Linus Lusi: Kain Tenun adalah Karya Intelektual, Penenun Guru Besarnya

0
88
Kadis PK NTT, Linus Lusi, S.Pd., M.Pd., saat membuka Seminar Kajian Kain Tenun Malaka, Selasa (05/09/2023).

Kota Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan, kain tenun merupakan hasil karya intelektual penenun dari sebuah peradaban kebudayaan dan di dalamnya menyimpan berbagai hal yang sarat akan makna. Oleh karena itu, untuk menggali nilai-nilai dengan lebih mendalam, diperlukan dialog langsung dengan penenun sebagai guru besarnya atau yang jauh lebih memahaminya.

Hal tersebut diungkapkannya dalam Seminar Kajian Kain Tenun Malaka dengan tema “Tenun Malaka, Mengungkap Makna di Balik Motif” yang diselenggarakan oleh UPTD Museum Dinas PK NTT pada Selasa (05/09/2023) di aula setempat.

“Ketika kita mengkaji sarung Malaka, tentu pertanyaan kita, ada apa sebenarnya dengan ‘tais’ (kain, red) Malaka?. Secara historis ada kerajaan tertua, karena itu tentu ketika tertua berarti ada peradaban yang luar biasa dan karya-karya tempo dulu yang akan tumbuh dan berkembang,” ujar Linus Lusi saat membuka kegiatan tersebut.

“Esensi dari sebuah motif, apalagi dengan topik yang sangat menarik ini, pesannya luar biasa. Pesan peradaban pesan perjalanan atau hijrah dari suatu etnis, dari suatu tempat ke tempat lain. Tapi kalau dia tidak pernah dikaji, maka dia tidak mendapat nilai warisan untuk dikenang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Linus Lusi mengungkapkan, untuk mengangkat kain tenun Malaka agar lebih dikenal dan melestarikannya, dibutuhkan kerja sama serta tanggung jawab dari semua pihak.

“Dalam catatan Dinas PK NTT, Malaka memiliki lebih dari 15 ragam etnis dan 5 sudah diusulkan, tetapi kita butuh dukungan serta dokumentasinya sehingga warisan Kabupaten Malaka bisa terpelihara dengan baik,” jelasnya.

Linus Lusi juga menyampaikan, kegiatan tersebut penting sekali dilakukan secara rutin sebagai salah satu upaya memelihara dan mewariskan karya-karya intelektual kebudayaan. Selanjutnya, ia berharap untuk menghadirkan para penenun sebagai narasumber utama atau yang lebih paham mengenai kain tenun tersebut.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu untuk kita daraskan setiap saat. Diskusi-diskusi ilmiah ini tidak mungkin berhenti di dalam itu. Kepakaran tenun kain sarung bukan hanya kita di dalam ruangan ini, tapi mama-mama di Malaka yang setiap saat menenun, yang sekarang kita pakai saat ini, mereka adalah pakar sesungguhnya dari pertemuan yang bersifat ilmiah ini,” ungkapnya.

“Kita hanya meneliti, mengambil teori sana-sini dan sebagainya, lalu mengambil sebuah kesimpulan. Tetapi lebih jauh dari pada itu mereka adalah intelektual sesungguhnya di dalam diskusi ini. Sehingga saya harap, selanjutnya mereka juga diundang untuk menjadi narasumbernya dan bercerita tentang kain. Di situlah ada dialogis yang sangat bagus. Mereka adalah guru besar sesungguhnya,” tegasnya.

Sementara itu Kepala UPTD Museum Dinas PK NTT, Aplinuksi Meximus A. Asamani, S.Sos., M.Si., menuturkan, seminar tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pihak museum dan masyarakat secara umum agar lebih mendalami arti dan maksud terdalam dari kain tenun Malaka.

“Kegiatan ini bertujuan aagar pengelola museum dan masyarakat serta pengunjung dapat mengerti lebih jauh tentang potensi dan maksud serta memperkaya informasi holistik tenun Malaka yang berkaitan dengan sejarah, nilai, fungsi dan arti atau makna dari tenun tersebut di dalam kehidupan masyarakat,” jelas Aplinuksi Asamani saat menyampaikan laporan kepanitiaan.

Para narasumber.

Informasi yang dihimpun media ini, narasumber dalam seminar tersebut yakni; Ketua TP PKK/Dekranasda Kab. Malaka, drg. Maria Martina Nahak, M. Biomed. (Pemberdayaan Perempuan Penenun Malaka dalam Pelestarian Tenun Malaka), Akademisi FISIP Undana, Dr. Pertus Ana Andung, S.Sos., M.Si. (Tenun Malaka: Antara Kearifan Lokal dan Komunikasi Simbolik), dan Drs. Leonardus Nahak (Sejarah, Ragam Motif dan Makna Kain Tenun Ikat bagi Masyarakat Malaka).

Hadir pula dalam kegiatan ini Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Elis Setiati, Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Provinsi NTT, Petrus Seran Tahuk, Forkopimda Kabupaten Malaka, dan para akademisi beserta praktisi kebudayaan. (Yosi Bataona/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini