Bina Iman Anak dalam Keluarga

0
600
Oleh Yosefina Manhitu, S.Ag., Guru SDI Bonipoi 1, Pembina SEKAMI Stasi Fatima Perumnas Kupang

LATAR BELAKANG

Allah Bapa mengutus Yesus ke dunia untuk menyelamatan manusia. Yesus Kristus sendiri telah mendirikan dan menghimpun Gereja untuk melanjutkan tugas perutusan-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja kepada semua kalangan termasuk anak-anak. Anak adalah harapan dan masa depan Gereja. Mereka terbentuk dalam keluarga Gereja mini yang hendaknya mendapat perhatian yang serius sejak awali agar kelak imannya itu bertumbuh matang dan dewasa serta mampu bertanggung jawab di kemudian hari atas iman yang dihayati itu. Pertumbuhan iman anak-anak Allah sudah ada, yang perlu hanyalah instrumen penguatnya.

Dari hasil observasi di beberapa tempat dalam kota Kupang, Ada keluarga-keluarga yang kurang peduli dengan kegiatan rohani pengembangan mutu iman bagi keluarga dan anak-anaknya. Penulis berasumsi bahwa harus didapat suatu bentuk pendampingan yang tepat sasar dan memadai bagi para agen pastoral.

Muncul pertanyaan reflektif: Bagaimana bentuk pembinaan iman anak di keluarga? Apa saja faktor penunjang dan penghambatnya? Upaya apa yang mesti dibuat? Mungkinkah umat tidak tahu tentang landasan biblis, teologis, dan pastoral, tentang pembinaan iman anak? Apakah mereka punya Pemahaman-Praktek-dan Sikap yang benar dalam pembinaan iman anak? Tulisan aplikatif ini sebagai Autocritic dan dan kritik.

DASAR PEMBINAAN IMAN ANAK

Pembinaan iman anak dalam keluarga Katolik mempunyai landasan yang perlu dipelajari dan dipahami lebih lanjut oleh orang tua setelah mereka mulai meresmikan sakramen pernikahannya dan beranakcucu penuhi bumi Stasi Perumnas.

1. Landasan Biblis

Amsal 4:1-7 membuka nasehatnya dengan seruan: Dengarlah hai anak-anak, didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu, janganlah meninggalkan petunjukku. Karena aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak lemah dan tunggal bagi ibuku, aku diajar ibuku katanya kepadaku: biarlah hatimu memegang perkataanku, berpeganglah pada petunjuk-petunjukku maka engkau akan hidup.  Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian jangan lupa dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku. Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipelihara-Nya, kasihanilah Dia, maka engkau akan dijaga-Nya, permulaan hikmat: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian”.

2. Landasan Teologis

Dokumen-dokumen Gereja yang menyoroti peranan keluarga perihal pembinaan iman anak dalam keluarga adalah sebagai berikut:

Dokumen Konsili Vatikan II

Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes artikel 52, (KV.II GS. Art. 52), menjelaskan bahwa keluarga adalah sekolah yang memperkaya kemanusiaan. Perlu adanya persatuan pikiran yang mesra serta musyawarah antara suami isteri serta kerjasama yang kuat para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Anak-anak dididik begitu rupa sehingga nanti sebagai orang dewasa dapatlah mereka mengikuti panggilan mereka termasuk penggilan religius dengan rasa tanggungjawab yang matang dan dapat memilih sendiri status hidup mereka. Bila mereka menikah, mereka pun dapat membangun keluarganya sendiri dalam kondisi moral, sosial ekonomi, yang menguntungkan. Para orangtua atau wali hendaknya melalui nasehatnya memberikan bimbingan kepada anak mereka dalam hubungan dengan mendirikan keluarga sendiri dan anak-anak haruslah mereka mendengarkan nasihat-nasihat itu dengan senang hati.

Pada sesi berikut dari dokumen ini GS. Art. 3, berbicara bagaimana orangtua mengemban tugas berat, mendidik dan membina anak-anak, dan sebab itu mereka harus diakui sebagai pendidik pertama dan utama dalam mengembangkan iman anak dalam keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama keutamaan sosial yang dibutuhkan setiap masyarakat. Para orangtua wajib menciptakan lingkungan keluarga yang dijiwai cinta kasih kepada Allah dan manusia sehingga membantu pendidikan pribadi dan sosial yang utuh. Peranan orangtua tidak dapat dipindah-pindahkan kepada orang lain. Gereja Semesta telah percayakan tugasnya itu dalam pengembangan iman anak terutama menampakkan secara tegas nilai-nilai kristiani dalam keluarga sebagai keutamaan kristiani dalam kehidupan nyata anak.

Pada Dokumen yang sama terutama GS.art.11, ditekankan bahwa suami-isteri dan anak-anak diharapkan membentuk Gereja rumah tangga atau ecclecia domestica di mana orangtua menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anaknya dengan kata-kata dan teladan hidup.

Kitab Hukum kanonik

Tugas dan kewajiban suami-isteri untuk memberikan pendidikan iman kepada anak-anaknya berakar pada panggilan hidup suami-isteri yang menikah. Tugas ini dimengerti sebagai usaha untuk berpartisipasi dan mengambil bagian dalam penciptaan Allah. Dengan melahirkan anak, orangtua mengemban tugas dan kewajiban membantu agar anak-anak yang dilahirkan sungguh mampu hidup sebagai manusia. Tugas itu disebut pertama dan utama karena tak tergantikan dan memperkaya nilai-nilai cinta kasih yang khas dari orangtua sendiri. Tugas dan kewajiban itu sudah diketahui pada waktu mengucapkan janji perkawinan.

3. Landasan Pastoral

Pengertian Keluarga

Keluarga sesungguhnya bukan saja kumpulan orang-orang tetapi juga dapat dikatakan sebagai sarana atau kondisi yang memungkinkan seseorang berkembang dan membentuk kepribadian. Karenanya keluarga harus menata dan menampilkan diri sebagai iklim yang kondusif yang memberikan rasa keseimbangan lahir batin, cinta, damai dan persaudaraan yang merupakan faktor dasar yang sangat menentukan masa depan anak.

Keluarga beriman adalah keluarga yang selalu peka dalam membaca kehadiran, kehendak dan firman Allah dalam kehidupan keluarga yang konkrit sehingga perlahan-lahan keluarga itu akhirnya menerima Tuhan dalam keluarga mereka. Tuhan mendapat tempat paling penting dalam hati dan rumah tangga mereka.

Hakikat Keluarga

Paus Yohanes Paulus II, menggagas keluarga merupakan dasar terbentuknya masyarakat. Keberadaannya yang sesungguhnya dari keluarga adalah mengusahakan kesejahteraan lahir batin bagi anggotanya. Karena itu keluarga hadir sebagai guru, pendidik, pendamping atau pembimbing bagi anggota keluarganya, sehingga dengan demikian keluarga tampil sebagai sekolah pertama keutamaan-keutamaan yang penting dalam masyarakat.

Bentuk-Bentuk Pelayanan Pembinaan Iman dalam Keluarga


Beberapa bentuk pelayanan pembinaan iman sebagai perwujudan  tugas melanjutkan karya pewrtaan Yesus Kristus yang sempat dipraktekkan oleh sebagaian keluarga adalah berdoa, membaca kitab suci, merayakan sakramen-sakramen khususnya Ekaristi pada hari Minggu, menghormati dan menghargai hak anak.

Dalam hal berdoa, orang tua Katolik berkewajiban mengajarkan anak berdoa secara baik dan benar karena di dalam doa anak dapat mendengar firman dan kehendak Allah. Anak dilatih sedini mungkin untuk berdoa pribadi atau berdoa bersama. Anak-anak diaktifkan untuk berdoa Angelus, doa Rosario, atau berdoa dalam peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga. Dengan demikian orangtua selalu menciptakan keadaan supaya anak selalu mencari Tuhan dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Orang tua sebagai penanggungjawab kelangsungan hidup iman anak hendaknya menyiapkan Alkitab dan buku bacaan rohani sehingga anak diperbiasakan menyadari dan mencintai Kitab Suci sebagai kitab iman. Anak dilatih untuk membaca Kitab Suci secara teratur. Dalam kitab suci, anak akan menemukan tokoh-tokoh iman yang nantinya diharapkan menjadi idola bagi anak dalam perkembangan selanjutnya.

Merayakan sakramen-sakramen khususnya Ekaristi Kudus pada hari Minggu wajib hukumnya dilakoni orangtua untuk mengikutsertakan anak-anaknya. Keikutsertaan anak dan orangtua juga pada hari-hari besar keagamaannya secara teratur entah itu di gereja, kapela, atau setiap Misa di KUB/lingkungan. Pada saat anak sudah terbiasa aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja sejak dini, maka anak akan mempunyai pengalaman yang positif dan diharapkan akan mempengaruhi pola dan semangat hidup sampai usia dewasa atau sepanjang hidupnya.

Sebenarnya dengan mendidik atau membina anak, kita telah menghargai dan menghormati anak. Kita menempatkan anak-anak di tengah dan mengangkat mereka sebagai raja yang harus dilayani. Orangtua sebagai pelayan iman anak, hendaknya selalu berusaha untuk bekerja sama secara aktif dengan pengurus KUB, lingkungan/wilayah/stasi, dan paroki, agar anak-anak kita dibina dan dididik melalui wadah-wadah non formal seperti organisasi anak-anak. Misalnya, kelompok kor anak-anak, misdinar, Sekami, rekoleksi menjelang Natal dan Paskah, pembinaan bagi calon komuni pertama kelompok sekolah minggu, kelompok kitab suci, kelompok belajar, kelompok doa anak-anak, dan lainnya.

Berbagai kegiatan di atas penting, karena anak dilatih untuk saling mengenal sesamanya, dilatih untuk bekerja sama, dilatih untuk memimpin dan dipimpin atau berorganisasi sejak usia dini. Semua ini merupakan bentuk perhatian dan pengorbanan yang merupakan tanggungjawab orangtua, pengurus kelompok, pengurus wilayah dan stasi, para guru agama, dan pastor paroki, dalam mendampingi dan membimbing anak sebagai masa depan Gereja dan masyarakat.

PERMASALAHAN PEMBINAAN IMAN ANAK

Bagaimana keadaan pembinaan iman anak dalam keluarga kristiani? Penulis sendiri alami kesulitan dalam memformulasikan jawaban atas permasalahan ini. Pasalnya, pemahaman orangtua katolik akan peranannya dalam meningkatkan dalam meningkatkan pembinaan iman anak di tengah keluarga tidak terlalu nampak. Sikap orangtua yang berperan sebagai pembina utama iman anak dalam keluarga sangat terbatas dan kurang berfungsi dengan baik.

Dari hasil analisa, penulis temukan bahwa ada tiga indikator yang berperan dalam pembinaan iman anak. Pertama, aspek pemahaman tentang: peranan orangtua katolik, kekhasan orangtua katolik, fungsi keluarga, keluarga katolik, dan pembinaan iman anak dalam keluarga. Pada aspek ini, pemahaman orangtua katolik akan perannya dalam meningkatkan iman anak di tengah keluarga tidak terlalu nampak.

Kedua, sikap meliputi: keteladanan orangtua, tugas panggilan umum orangtua keluarga katolik, bijaksana dalam membimbing anak, menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan, menghormati dan menghargai anaknya. Pada aspek ini, sikap orangtua yang berperan sebagai pembina anak dalam keluarga sangat terbatas dan kurang berfungsi dengan baik.

Ketiga, praktek hidup beriman orangtua: doa dalam keluarga, melatih anak berdoa, melatih anak membaca kitab suci, membiasakan anak untuk menghadiri misa, dan membiasakan anak ikut pendalaman iman. Indikator ketiga yang menunjuk pada keteladanan hidup orangtua dalam membina iman anak dalam keluarga sangat terbatas dan kurang berfungsi dengan baik. Karena itu perlu diupayakan dan ditingkatkan.

Apa saja faktor penunjang dan penghambat pembinaan iman anak di keluarga? Faktor Pendukung, dari segi pemahaman adalah umat Allah/warga Gereja senantiasa terbuka untuk menerima masukan atau ajaran dan senantiasa mengembangkannya dalam kehidupan menggereja. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh para agen pastoral di kelompok selalu dipertahankan dan dikembangkan dalam kehidupan menggereja.

Dalam hal keterbukaan, para keluarga di kelompok umat basis dan di masyarakat selalu menerima semua orang dalam pergaulan, dan mampu mengakui kekurangan diri sendiri. Dalam hal kesadaran, keluarga-keluarga umat beriman sadari bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan yang senantiasa berusaha untuk terus-menerus mendekatkan diri dengan Tuhan dan sesama.

Adapun Faktor Penghambat pembinaan iman anak di kelompok ini, diketahui bahwa masih ada anak-anak ini yang kurang berminat terhadap kegiatan-kegiatan rohani dan cenderung melakukan hal-hal lain dan bersikap masa bodoh. Demikian pula sikap tak acuh orangtua dan kesibukkannya yang terlampau melalaikan pembinaan iman telah kuat pengaruhnya dalam hidup anak-anak di kelompok ini. Bila terus dibiarkan, maka akan menjadi penghambat meningkatnya penghayatan iman anak di kelompok ini.

Selain itu, hidup di zaman modern ini dengan aneka tawarannya mengakibatkan orangtua dan anak-anaknya kurang bijaksana untuk berbakti kepada Tuhan dan lebih kepada keinginannya sendiri. Tuhan seakan disepelekan dari rutinitas kehidupan mereka. Ada sebagian warga yang semakin menjauhkan diri dari Tuhan ketika ia berhadapan dengan banyak persoalan hidup, ia menjadi putus asa karena tidak berpegang pada Tuhan dan janji setia-Nya sebagai pemberi hidup dan penolong utama. Hal-hal inilah yang menjadi penghambat penghayatan iman yang perlu diupayakan perbaikannya.

SOLUSI

Penulis mencoba memberi beberapa alternatif. Harus diingat bahwa pemahaman hidup beriman dan sikap hidup beriman umat sangat rendah. Karena itu, pertama, yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan adalah pemahaman hidup beriman sehingga dengan demikian dapat diwujudkan sikap hidup beriman dalam upaya meningkatkan pembinaan iman anak di tengah keluarga. Kedua, pemahaman hidup beriman perlu diperhatikan dan ditingkatkan supaya praktek hidup beriman dalam keluarga dapat berjalan dengan baik. Ketiga, sikap beriman juga perlu mendapat porsi yang seimbang.

REKOMENDASI

Keluarga

Orangtua bersama anak-anaknya turut ambil bagian dalam perayaan sakremental Gereja khususnya Ekaristi Hari Minggu dan pada hari raya keagamaan lainnya. Sebab, dengan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristis, semua anggota keluarga akan memperoleh jaminan keselamatan, sesuai sabda Yesus, Roti Hidup(Yoh. 6:51).

Kesepakatan dan kerjasama suami isteri dan keaktifan dalam mendidik dan membina iman anak dalam keluarga sehingga anak memiliki konsep yang benar tentang penghayatan imannya dan mampu mewujudkan imannya itu secara benar dalam hidup. Hal ini juga didukung dengan komunikasi yang penuh kebaikan dan cinta kasih antara orangtua dan anak dalam keluarga sehingga tercipta suasana damai sejahtera di tengah keluarga mereka.

Para Ketua Kelompok Umat Basis

Hendaknya ketua kelompok mengutamakan kepentingan anggota umat basis, melibatkan keluarga-keluarga kelompoknya aktif dalam berbagai kegiatan hidup menggereja yang bertujuan untuk membangkitkan semangat penghayatan iman, yang pada gilirannya anak-anak memperoleh gambaran hidup sebagai manusia beriman yang patuh dan setia kepada Gereja Katolik.

Menciptakan lingkungan keluarga yang diwarnai semangat berbakti kepada Allah dan saling mencintai di antara sesama warga kelompok dan stasi, seperti membiasakan keluarga mengadakan/mengikuti kegiatan doa, membaca dan merenungkan kitab suci, kunjungan doa ke taman doa, dan lainnya.

Bagi Paroki

Para Gembala di Paroki dapat memberikan motivasi kepada anak-anak untuk ikut ambil bagian dalam berbagai bentuk kegiatan peningkatan iman dalam keluarga, seperti rekoleksi, kegiatan Sekami, retret, serta kegiatan rohani dan penguatan kapasitas SDM lainnya yang diharapkan dapat menolong kesadaran anak akan imannya. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, akan membangun jalinan kasih persaudaraan-persahabatan di antara anak-anak dan bertumbuh rasa cinta mereka kepada Tuhan dan Allah secara pribadi.

Pastor paroki juga senantiasa meningkatkan perhatian bagi pembinaan iman umat, yakni dengan mengadakan kunjungan pastoral, mengadakan aneka dialog terbuka, dan mengikutsertakan para agen pastoral berpartisipasi dalam upaya peningkatan iman di wilayah parokinya.

REFLEKSI PRIBADI

Kristus yang kita imani sebagai Gembala Agung dan menjadi model kehidupan seluruh kaum beriman menjadi daya dorong semangat bagi keluarga-keluarga katolik untuk menerangi semua orang atau anak-anak yang berlindung di bawahnya. Keluarga-keluarga Katolik mengambil pola hidup sebagai pelita yang seharusnya terus berjalan sepanjang hidup untuk memberikan terang dan menghalau kegelapan jiwa bagi anak-anaknya. Ibarat induk ayam yang tahu, bahwa begitu anaknya tidak mau dilindungi olehnya begitupula anaknya berada dalam bahaya.

Persekutuan hidup keluarga-keluarga Katolik bersama dengan Allah yang adalah pemberi hidup menjadi inspirasi bagi pengikut-pengikut-Nya untuk menghantarkan anak-anaknya menuju pendewasaan iman yang matang dan kelak mereka pun meneruskan ajaran cinta kasih Allah itu sampai akhir zaman. Kita selaku orangtua atau pendamping tentu mengenal persis sikap dan watak dari masing-masing anak. Bila kita terbuka memohon penyertaan Allah dalam hidup mereka, maka percayalah segala sesuatu akan berjalan sesuai cita-cita dan harapan kita bersama Allah.

BUKU SUMBER

Embuiru Hereman (1997). Marga Bahagia. Ende: Nusa Indah

Gunarsih Singgih D (1995). Psikologi Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia

Heuken Adolf (1977). Pendidikan Kependudukan. Jakarta: Obor

Hooijdonk Van (1980). Seri pastoral No. 26. Manuskrip. Yogyakarta: Kanisius

Klein Paul (1983). Pedomal Awal Keluarga Kristen. Maumere: Ledalero

Konferensi Waligereja Indonesia (1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius

Lalu Yosef (1984). Yesus Teladanku. Jakarta: Obor

Lembaga Alkitab Indonesia (1987). Alkitab. Ciluar: Bogor

Marice Eminyan (2001). Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius

Paus Yohanes Paulus II (1995). Vaticana. Jakarta: Dokpen MAWI

Poerwadarminta, W.J.S (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Riberu J (1983). Tonggak Sejarah Pedoman Arah. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Dokpen KWI

Syiryock H (1981). Kemesraan Hubungan Suami-Isteri. Bandung Indonesia: Publishing House

Widyamaraya A (Penterj) (1995). Familiaris Concortio. Yogyakarta: Kanisius

Wignyasumarta Ign (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius

Yeron Wolfgang (1984). Katekis dalam Tugas Pastoral. Yogyakarta: Pusat Pastoral

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini