Balada Desember: Debat Panas Pohon Natal Vs Baliho Caleg-Capres

0
72
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI)

Alkisah, di sepanjang jalan bernama Kenangan dan di Lorong bernama Waktu, berbaris tak rapi pohon-pohon Natal dan baliho-baliho para caleg dan capres. Saling berhimpit. Ada yang duduk, dan ada yang berdiri. Mereka semua di bawah kuasa anak-anak muda, kebanyakan usia pelajar dan mahasiswa, memasang dan memajang aksesori ditambah lampu kerlip warna-warni. Indah namun sementara. Membawa kesan tanpa pesan. Unik. Paradoks.

Begitu pula polesan baliho para pujangga kata, pemilik janji-janji (manis), berusaha dipajang agar semakin tinggi dipandang, panjang dan sangat lebar agar semakin besar ditatap. Gambar wajah yang dipilih adalah yang terbaik. Senyum lebar pertanda nanti akan puas ketika terpilih, ditambah ‘make-up’ paling ‘glowing’. Para kaum Adam pun tak mau ketinggalan. Memoles kumis dan jenggotnya di barber-shop ternama.

Di beberapa tikungan jalan Kenangan, gambar wajah sedikit bervariasi. Kadang ada satu orang yang sama, model fotonya ada yang berkumis, ada pula  yang tak berkumis. Di satu sudut ia tersenyum. Di sudut lain ia serius sambil mengepalkan tangan. Orang ini sungguh unik. Atau memang ia sedang merencanakan dua foto di surat suara nanti, supaya bisa dikalikan dua.

Sekali lagi, pohon-pohon Natal dan baliho para caleg-capres (selanjutnya ditulis PonBal), di bawah kuasa anak-anak muda, kebanyakan usia pelajar dan mahasiswa, yang menjalankan tugas memasang dan memajang sambil selalu ditemani minuman keras (miras) dan lagu-lagu bernuansa Natal. Semakin larut mereka mengerjakan tugasnya, maka semakin panas suasana sekitaran area PonBal. Bintang yang seharusnya diujung pohon Natal, mereka pajang di bagian tengah, katanya, “Biar Bintang juga menerangi dan menuntun hati manusia, bukan hanya kepalanya saja”. Ada juga beberapa bocah yang berdiri di samping baliho caleg, sambil mengepalkan tangan, membaca terbata-bata, sembari berteriak, “Sa-ya si-ap ber-ju-ang un-tuk ka-ya, eh, un-tuk rak-yat’’.

Debat Panas PonBal

Di tengah rintikan hujan di suatu malam Minggu, suasana sepanjang Lorong Waktu yang gelap itu sangatlah gaduh. Tetapi tak ada orang di sana. Ternyata kumpulan PonBal sedang berdebat. Mereka menyoal tiga isu yang diperdebatkan anak-anak muda ketika malam sebelumnya mabuk-mabukan, selepas menjalankan “tugas”. Soal pertama adalah tentang sejauh mana pentingnya pohon Natal dan baliho-baliho itu harus dipajang, bahkan sampai berdekatan, saling berhimpit. Soal kedua tentang apa makna mereka bagi pendidikan zaman sekarang. Ketiga adalah persoalan sampah di sekitaran PonBal.

“Kamu terlalu dekat denganku. Nanti anak-anak yang datang melihatku tak bisa memaknai rangkaian Natal. Mereka ingin melihat pohon terang, tetapi terhalang oleh hitam kumismu yang garang itu,” ujar pohon Natal mengawali pembicaraan.

“Momen sekarang yang paling penting adalah keberadaan saya. Kamu tiap tahun kan terus ada. Saya sesekali muncul di bulan dingin seperti ini. Apa yang tertulis di samping foto saya ini juga adalah tekad, janji, dan naluri saya dari lubuk hati paling dalam untuk membangun negeri kita ini dan membangun masa depan anak-anak yang berkunjung ke kamu itu. Tolong hargai semangat saya. Bukankah makna Natal agar kita juga bisa saling menghargai, seperti para raja yang menhargai bayi mungil itu?’’ timpal baliho salah satu caleg dapil Kota Konoha.

“Kamu terlalu banyak ngomong. Kita ini bukan anak kecil lagi yang senang dengan omongan bualanmu. Geser sana. Pokoknya ini bulanku. Keberadaan kalian merusak suasana Natal-an kami. Mana berdirinya tidak rapi lagi. Tidak dipajang pada tempatnya. Kan ada Undang-Undang yang mengatur lokasi kalian kan? Ini turut suka saja menghalangi pasonaku,’’ sambung pohon Natal.

“Walah… palingan orang-orang yang datang melihatmu juga mereka hanya numpang foto saja. Bagi mereka, Natal yang sebenarnya bukan pohon Natal, bukan bayi mungil di kandang Natal, tetapi adalah baju baru dan swa-foto sana-sini. Kamu hanya jadi pajangan di pinggir jalan. Bau, kehujanan, berdebu. Sayang. Dan anehnya, kamu juga dijadikan bahan untuk dilombakan? Hahaha… masa’ harga dirimu sama dengan sepeser rupiah dan sebongkah piala? Sementara di gereja-gerja, orang-orang tidak membuat pohon dan kandang Natal yang menarik, bukan?’’ ujar baliho sembari penuh tertawa.

“Lah! Aku tak seperti yang kau nilai. Sengaja engkau menilaiku seperti itu. Sekurang-kurangnya kehadiran saya menambah kreativitas bagi anak-anak muda, mereka bisa mengaplikasikan apa yang dipelajari di sekolah tentang seni rupa 3 dimensi di sini. Seni, kan? Anak-anak zaman sekarang perlu diberi ruang seperti ini. Daripada kamu, janji-janji manismu hanya menguap begitu saja. Itu mengajarkan kebohongan dengan penuh percaya diri. Anak-anak sekarang cepat percaya. Apalagi ada receh. Mereka tidak menganalisa lagi kata-kata dari mulutmu itu. Pendidikan mereka penuh dengan hal-hal instan darimu,” celoteh pohon Natal sembari memainkan kerlip lampunya.

“Jangan banyak ngomel lah. Kamu liat deretan kami, dipajang kuat ke dalam tanah. Teman-temanmu? Baru hujan dan angin satu kali saja sudah jatuh. Dan beberapa mungkin terbang kembali ke Betlehem, dibawa angin semi Seroja. Ujung-ujungnya, semuanya akan jadi sampah. Ada tuh tahun lalu yang dipajang sampai Paskah, pun saat terik di bulan Juni, mereka tidak membukanya. Alhasil, dirimu jadi sampah. Katanya unik dari barang bekas, ya, jadi barang bekas yang bekas lagi,” ujar baliho.

“Tak apa. Asalkan saya tidak menjadi sampah ma-sya-ra…’’.

“Diam kau!!!”.

Perdebatan mereka berhasil ‘dikuping’ seorang remaja nakal yang belum lancar membaca di lorong itu. Ia mengusap matanya yang lesu, mengambil ukulele kesayangannya dan bernyanyi:

I started a joke, which started the whole world crying,
but I didn’t see that the joke was on me, oh no.

I started to cry, which started the whole world laughing,
oh, if I’d only seen that the joke was on me.

I looked at the skies, running my hands over my eyes,
and I fell out of bed, hurting my head from things that I’d said.

Til I finally died, which started the whole world living,
oh, if I’d only seen that the joke was on me.

I looked at the skies, running my hands over my eyes,
and I fell out of bed, hurting my head from things that I’d said.

‘Til I finally died, which started the whole world living,
oh, if I’d only seen that the joke was one me.

(I Started a Joke – Bee Gees, 1968)

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here