Amanat Pembina Upacara

0
95
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis dan Wakasek Kesiswaan SMKN 7 Kupang

Kita adalah para pembelajar yang mencari kebenaran ilmu dan kebenaran iman di sekolah yang diperoleh melalui belajar, latihan berulang-ulang/pengujian metodologi dan mempraktikkan apa yang diyakini sebagai benar dalam relasi personal, interpersonal dan komunitas. Orang yang belajar bisanya tidak putus asa (never say day), sebab mereka dum spiro spero, tidak berputus asa mewujudkan impiannya selagi bernafas, selagi jiwa belum berpisah dari tubuhnya. Mereka tahan uji dalam studi terhadap segala sesuatu yang dapat menghalangi atau menjauhkannya dari orientasi menuju keberhasilan, diterpa kesulitan dalam belajar, tugas yang banyak, suasana hati dan fisik yang sakit dan ekonomi dan psikologis yang tidak baik, mereka ini tetap berjuang menggapai kebenaran itu.

Apa itu kebenaran? Ia sebagai persatuan antar budi dan tindakakan, persesuaian antara yang terucap dan yang terlihat, antara teori dan praktik, sintese antara apa yang dimengerti dan apa yang dilaksanakan. Ketika pikiran dan keinginan kita serta fisik belum menyatu, percalah kita pasti belum menemukannya di sekolah kita yang at home dan sweet home ini. Sekolah ini dibangun dengan ketulusan cinta, maka jagalah dan lanjutkanlah dalam nada dasar dan birama yang sama beresonansi ke semua sudut hati dan budi anak-anak dan guru dan tamu dengan cinta pula yang produktif. Harus ada sinkronisasi sistematis antara mendengar perintah, komando, arahan dengan penerapan dari perintah itu tadi baik dalam apel, di bengkel, di kelas, saat mengerjakan tugas, dan saat melaksanakan keseharian. Antara petunjuk dan pelaksanaan konek maka jadilah benar, tepat sasar, dan kepuasan batin dan psikologis dan sosiologis.

Para pembelajar terdahulu dari Flores mewariskan budaya belajar kepada saya begini: hoi ana lo’o, dalam kema ingat ote, ate, ha’i, lima. Diterjemahkan: hai anak muda, belajarlah di sekolah yang baik supaya ote (otak) pintar, hati (ate) baik dan lembut, serta ha’i lima (kaki dan tangan) bergegas gesit terampil selesaikan pekerjaan-pekerjaan. Atau dalam bahasa teologi mendengar seperti Maria dan rajin melayani seperti Marta. Mas-mas dari Jawa membahasakannya sebagai Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani. Oleh mas yang dari Timor “tabongkar” dalam kalimat: mbi kotin mafenekaf. Atau orang Prancis melalui ahli pikir Decartes menyimpulkannya sebagai cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada, saya belajar maka saya pintar, cerdas, berrilmu, dan menguasai dan mengafirmasi pengetahuan saya yang terdahulu dan yang sekarang untuk siap digunakan kapan saja dan di mana saja.

Nah, dengan mempraktikkan keteladanan dalam belajar ini kita telah menemukan kebenaran di sekolah kita ini, di rumah kita sendiri ini, Rumah Pendidikan bernama SMK Negeri 7 Kupang ini kita. Setiap hari membentuk latihan fisik kita dengan berjalan, menunduk, melompat, mendorong supaya sehat dan kuat dalam praktik dan kegiatan ekskul; melatih kejernihan pikiran dan kecerdasan budi dengan kegiatan KBM di kelas dan di bengkel dan di DUDI, dan melatih kelembutan hati yang terpancar dari tutur kata tak membuli, memotivasi, sapaan santun dan mengolahrasa yang bergelombang dalam gerak lurus beraturan yang tepat jarak bicaranya dan tempo penyampaiannya pada kadar derajat dan menit sesuai waktu, tempat, sikon, dan posisi diri di waktu itu. Semuanya dibuat untuk menguji keyakinan kita akan sesuatu yang telah kita yakini sebagai benar yang diekspresikan dalam relasi sosial humanis.

Kita semua para pembelajar, ketika berada di Rumah Pendidikan, sedang belajar membangun karakter, mendidik nalar dan menajamkan matanalar, atau bahasa lainnya mengasah budi, mengolah hati, memperkuat fisik. Inilah ciri orang-orang yang belajar di sekolah. Karena kita sedang belajar dan ingin sukses dalam studi, maka patut memiliki tiga karakter utama dari delapan belas karakter anak Indonesia hebat, yakni karakter: disiplin, mandiri, dan murah hati. Semua karakter itu terutama tiga karakter ini dipraktikkan tanpa perlu disuruh dan diawasi dan dijagai. Mesti keluar spontan dari kedalaman jiwa yang sudah sadar akan eksistensinya di sekolah. Dan jalan untuk sukses itu adalah menulis dan bergiat. Bergiatlah mengikuti semua kegiatan sekolah dan tulislah apa yang ada di pikiran, apa yang telah dipelajari, apa yang ditugaskan.

Tulislah apa yang di dekat kita, apa yang direncanakan, apa yang hendak dilaksanakan, dan tulis pula apa yang telah dilaksanakan itu dan perbaiki kembali semuanya itu dalam tulisan yang baru. Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu wahai bapak dan ibu guru, anak-anak dan kakak-kakak mahasiswa apabila kalian semua menulis seperti jalan yang telah kutunjukkan kepadamu di sekolah ini. Apa yang dilihat, dirasa, dipikir, dialami, diresahgelisakan, diperjuangkan, dipelajari, direncanakan, dan yang sementara dilaksanakan, dan telah dilaksanakan; tulislah, maka anda akan sama seperti saya penulis di sekolah ini yang menulis setelah membaca, melihat, merasakan dan mengalami dan merenungkannya dalam syafaat, apa yang dituliskan itu. Yang dituliskan itu terucap, terkatakan dan terlaksanakan dalam tindakan saya, kecil dan sederhana saja. Inilah jalan menuju kebenaran itu yang mesti didialogkan dalam relasi sosial sesui sikon, waktu, tempat, dan kapasitas kita di waktu itu sebagai apa.

Jadilah guru penulis dan siswa penulis. Tidak harus seperti saya yang telah menulis 10 buku ber-ISBN, tetapi menulis sejarah perkembangan kognitif afektif reflektif diri selama belajar sepanjang hayat di sekolah ini. Tulisan anda itu menggambarkan kualitas pikiran anda dan kompetensi anda memahamai apa yang telah dipelajari, dan menjelaskan bahwa anda telah menemukan pencerahan dan kebenaran yang dicari. Mari kita tulis tentang sekolah kita, keunikannya, karakterisitiknya dan mendokumentasikannya dalam OSOP berbasis literasi dari sekolah yang merangkum kapasitas, kompetensi, dan karakteristis sekolah. Dalam kata-kata yang tergoreskan itu kita aminkan: membangun karakter menajamkan matanalar pembelajar di rumah studi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini