebih berarti dengan meningkatkan kemampuan menulis sembari mewujudkan visi NTT yang sejahterah, bangkit dan berubah.

“Beliau juga menegaskan’aku ingin hidup selama-lamanya’. Verba volant scripta mane artinya yang terucap akan segera berlalu, yang tinggal hanyalah tulisan. Makannya kalau bapak dan ibu mau dikenang sampai selama-lamanya itu harus tulis. Membaca sebuah buku layaknya bercakap dengan sang pemikir. Ada orang hebat yang mengatakan suatu hari aku akan membaca sebuah buku dan seluruh kehidupanku akan berubah,” pesan Romo Okto.

Pantauan media ini, turut hadir dalam peluncuran buku Falsafah Hidup Viktor B. Laiskodat yaitu; Penjabat Walikota Kupang, George M. Hadjoh, S.H., para Kepala Dinas lingkup Pemprov NTT, para Staf Khusus Gubernur NTT, para pegawai Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Mantan Wakil Walikota Kupang dr. Hermanus Man, para pegawai PT. Flobamora, dan awak media. (Yosi Bataona/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini