Menjadi Guru Penulis (?)

0
77
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis dan Wakasek Kesiswaan SMKN 7 Kupang

PENGANTAR

Scribo ergo sum. Istilah Bahasa Latin diterjemahkan sebagai saya menulis, maka saya ada. Apa yang saya pikir, dan apa yang saya kehendaki itu saya wujudkan dalam tindakan menulis. Apa yang saya tulis dan apa isinya menggambarkan siapa diri saya dalam memahami sesuatu (objek yang ditulis/dibicarakan), menggambarkan pribadi dan kehendak saya. Tulisan saya menggambarkan kualitas pikiran saya dan kompetensi saya.

Ketika saya menulis, kata-kata ini bergaung dalam masyarakat dan sepanjang masa. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan apa yang saya tulis dan para penulis tuliskan menuju keabadian itu.

Potret seorang penulis guru selalu abadi, tak pernah hilang ditelan sejarah. Dalam sejarah itu, ia dikenang di masa lampau, dikenal masa kini, dan dirindu di masa mendatang. Kehadirannya terdokumentasi dalam tulisan dan tindakan literer yang menyejarah entah dalam jaringan (daring/online) maupun luar jaringan (luring/offline) untuk menghasilkan manusia cerdas berkualitas. Manusia cerdas biasanya meninggalkan jejak-jejak kehidupannya dalam ragam tindakan, tulisan adalah salah satunya.  Tulisan tentang mereka dapat kita lihat dalam tulisan fiksi (novel, cerpen, dll) dan non-fiksi (karya tulis ilmiah).

MENGAPA GURU MENULIS?

Sejumlah alasan terlontar. Umunya, melengkapi administrasi pembelajaran (modul dan bahan ajar); menyukseskan praktik Gerakan Literasi Sekolah; pengembangan kompetensi guru tuntutan assesmen nasional (raport mutu Pendidikan sekolah); menyelesaikan tugas Diklat: pendidikan profesi guru (Guru Penggerak); tuntutan administrasi kenaikan pangkat/golongan; tes kepemimpinan kepala sekolah. Jawaban khusus yang lebih menukik: mengawetkan setiap pengetahuan; mengarsipkan buah pikiran yang sekarang untuk esok warisan generasi selanjutnya; menghasilkan uang, dikenal, dan terhubung dengan dunia luar.

APA YANG KITA TULIS?

Ragam Tulisan kita bisa berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan Fiksi dapat dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni puisi (puisi lama dan puisi modern), prosa (cerpen, novel, dan novelet), dan drama (skrip untuk drama, sinetron dan film). Tulisan Nonfiksi dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yakni tulisan akademik (kependidikan, dan penelitian), dan tulisan informatif (kisah, laporan, ringkasan, dan ulasan).

Apa yang Dibuat untuk Mulai Menulis?

Bila seorang ingin menjadi guru penulis, maka cara untuk mulai menulis adalah pertama, mulailah menulis, itulah jawaban menjadi seorang penulis. “Silahkan menulis dan anda akan menjadi penulis. Tulislah apa saja yang ada dalam pikiran atau yang sedang dipikirkan, apa saja yang ada dekat kita yang disukai dan yang dirasa bisa ditulis. Tulislah sesuatu setelah membaca bacaan yang ada kemiripan dengan apa yang hendak ditulis. Menulis adalah membicarakan apa yang dialami, dan bukan membicarakan apa yang mau dilakukan.” Menulis itu adalah guru terbaik bagi diri.

Kedua, berhentilah bicara, mulailah membaca, mulailah menulis. Kewajiban utamanya membaca lebih banyak buku/referensi yang mempunyai kemiripan dengan tema yang akan kita tulis/genre tulisan kita, dan lebih banyak tindakan menulis supaya pada waktunya bisa menjadi guru penulis. Dan ketiga, Gunakan formula baku dengan pertanyaan: 5W + 1 H.  Namun ada masalah sewaktu akan menulis. Apakah itu?

Masalah Sewaktu Menulis

Bila kita sudah mengerti apa yang harus dibuat untuk mulai menulis, saya memilih tiga masalah pokok yang berkaitan langsung dengan menulis.

Pertama: Bagaimana atau darimana mendapatkan masalah (bahan/materi/ide) untuk sebuah tulisan (modul, bahan ajar, buku, refleksi, artikel, dll)? Masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara dasein et dasolen (antara harapan dan kenyataan). Masalah adalah segala sesuatu yang belum diketahui duduk persoalannya. Masalah (tema) yang akan diangkat dalam tulisan itu bisa dari subjek penulis atau bisa juga dari pihak yang mendanai/sponsor (permintaan dari sekolah, penerbit, dll).

Kedua: Bagaimana merumuskan masalah tersebut? Masalah (tema) yang diangkat dalam tulisan kita tentu punya alasannya, keunikannya, dan eksistensinya. Ia diterjemahkan dalam rumusan pertanyaan penuntun 5W+1H dan terutama rumusan pertanyaan How-Bagaiman? Setelah merumuskan masalah, kemudian diterjemahkan dalam judul.

Ketiga: Bagaimana membuat judul? Judul merupakan verbalisasi buah pikiran yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti untuk tulisan kita. Judul merupakan sarana komersial yang berusaha menggoda pembaca untuk membaca tulisan kita. Judul sebaiknya singkat, padat, provokatif, tidak lebih dari 5-7 kata.

Ide Tulisan Didapat dari Mana?

Ide, dapat dipicu oleh tiga hal, yakni peristiwa, momentum, dan fenomena. Ada banyak jalan untuk mendapatkan bahan tulisan: studi pustaka, wawancara, menyiapkan hasil penelitian, menggali pengalaman.

Saya biasanya mendapatkan ide menulis dalam point-point berikut. Pertama, Alam Semesta (angin yang bertiup, hujan, kayu, batu, kursi, meja, daun kering, plastik, pena, pensil, matahari, dingin, malam, dll). Kedua, media dan teknologi. Media cetak: buku-buku, artikel, koran, kitab suci, majalah cetak dan majalah elektronik. Ketiga, Realitas sosial: berita aktual di masyarakat, di sekolah, gejala alam, dll. Keempat, Tokoh: pengalaman diri sebagai sumber primer maupun tokoh inspiratif lain yang dipandang unik, istimewa, menarik.

BAGAIMANA KITA MENULIS?

Saya uaraikan percik pengalaman, tips menuangkan ide dalam tulisan yang dipergunakan selama ini. Isinya mungkin belum ideal, sebagai berikut.

Pertama, Preparing, didalamnya persiapan fisik (kesegaran dan kebugaran fisik) dan persiapan non fisik (menentukan apa yang mau ditulis dan mau tulis tentang apa? Menyiapkan peralatan menulis dan menentukan objek dan genre tulisan).

Kedua, Planing and action. Pada bagian ini penulis sesegera menulis bila ada gagasan yang mampir/lewati pikiran kita dimana saja kita temukan; dengarkan musik instrument atau musik yang cocok dengan jiwa kita sambari membaca dan menulis; tulislah pada waktu yang paling sesuai dan nyaman; fokus pada hal apa yang mau ditulis, entah itu ide dari penulis sendiri ataupun ide dari pihak lain, entah tulisan fiksi atau non-fiksi; teguh hati pada tema tulisan/judul tulisan yang sudah dimantapkan dengan memperhatikan Model 5W+ 1H; atau untuk Esai Reflektif bisa Model STAR (situation, task, action, result); atau Model 4 F (fact, feeling, finding, future);

Setelah menjawab pertanyaan pada salah satu model penulisan (5 W + 1 H; STAR; 4 F), selanjutnya menyajikannya dalam bentuk naskah artikel berkarakter minimal 750 – 1500 kata. Tulisan kita sebaiknya logis, ada keterhubungan ide tiap tema-tema, antar judul dan sub judul, antar alinea, dan antarkalimat, secara keseluruhan dalam tulisan saling berkaitan bagai mata rantai; dan mengorganisasi tulisan kita dengan memperhatikan apakah keruntutan pada pengantar, isi dan penutup sudah rapih, tepat, dan benar.

Ketuga, Inkubasi. Susun tulisan kita dan perbaiki atau pembetulan dari kesalahan pengetikan, penggunaan bahasa-diksi, isi tulisan, kedalaman materi, format penulisan, kaidah penulisan dan tampilan tulisan kita untuk genre artikel, modul, bahan ajar, buku fiksi dan non fiksi, dan lainnya. Bila kehabisan kata-kata/ide, kebuntuan sewaktu menulis, berhentilah sejenak. Masa tenggang ini digantikan dengan cara rehat sejenak, berkebun, siram bunga, cuci piring, rileksasi dan rekreasi, juga reflektif untuk mendapatkan inspirasi baru dan segar.

Keempat, Illuminasi. Mulailah menulis kembali sambil memecahkan tulisan kita menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah. Kemudian, baca lagi hal apa saja/hal lainnya yang berhubungan dengan tema tulisan kita. Kemudian tuangkan dalam isi tulisan bila ada bagian yang mesti diperkaya.

Kelima, Verifikasi. Pada bagian ini periksa keseluruhan isi tulisan kemudian siap dicetak. Hasil cetakan tulisan ataupun dalam bentuk softcopy disodorkan pada mentor/editor untuk dikoreksi seperlunya guna mendapat masukan dan pengayaan. Hasil perbaikan-koreksi dari para korektor tadi diterjemahkan dalam tulisan kita dan dianggap sudah terbaik versi kita saat ini yang akan mengalami perbaikan-penyempurnaan terus.

Keenam, Publikasi. Tulisan yang sudah dicetak bisa kita pasarkan sendiri ataupun bisa juga ditawarkan kepada pihak yang mendanai kita menulis (sponsor/penerbit/sekolah) sesuai kesepakatan. Langkah selanjutnya, buat analisis SWOT atas tulisan kita: siap dipasarkan atau dicetak untuk kalangan sendiri dahulu atau untuk umum.

PENUTUP

Proses menulis dapat digambarkan berikut: Writing (menulis) – Drafting (draf menulis) – Revising (merevisi) – Self-Editing (swasunting) – dan Publishing (menerbitkan). Jadilah Guru Penulis. PENULIS sebagai akronim dari: P: Pilih tema yang akan ditulis sesuai bidang kita. E: Ekstra membaca buku. N: Networking luas berkualitas dengan orang yang bisa membantu kita. U: Utamakan berlatih menulis. L: Luangkan waktu menulis. I: Ide itu segera dituangkan dalam tulisan. S: Siapkan mentor terbaik untuk mengoreksi karya kita. (*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini