Ada Apa dengan Cinta Guru?

0
189
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota Komunitas Secangkir Kopi (KSK) Kupang.

Kata Guruku Tentang Cinta

Guru Sandradewi, ahli listrik yang baru saja menyelesaikan percobaannya, mengumumkan hasil temuannya kepada ahli lainnya di bengkel kerjanya. “Saudara-saudari, cinta adalah pertemuan antara ion positif dan negatif yang menghasilkan arus bertegangan tinggi”.

Elisa, Ahli Biologi menyambung, “Yang bertegangan tinggi sekali itu, sebagai pertemuan sel telur dan sperma yang menghasilkan janin. Janin itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang menguasai dunia matematika.

Berdasarkan pengalamannya, ibu Ani si matematikawan menuliskan rahasia rumus cintanya: “(X) Kasih X (Y) Sayang = XY2 Kasih Sayang Kuadrat”.

Kasih sayang ini oleh ibu Ana Ekonom-Wirausahawan dilihat sebagai prinsip untuk maju dalam hidup. Lahirlah moto terkenal: “Mengeluarkan modal cinta sesedikit mungkin untuk mendapatkan laba cinta sebesar-besarnya”.

Dua sejoli pernah berguru pada ahli bahasa, Liliana, guru Bahasa Indonesia dengan angka keberuntungan 68. Darinya, diperoleh arti cinta yang penjelasannya tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa “Cinta adalah merangkai kata-kata indah, mengucapkannya secara puitis kepada dia yang aku cintai sambil menjaga api cinta tetap nyala”.

Musta, penjaga sekolah sekaligus Pembina OSIS yang berada dalam bangunan tersebut, tak jemu-jemunya nyaringkan tenor-nya dalam doa batin: “Cinta untuk orangtua dan sekolahku, hanguskan aku di sini, di rumah kita”.

Pimpinan sekolah, Mama Theodora dalam getaran nada keibuannya mengafirmasi: “Jika aku dan engkau, dan kita mencintai segalanya dalam Sang Segala, kita menemukan misteri Ilahi dalam segalanya, sebab Allah adalah Sang Segala sebelum adanya waktu. Cinta-Nya itu yang harus kita tanamkan-tumbuhkan-kokohkan dan petik berlipat ganda hasilnya, karena seorang pekerja di sekolah patut mendapat upahnya dari perbuatan cintanya itu”.

Mendengar Cinta Bicara

Kita senang mendengar sesuatu yang menyenangkan, tetapi menutup telinga jika sebaliknya. Setiap kata bisa membangun, bisa pula meruntuhkan. Kata-kata mengikat dan membebaskan. Jika perkataan mengajak, teladan lebih menarik, tetapi tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata. Setiap kata memiliki kekuatan untuk menghidupkan dan membunuh. Bukankah setiap kata yang lahir dari permenungan mendalam, dan dari iman tulen adalah sebuah doa yang bernas?

Dari lidah lembut keluarlah kata. Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati. Dari lidahnya mengalir pidato yang manis seperti madu. Demikian kata-katanya, demikian pula pikiran dan perasaannya. Perkataan yang tak berkepala dan berkaki sama artinya dengan ngomong doang yang tak ada ujung pangkalnya. Perkataan kritis, padat, berisi, berupa hikmat kebijaksanaan datangnya dari Allah.

Siapa ingin memahami sedalam-dalamnya dan menikmati sepenuh-penuhnya kata-kata Kebenaran, hendaklah ia berusaha menjadi pengikut Kebenaran yang menyesuaikan hidupnya dengan Kebenaran itu sendiri. Jika kita dituntun oleh Firman, kita tidak akan jatuh dalam kesalahan, karena yang bersabda dibaliknya adalah Roh Tuhan.

Jika seorang tidak menurut perkataan sehat dari pewarta cinta dan tidak menurut ajaran agama yang sesuai dengan ibadah yang benar, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya telah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percecokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan kehilangan kebenaran.

Sebaliknya, orang yang mendengar suara cinta dan kebenarannya, ia seumpama pohon yang ditanam di tepi aliran sungai yang berbuah sepanjang tahun. Ia seorang bijaksana yang tahu apa-apa, tetapi sadar bahwa ia belum tahu apa-apa. Ia selalu diam, dan dalam diamnya ia belajar menemukan. Karena ia diam, maka ia tidak berdosa. Karena diam, ia masih dianggap filsuf yang memang tidak banyak bicara selain bermenung sembari mewujudkan kontemplasinya dalam tindakkan kreatif-karitatif.

Dalam diamnya, sang Guru dari Timur bersuara: “Saya dengar saya lupa; saya lihat saya ingat; saya mengerti saya lakukan; saya lakukan saya mampu”. Sang Guru dari Barat menalarnya: “Bila saya ditanya saya tidak tahu jawabannya, bila saya tidak ditanya saya tahu jawabannya”.

Menjembatani ini, datanglah sang murid Guru anak rohani Guru dari Utara dengan nasihat rohaninya: “Lebih baik berdoa dengan hati tanpa kata-kata dari pada berdoa dengan kata-kata tanpa hati. Jangan berpikir banyak tentang cinta tetapi berbuat banyak cinta. Cintailah, maka anda pun akan dicintai bahkan oleh musuh sekalipun”.

Yah, terkadang kata-kata kita tanpa hati dan memerihkan hati pendengar. Hati kita juga sering tanpa kata. Inilah buah yang dicicipi orang lain dari kita.

Dari buahnya kita dapat mengenal pohon itu. Dari perbuatannya, seseorang itu dapat dikenali. Kita hanya bisa menikmati buah refleksi iman dan refleksi ilmiah kritis segar manis bila telah bergulat dalam renung cinta waktu. Waktu berubah, manusia pun berubah di dalamnya. Hanya yang tidak berubah dalam perubahan itu adalah perubahan itu sendiri.

Apakah engkau mencintai aku karena tipu muslihat yang kuperankan di depan wajahmu ataukah engkau mencintai aku karena telah selami kemurnian jiwaku? Jika engkau mencintai aku: selidikilah aku, dan kenalilah hatiku; ujilah aku dan kenalilah pikiranku. Lihatlah, apakah jalanku serong? Tuntunlah aku di jalan kecil menuju CINTA. Jangan bertanya apa yang sudah diberikan oleh sekolah kepadamu, tetapi bertanyalah apa bukti cintamu yang sudah kau berikan untuk sekolah yang kau cintai?

Apakah kata-kata yang sudah terucapkan dan telah dituliskan ini sudah menjawabi pertanyaan: “Ada apa dengan cinta guru?” Guruku yang penuh cinta di sekolah, jawablah! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here