Sejak tahun 2013, area lapangan tengah SMA Negeri 4 Kupang selalu menjadi saksi bisu, ruang kreasi dan inovasi siswa lahir, mengakar, dan sudah membudaya, lewat rangkaian Pentas Seni (PENSI) yang rutin diadakan hingga hari ini. Musik selalu terdengar lebih hidup dari biasanya. Gerak tari selalu mengawang. Drama dan teater tradisi rutin dikumandangkan. Seni hidup dan menghidupi; jadi bekal untuk menginspirasi para siswa hingga lingkungan tempat tinggalnya.
Tiga puluh lima (35) tahun sudah, denting gitar bercampur bunyi gong-gendang, suara tawa siswa menyatu dengan aroma makanan tradisional yang dijajakan di tenda-tenda bazar. Di sudut lain, beberapa siswa sibuk menata lukisan dan properti tari. Ada yang mengenakan kain tenun, ada yang mempersiapkan koreografi, ada pula yang menguji mikrofon sambil menahan gugup sebelum tampil. Hari ini bukan sekadar perayaan ulang tahun sekolah. Di usia ke-35, SMA Negeri 4 Kupang sedang memperlihatkan sebuah gagasan penting: bahwa sekolah tidak hanya dapat menghasilkan produk pangan, tetapi juga dapat melahirkan produk seni dan kebudayaan sebagai bagian dari masa depan ekonomi kreatif anak muda Nusa Tenggara Timur.
Gagasan itu terasa semakin relevan ketika Pemerintah Provinsi NTT mendorong program One School One Product (OSOP). Selama ini, banyak sekolah menafsirkan OSOP sebagai produk olahan makanan dan minuman saja. Tidak ada yang salah dengan itu. Banyak sekolah berhasil menciptakan kopi kemasan, olahan jagung, sambal khas daerah, hingga aneka pangan lokal yang bernilai jual tinggi. Namun pertanyaan sederhananya: apakah produk sekolah hanya terbatas pada sesuatu yang bisa dimakan?
PENSI dan OSOP
Di tengah arus (deras) pemikiran di atas, Pensi di SMA Negeri 4 Kupang ingin menawarkan jawaban berbeda. Bahwa seni pun adalah produk. Tari adalah produk budaya. Musik adalah produk identitas. Lukisan adalah produk gagasan. Pertunjukan adalah produk kreativitas. Bahkan kemampuan tampil di atas panggung juga merupakan keterampilan ekonomi masa depan. Dan mungkin, inilah bentuk OSOP yang selama ini jarang dibicarakan.
Sudah 13 tahun (bahkan sebelumnya dalam skala terbatas), sekolah ini sebenarnya sudah memulai langkah itu. Pensi bukan hanya acara hiburan tahunan atau sekadar panggung pelepas penat setelah ujian semester. Di SMA Negeri 4 Kupang, pentas seni berkembang menjadi ruang pendidikan karakter, laboratorium budaya, juga ruang pergerakan ekonomi. Yang selalu mendapatkan dampak ekonomis secara langsung adalah para pengelola sanggar (baik pelatih ataupun alat musik), penyewa busana daerah (tari dan pakaian adat), penyedia tenda, kursi, dan penyedia sound system. Maka tidak salah lagi, jika produk-produk PENSI juga kedepannya bisa dijadikan OSOP agar sekolah bisa wirausaha dan mandiri; sekurang-kurangnya untuk mendongkrak kreativitas dan juga keperluan infrastruktur seni dan budaya lainnya.
PENSI SMA Negeri 4 Kupang Selalu Menarik
Bertahun-tahun, tema-tema yang diangkat pun tidak pernah sekadar ramai dan meriah. Ada tahun ketika siswa diajak berbicara tentang persoalan sampah dan lingkungan melalui konsep eco art. Sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah, tetapi diubah menjadi karya seni dan medium kritik sosial. Di tahun lain, pentas seni menjadi ruang refleksi kebudayaan dengan menghadirkan narasi tentang identitas lokal dan keberagaman. Dua tahun terakhir, tema yang diangkat bahkan terasa sangat emosional: Mari Kita Pulang Kampung (Jilid I dan II).
Tema ini lahir dari kegelisahan sederhana. Anak-anak muda NTT perlahan mulai jauh dari akar budayanya sendiri. Banyak yang mengenal budaya luar lebih baik dibanding cerita kampungnya. Banyak yang fasih menyanyikan lagu modern, tetapi lupa syair daerahnya sendiri. Banyak yang aktif di media sosial, tetapi asing terhadap ritual adat di keluarganya. Melalui pentas seni, sekolah mencoba mengajak siswa kembali mengenal rumah budayanya masing-masing.
Ada yang menampilkan tarian tradisional dari daerah asal orang tuanya. Ada yang mengaransemen ulang musik daerah menjadi lebih modern. Ada pula yang menampilkan drama tentang kehidupan masyarakat kampung dan perubahan sosial yang terjadi hari ini. Pensi kemudian berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar panggung hiburan, melainkan ruang untuk menemukan identitas.
Dalam kajian kebudayaan, pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Ki Hajar Dewantara pernah menekankan bahwa pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mampu hidup selaras dengan masyarakat dan kebudayaannya. Pendidikan bukan hanya soal angka akademik, tetapi juga proses membangun manusia yang mengenal akar dirinya.
Pandangan itu terasa hidup di ruang-ruang pentas seni sekolah. Anak-anak belajar bekerja sama, belajar memimpin, belajar menyusun konsep pentas, belajar mengelola konflik, belajar bertanggung jawab terhadap waktu dan latihan. Bahkan tanpa disadari, mereka juga belajar tentang manajemen produksi, pemasaran acara, desain visual, tata panggung, hingga komunikasi publik. Di titik inilah seni sebenarnya bertemu dengan kewirausahaan.
Ekonom kreatif asal Inggris, John Howkins dalam konsep creative economy menjelaskan bahwa ide, kreativitas, dan kekayaan intelektual dapat menjadi sumber ekonomi baru. Dunia hari ini tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan manusia menciptakan nilai melalui kreativitas. Apa yang dilakukan siswa dalam pentas seni sesungguhnya sedang bergerak ke arah itu.
Mereka tidak hanya menari, tetapi sedang belajar menjadi performer. Mereka tidak hanya bermain musik, tetapi sedang belajar menciptakan karya. Mereka tidak hanya melukis, tetapi sedang membangun identitas visual. Bahkan seorang siswa yang mengatur media sosial acara pun sebenarnya sedang belajar industri kreatif digital. Karena itu, ketika seni dipandang hanya sebagai pelengkap pendidikan, kita mungkin sedang terlambat membaca masa depan.
Hari ini, industri musik, konten digital, film pendek, desain visual, fotografi, hingga pertunjukan budaya telah menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan. Banyak anak muda mendapatkan penghasilan bukan dari pekerjaan konvensional, tetapi dari kreativitasnya.
PENSI, OSOP, dan Arah Pemerintah
Momentum penting, buah pikiran dari pesan-pesan di atas, senada terasa ketika Gubernur NTT hadir dalam rangkaian Dies Natalis ke-35 SMA Negeri 4 Kupang. Dalam kunjungannya, ia menyampaikan bahwa pekerjaan seni memiliki masa depan yang besar bagi generasi muda NTT. Ia mencontohkan bagaimana karya-karya anak muda daerah mulai dikenal lebih luas, termasuk musisi-musisi lokal yang berhasil menembus pasar nasional bahkan Asia. Salah satu yang disebut ialah karya-karya dari Rian Silet Open Up yang perlahan mendapatkan ruang di luar daerah. Pernyataan itu sederhana, tetapi memiliki pesan penting: bahwa seni bukan lagi jalan sampingan.
Selama ini, banyak orang tua masih memandang dunia seni dengan rasa cemas. Seni dianggap tidak menjanjikan masa depan ekonomi yang pasti. Akibatnya, banyak anak muda dipaksa meninggalkan bakat kreatifnya demi pekerjaan yang dianggap lebih aman. Padahal dunia sudah berubah.
Hari ini, seorang kreator konten bisa memiliki penghasilan besar. Seorang musisi independen bisa hidup dari platform digital. Seorang ilustrator bisa bekerja lintas negara. Bahkan pertunjukan budaya lokal pun kini menjadi bagian penting dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. NTT sebenarnya memiliki modal budaya yang luar biasa besar untuk itu.
Kekayaan tenun, musik tradisional, tari daerah, cerita rakyat, hingga kekuatan visual budaya lokal adalah aset kreatif yang tidak dimiliki semua daerah. Persoalannya hanya satu: apakah sekolah berani menjadikan budaya dan seni sebagai investasi masa depan?
SMA Negeri 4 Kupang tampaknya sedang mencoba menjawab pertanyaan itu. Melalui Pensi, sekolah sedang membuktikan bahwa OSOP tidak harus selalu berbentuk produk fisik. Produk juga bisa berupa kreativitas manusia. Produk bisa berbentuk pertunjukan seni. Produk bisa berupa karya musik. Produk bisa berupa festival budaya sekolah yang melibatkan masyarakat. Dan yang paling penting, produk itu lahir dari identitas daerah sendiri.
Di tengah derasnya budaya global, sekolah ini justru memilih pulang kepada akar lokalnya. Ada keberanian untuk mengatakan bahwa budaya daerah bukan sesuatu yang kuno. Bahwa tradisi tidak harus kalah dari modernitas. Bahwa anak muda tetap bisa keren tanpa kehilangan identitas budayanya. Barangkali di situlah letak makna paling dalam dari Pensi sebagai OSOP.
Ia bukan sekadar agenda tahunan sekolah. Ia adalah bentuk pendidikan kebudayaan. Ia adalah ruang latihan ekonomi kreatif. Ia adalah cara sekolah menyiapkan masa depan anak-anak NTT dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan kontekstual. Lebih jauh lagi, ia adalah ruang pendidikan karakter yang hidup. Tempat anak-anak belajar menjadi manusia yang kreatif, berbudaya, disiplin, peduli, dan mampu bekerja bersama orang lain.
Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, dari panggung sederhana di halaman sekolah itu akan lahir penari, musisi, sutradara, pelukis, desainer, kreator digital, atau pengusaha kreatif yang membawa nama NTT lebih jauh lagi. Karena terkadang, masa depan tidak selalu lahir dari laboratorium yang megah. Kadang-kadang, ia lahir dari panggung kecil sekolah, dari bunyi gitar yang sederhana, dari tarian anak-anak kampung, dan dari keberanian sebuah sekolah untuk percaya bahwa seni juga adalah produk masa depan. (*)



Keren ulasannya.