Dekalog merupakan ungkapan kasih Allah kepada manusia, serta jalan menuju kebahagiaan sejati. Untuk menjamin kebahagiaan hidup bersama sebagai umat-Nya ini, Tuhan menurunkan sepuluh perintah Allah kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa di gunung Sinai (lih. Kel. 20:1-17, dan Ul. 5:1-21). Sepuluh Perintah Allah ini bukanlah syarat supaya mereka diselamatkan, sebab Tuhan Allah sudah terlebih dahulu menyelamatkan bangsa Israel, dan sudah terlebih dahulu membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Maka sebelum disebutkan kesepuluh perintah-Nya, mereka diingatkan Tuhan pernyataan “Akulah Tuhan, Allahmu”, artinya Akulah Yahweh, Allahmu yang menyelamatkan engkau, yang telah membebaskan engkau dari perbudakan Mesir.
Sebagai konsekuensi sudah diselamatkan oleh Tuhan, bangsa Israel harus hidup dalam kasih terhadap Tuhan dan sesama. Maka disebutlah kesepuluh perintah itu. Perintah pertama sampai tiga, mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal); sementara perintah keempat sampai kesepuluh mengatur hubungan manusia dengan manusia (horizontal).
Tradisi Gereja yang setia kepada Kitab Suci dan yang mengikuti teladan Yesus, selalu mengakui keunggulan Kesepuluh Perintah Allah serta pentingya. Orang Kristen diwajibkan untuk mengamalkannya (KKGK # 438). Selanjutnya kita merefleksikannya dalam pengalaman keseharian umat beriman.
Apakah maksud Perintah Pertama: jangan memuja berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih daripada segala sesuatu? Bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan dicintai. Supaya kita taat kepada Tuhan, berpengharapan, dan terutama mencintai-Nya atas segalanya dan hanya menyembah Dia (Mat. 4:10). Kita menampakkan iman kita akan Tuhan lewat perbuatan iman, berdoa demi meningkatkan iman, dan belajar agama supaya dapat melaksanakan ajaran-Nya. Kita melanggar perintah pertama bila memuja berhala, takhayul atau dosa sakrilegi dan menghina orang kudus; tak pernah berdoa, atau berdoa tanpa hormat; tak mengikuti kurban Misa; lebih suka nonton tv dan bermain-main, main games (playstation, free fire, dll) dan lainnya daripada ke gereja; kurang menerima sakramen. Seorang dikatakan menyembah berhala apabila orang itu memberi kepada orang lain atau kepada benda-benda kemuliaan yang hanya untuk Tuhan, atau hal-hal lain yang menggantikan posisi Allah dalam hati kita sama seperti dalam bentuk uang, kekuasaan, popularitas, ketakhyulan, percaya akan ramalan bintang, ilmu gaib atau pelayanan kepada setan.
Berhubungan depan perintah pertama ini, doa dapat sebagai jalan menuju persekutuan dengan Tuhan. Muncul pertanyaan: Apa itu doa? Bagaimana kita harus berdoa? Apa yang harus kita buat dalam doa? Bilamana kita harus berdoa? Begini. Doa berarti mengangkat pikiran dan hati kepada Tuhan dalam cinta kasih dengan penuh perhatian, hormat dan cinta, dan dengan bertekun. Dalam doa kita mesti menyembah, memuji, dan mengucap syukur kepada Tuhan; memohon ampunan atas dosa-dosa kita; memohon rahmat dan karunia-Nya untuk diri kita sendiri dan untuk sesama kita. Kita harus berdoa di waktu bangun pagi dan waktu malam sebelum tidur; sebelum dan sesudah makan; bila berada dalam gereja/kapela; dalam godaan dan bahaya; dan dalam semua aktivitas harian kita.
Penerapan perintah pertama dalam konteks di sekolah, dengan mengutamakan kegiatan kerohanianan (doa, ibadat, Misa) di atas kegiatan duniawi (hura-hura, mengejar nilai semata). Sementara tindakan di masyarakat, dengan menghindari praktik perdukunan atau ramalan, menolak tawaran suap atau korupsi.
Selanjutnya, apa maksud Perintah Kedua: jangan menyebut nama Allah, Tuhanmu, tidak dengan hormat? Supaya kita selalu hormat kalau menyebut atau mengucapkan nama Tuhan dan nama Yesus Kristus dan atau Santa Maria. Nama Allah adalah kudus dan harus dihormati. Menyebut nama Allah dengan sembarangan atau untuk tujuan yang tidak baik adalah dosa. Berhubungan dengan hal ini, ada kalimat jangan bersumpah dusta. Yaitu, jangan menyebut nama Tuhan sebagai saksi bahwa kita berkata benar, padahal kebalikannya.
Bagaimana penerapan perintah kedua ini di sekolah? Dengan menghhormati symbol-simbol keagamaan yang ada di sekolah, dan dengan menghindari kata-kata kotor atau makian yang menggunakan nama Tuhan. Hal yang dapat dibuat di lingkunan masyarakat, seperti membela nama baik iman (agama) jika dihina, tidak bersumpah palsu atas nama Tuhan.
Apa yang diminta Perintah Ketiga: kuduskanlah hari Tuhan? Kita harus menguduskan hari Minggu, hari raya yang disamakan dengan hari Minggu (Natal dan Kenaikan Tuhan), hari pesta yang diwajibkan. Kita tidak menguduskan hari Tuhan ketika: tidak ke gereja pada hari Minggu, terlambat ikut Misa, bolos, berbincang selama Misa, melakukan pekerjaan berat yang menjauhkan kita dari Tuhan pada hari Minggu.
Walau demikian, kita dapat menguduskan hari Minggu dengan: hadir Misa pada waktunya; menggunakan hari itu untuk beristirahat dalam dan dengan Tuhan; membaca buku rohani, kitab suci atau riwayat para kudus; dan tidak menjalankan pekerjaan terlarang. Bila pada hari Minggu itu tidak ada imam, apa yang kita perbuat? Kita berdoa di gereja, mengikuti upacara sabda, kalau tidak ada halangan yang sah harus mengikuti perayaan Misa pada Hari Minggu.
Bagaimana perepan perintah ketiga ini di lingkungan sekolah dan di masyarakat? Di sekolah kita mengikuti kegiatan peribadatan dengan khusuk, dan menghindari kegiatan yang dapat mengganggu kekhusyukan hari Tuhan/peribatan. Sementara di masyarakat, kita meluangkan waktu untuk berdoa bersama keluarga, mengunjungi orang sakit, atau melakukan kegiatan social di hari minggu.
Bagaimana dengan Perintah Keempat: hormatilah ibu-bapamu? Supaya kita menghormati orang tua kita (ibu dan bapak), semua pembesar kita (pejabat rohani maupun jasmani); mengasihi orangtua (dan wakilnya); dan menuruti perintahnya. Anak wajib mencintai, menghormati, menaati, dan menolongnya. Orangtua wajib mengasuh, mendidik secara Katolik, baik di rumah maupun melalui sekolah dan lembaga Katolik. Kita melawan perintah keempat bila: membantah, memaki atau memukul ibu bapaknya, nakal; tidak membantu mereka pada waktu susah atau sakit; tidak menuruti perintahnya dalam hal baik; tidak mendengar nasihat mereka; tidak mau membantu pekerjaan rumah; dan mengolok-olok nama orangtua temannya.
Sesuai perintah ini, mengapa kita harus menghormati pembesar rohani dan jasmani? Kekuasaan dan hak mereka berasal dari Allah. Kewajiban kita terhadap negara kita adalah memperlihatkan cinta kasih sejati kepada nusa dan bangsa NKRI; taat kepada pemerintah yang sah. Sebagai catatan bahwa kita tidak boleh menuruti perintah orangtua/atasan atau pembesar kita, jika kita disuruh melakukan perbuatan dosa, misalnya kita disuruh menyembah berhala, disuruh mencuri, dsb. Demikian juga peraturan adat yang baik yang sesuai dengan ajaran Gereja boleh kita jalankan; yang bertentangan tidak boleh dikuti supaya tidak berdosa.
Bagaimana penerapannya di sekolah dan di masyarakat? Di lingkungan sekolah kita mendengarkan nasihat guru dan para pemimpin, tidak membantah mereka, melakukan pekerjaan/tugas hariannya di sekolah, melaksanakan perintah/petunjuk sesuai arahan. Di masyarakat, dengan mengunjungi orang tua secara rutin, memberikan kasih saying dan perhatian, serta membantu mereka secara finansial jika dibutuhkan.
Jangan membunuh, sebagai Perintah Kelima, yang mewajibkan supaya kita menghargai hidup, menghormati hidup dan kesehatan badan sendiri dan sesama. Setiap manusia adalah citra Allah dan memiliki hak untuk hidup. Membunuh adalah dosa berat yang melanggar hak asasi manusia.Kita wajib memelihara kesehatan badan kita dan sesama, belajar dan bekerja, jangan menganggur atau malas, dan mengikuti rasa enggan. Bilamana kita melawan perintah kelima? Ketika memukul, melukai atau membunuh sesama (abortus) atau diri sendiri; euthanasia, serta segala bentuk kekerasan yang merenggut nyawa orang lain; memperpendek hidup atau menyusahkan orang lain; merusakkan kesehatannya sendiri dengan minum mabuk, merokok, obat bius NAPZA; membunuh manusia, membunuh karakter orang; membenci, marah atau menyakitinya, (Mat 5:22; 1 Yoh 3:15), sebab kita akan cenderung enggan bertemu, dan mengganggap dia tidak ada. Kita dapat merugikan jiwa sesama kita apabila kita memberi teladan yang tidak baik; membujuk orang lain berbuat dosa; mengundangnya menonton film/kegiatan yang buruk; dan menganiaya binatang tanpa alas an, sebab itu berarti bengis dan dosa.
Bagamana penerapan perintah kelima ini? Di lingkungan sekolah kita menghindari perkelahian atau bullying, serta melaporkan kepada guru atau pihak berwajib. Bila di masyarakat? Menentang segala bentuk kekerasan, seperti pembunuhan, terorisme, atau perang, serta membela hak-hak orang lemah dan tertindas.
Perintah Keenam dan Sembilan berfokus pada: jangan berbuat cabul. Maksudnya, supaya menjaga perkawinan selalu suci, agar pergaulan antara pria dan wanita senantiasa baik dan murni. Seksualitas adalah anugerah Allah yang harus digunakan sesuai dengan rencana-Nya, yaitu ikatan pernikahan yang kudus.
Apa yang dilarang oleh perintah ini? Semua perbuatan yang cabul, keinginan atau pikiran cabul (pandangan mata, perkataan dan perbuatan tak senonoh). Cabul adalah keinginan atau perbuatan yang tidak senonoh menjurus ke arah perbuatan seksual yang dilakukan untuk meraih kepuasan diri di luar ikatan perkawinan. Cabul identik dengan tindakan pornografi. Tidak Senonoh adalah tidak patut atau tidak sopan (tentang perkataan, perbuatan, dsb), tidak manis dipandang (pakaian, dsb).
Dan upaya kita untuk menjaga kemurnian melalui: berdoa ketika mengalami godaan; menjauhkan diri dari kesempatan untuk berdosa; menghindari semua gagasan dan tingkah laku tidak senonoh yang disengaja; belajar atau bekerja dengan rajin; mengaku dosa teratur dan sering menyambut Komuni Kudus; memakai pakaian yang sopan dan pantas; tidak membaca buku pornografi atau menonton gambar/pertunjukan yang cabul dan buruk di tv dan media sosial; menghindari pergaulan yang tidak baik; cinta kepada Yesus, Maria dan orang kudus Gereja dan mengikuti teladan-Nya.
Penerapan perintah keenam di sekolah dengan menjaga diri dari pergaulan bebas, menghindari pornografi dan hal-hal yang menjerumus ke aksi pornografi, serta menghormati lawan jenis. Penerapan di masyarakat dengan menjaga kesucian pernikahan, setia kepada pasangan, serta menjauhi segala bentuk perselingkuhan.
Jangan mencuri, sebagai fokus Perintah Ketujuh dan Kesepuluh, mewajibkan kita harus memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Mencuri adalah mengembil hak milik orang lain tanpa izin. Perintah ini mencakup Tindakan korupsi, penipuan, atau segala bentuk ketidakadilan ekonomi. Kita melanggar perintah ketujuh dengan cara apa? Mencuri atau menolong orang yang mencuri; membeli atau menyimpan barang curian; mencuri waktu (selama) kerja; mengambil bunga melebihi batas, makan riba, menipu; merusak barang milik orang lain, atau merugikannya; tidak mengembalikan barang pinjaman atau barang temuan; tidak mau melunasi utang; tidak membayar upah yang adil, tidak berlaku adil; dan segala macam korupsi (korupsi uang, waktu, barang, dsb); dan menyontek waktu ujian. Jikalau kita telah mencuri dan atau telah merugikan sesama, maka kita harus mengembalikan barang itu atau memberi ganti rugi.
Penerapn perintah ini di sekolah, yakni dengan tidak mencontek saat ujian, tidak mengambil barang milik teman, serta mengembalikan pinjaman tepat waktu. Yang dapat dibuat di masyarakat, berupa tidak korupsi, tidak menipu, serta membayar pajak dengan jujur.
Apa yang dimaksudkan Perintah Kedelapan: jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu manusia? Mewajibkan kita berkata dan berlaku jujur; memelihara nama baik dan rahasia sesama. Berbohong adalah dosa yang merusak hubungan antarmanusia. Perintah ini melarang segala bentuk kebohongan, fitnah, atau gossip yang meruugikan orang lain. Kita melawan perintah kedelapan dengan cara: bersaksi dusta, berbohong di muka umum/di pengadilan; berdusta dan memfitnah; tidak mengakui kesalahan sendiri; mengumpat dan berpikir buruk tentang sesama; mengumumkan kesalahan orang lain apalagi kesalahan yang tidak pernah dibuat orang itu, membuka rahasia orang (tanpa ijin membaca surat, isi WA, chatting, dll). Berhubungan dengan hal ini adalah memfitnah, yakni menceritakan kejahatan orang yang tidak dibuatnya atau membesar-besarkan kejahatan yang tidak dibuatnya. Sedangkan mengumpat itu memberitakan kejahatan orang lain tanpa alasan yang cukup. Bila telah menjelekkan orang, kita harus memulihkan nama baiknya secepat mungkin dan sebaik mungkin dengan cara yang benar.
Hal yang dapat dibuat di sekolah, yakni berkata jujur saat ditanya guru, tidak menyebarkan berita bohong atau fitnah tentang teman. Di lingkungan masyarakat, yakni tidak memberikan kesaksian palsu di pengadilan, tidak menyebarkan ujaran kebencian, ataupun berita hoaks di media sosial.
Bagaimana dengan Perintah Kesembilan: jangan ingin berbuat cabul? Perintah ini melarang segala bentuk pikiran atau keinginan yang tidak suci, seperti nafsu birahi atau fantasi seksual yang tidak pantas. Supaya menjaga perkawinan selalu suci, dan agar pergaulan pria dan wanita (pemuda dan pemudi) senantiasa baik dan murni. Perintah kesembilan melarang kita untuk segala pikiran dan kerinduan yang tidak senonoh. Perbuatan yang tidak senonoh, tidak sopan atau cabul berupa perkataan, perbuatan, pakaian yang menjurus ke arah perbuatan seksual yang dilakukan untuk meraih kepuasan diri di luar ikatan perkawinan.
Penerapannya di sekolah, yakni menjaga pikiran dann hati dari godaan hawa nafsu, mengendalikan diri dari keinginan yang tidak baik. Di masyarakat, kita menjauhi pornografi, mengendalikan diri dari godaan perselingkuhan, serta menjaga kesucian pikiran dan hati.
Akhirnya, sampailah kita pada perintah terkhir, Perintah Kesepuluh: jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil. Kita harus memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Iri hati dan ketamakan adalah dosa yang yang merusak hubungan antarmanusia. Perintah ini melarang segala bentuk keinginan yang tidak adil terhadap milik orang lain, seperti irir hati terhadap kekayaan atau keberhasilan orang lain. Dengan perintah kesepuluh, apa yang Tuhan Allah larang? Keinginan akan mencuri, dan keinginan akan merugikan sesama.
Kita dapat menerapkan perintah kesepuluh ini di sekolah dengan cara tidak iri hati terhadap prestasi teman, tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain, serta bersyukur atas apa yang dimiliki. sementara dalam situsi di masyarakat, kita tidak tamak atau serakah, tidak korupsi, tidak menipu, dan sebisa mungkin berbagi rezeki dengan orang yang membutuhkan.
Semoga refleksi ini dapat membantu kita mendalami Dekalog dalam terang iman Katolik dan perlahan-lahan dapat menerapkannya dalam dialog kehidupan sehari-hari dengan dekalog yang dapat didialogkan. Salve.


