“Nomen Est Omen” (Refleksi Pengalaman Rohani)

0
216
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota Komunitas Secangkir Kopi (KSK) Kupang.

Nama menunjukkan pribadi, demikian arti yang dapat diberikan untuk kata Latin “Nomen Est Omen”. Nama identik dengan pribadi seseorang. Tidak heran bila Allah memanggil setiap manusia dengan namanya masing-masing. Yohanes, Paulus, Mario, Augusto, Sanjuano, Antoneta, Patriciani, adalah contoh dari beberapa nama yang dekat dengan telinga dan lingkungan keseharian kita.

Nama yang dikenakan pada kita entah dari agama mana pun, dari bahasa dan budaya apa pun yang digunakan untuk menyapa nama kita selalu menunjukkan jabatan, tugas, identitas, karya, harapan, situasi, rasa syukur, devosi-penghormatan, optimisme, dan ungkapan iman.

Orang Katolik selalu memakai nama santo atau santa pelindung dengan maksud untuk meneladani hidup dari orang kudusnya tersebut yang memiliki kebajikan kristiani selama hidup di dunia dan yang telah menikmati bahagia surgawi setelah berjuang di mayapada ini memuliakan Allah sesuai dengan nama kudus yang dipakainya.

Dari sebuah nama kita bisa mengenal siapa pribadi pemilik nama tersebut dan apa pesan Allah, alam, dan leluhur bagi kita yang mau diungkapkan-Nya lewat penyebutan nama tersebut.

Nama Sebelum Masuk Biara

Dibaptis dengan nama Patrisius Leu, dan diberi tambahan nama Stanislaus di depan nama baptis, adalah nama yang diberikan sewaktu menerima Sakramen Krisma yang adalah juga nama pribadi yang dikenakan oleh Bapa Saksi Rohani bagi para pemuda yang akan menerima Sakramen Krisma pada waktu itu.

Stanislaus adalah nama seorang martir Kristus dalam Gereja Katolik yang mempertahankan imannya demi Kristus dengan menumpahkan darahnya bagi sang Anak Domba Allah yang diimaninya. Sementara itu, nama Patrisius dalam bahasa Latin diartikan sebagai kepunyaan Bapa; Bapa yang mencintai (mengasihi); anak kesayangan Bapa; mengikuti tradisi para Bapa Gereja. Dan Leu,  adalah sapaan nama orang Timor Dawan dari Kefa yang berarti keras, kuat, teguh, keramat, pemali.

Dengan demikian, nama awam awali Patrisius Leu kini berubah menjadi Stanislaus Patrisius Leu dan bermakna pengikut Kristus yang teguh dalam iman mengikuti teladan para Bapa (bapa Biologis, bapa Gereja, bapa Rohani, Bapa Surgawi, bapa-bapa pendiri, bapa para pemimpin) yang setia melaksanakan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (sesuai mottoku, Yoh 4:34).

Apa tanda ketaatan dari si pengguna nama Stanislaus Patrisius Leu? Berlaku kudus di hadapan-Nya dalam hidup dengan cara menggabungkan dan melibatkan diri dalam berbagai organisasi kategorial Gereja. Aneka organisasi ini mengajarkan proses pengudusan diri dijalani sebelum menguduskan orang lain dalam kata dan tindakan, dalam karya dan kebajikan.

Jalan-jalan kecil pengudusan diri pun dipraktekan melalui hidup rohani doa-doa pribadi, doa-doa dan devosional Gereja, askese, meditasi-kontemplasi, kehidupan sakramental terutama ber-Ekaristi dan Salve, serta perbuatan belas kasih jasmani dan perbuatan belas kasih rohani sebagai bentuk pertobatan, cinta, harapan, dan ketaatan pada Bapa Yang Kudus, Bapa Yang Sempurna.

Nama Kebiaraan

Bergabung dalam Ordo Kontemplatif adalah lanjutan dari panggilanku untuk mencari Bapa yang Kudus dan  menjadi kudus seturut kehendak-Nya melalui Tarekat Religius. Di Biara, para yunioret mengalami apa yang oleh para Saudara eremit terdahulu nyatakan sebagai padang gurun untuk mencari dan menemukan Allah sang Cinta dalam keheningan.

Keheningan yang diupayakan bukanlah yang terutama keheningan lingkungan berada dan keheningan budi tetapi keheningan batin. Allah yang dicari hadir dalam keheningan dan berbicara dalam keheningan. Silentium magnum (Strictum) adalah prasyarat kontemplasi supaya bisa percaya total kepada Allah dan pasrah total kepada Allah.

Komunitas Biara punyak banyak latihan rohani. Dari kesekiannya itu,  mengarahkan pada Jalan Kesempurnaan – Jalan Kecil, Jalan Kekudusan dengan menghayati kharisma persaudaraan, pelayanan, dan kontemplasi. Untuk bisa sampai pada Allah, ada nama yang bisa membantu dan patut diteladani Santa Perawan Maria, para nabi dan orang kudus.

Pada titik ini, ditemukan makna baru dari nama saya beraroma Timur Tengah. Namaku yang baru, sebagai nama biara adalah Patrisius Leu dari Roh Kudus. Akronim dari namaku adalah Pertapa Abdilah Tritunggal Raja dan Ibu Skapulir Itulah Urusanmu Setiap hari Lihat Emanuel Utusan-Nya dan Roh Kudus sahabat dan penolongmu.

Ketaatan untuk menghayati nama baru yang diakronimkan ini mewarnai kesetiaan pada trikaul kebiaraan dan kaul clausura serta pada mottoku: melakukan kehendak Dia dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bahkan pekerjaan yang paling kecil dan hina. Di dalam semuanya itu, saya berusaha mengharumkan namaku, nama santo pelindungku, nama kebiaraanku, dan nama ordoku.

Nama Awam Katolik

Setelah mendapat ijinan seperlunya untuk berkeliling dan berbuat baik di balik tembok biara, ciri khas dan cara hidup kebiaraan disesuaikan dengan tempat-tempat yang dikunjungi dan disinggahi hingga pada akhirnya saya berdiam-berlopo di tengah umat. Hidup dalam lingkaran pembauran bersama umat, nama biaraku yang pernah disandang dengan kecintaan kini mengalami penyempurnaan makna. Hal ini sesuai dengan way of life kehidupanku yang baru di dunia sekular dan dalam clausura  teologi dan filsafat yang sementara digeluti sebagai seorang mahasiswa semester akhir.

Namaku Patrisius Leu kini akronimnya berubah dan berarti: Perhatikan Analisa Tuliskan Refleksikan Intinya Sebarkan Itulah Usaha Sophia Lihat Einstein Umpanya. Kekaguman pada namaku menjiwai kehidupanku sebagai awam Katolik yang masih taat dengan mottoku dan mengkreasikannya dengan motto saudara “Zello Zelatus Sum Pro Domino Deo Exirxtuum”.

Berharap berkenan melayani Dia dan berdiri bersemuka di hadapan-Nya, Doa brevir setiap hari sabtu dan minggu tetap dijalankan di samping hari raya dan pesta santo santa. Mengikuti Misa harian pada setiap hari Sabtu pagi dan hari-hari penting gerejani lainnya menjadi jadwal tetap selain doa devosi dan salve pribadi, meditasi dan lectio divina seminggu sekali.

Ada banyak perbuatan sadar lainnya selain olah rohani, yakni dengan olahrasa hidup berkawan di masyarakat sebagai warga gereja yang berkarya di stasi terdekat, sebagai warga negara di rukun tetangga dan kelurahan setempat, dan dengan bergiat menggunakan bakat-bakat alami yang masih ada dan bakat-bakat baru lainnya yang sementara diupayakan penyempurnaannya. Inilah biaraku yang baru di tengah umat.

Perbuatan sadar ini dibuat sebagai antisipasi untuk kembali ke biara sebab konstitusi ordo mengijinkan hal ini dan para Romo pembimbingku juga membuka tangan menanti kedatanganku. Kebaikan Tuhan, kualami, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Masa studi Filsafat terselesaikan walau lewati waktu normal akademik telah menjadi bekal petualangan iman dan petualangan intelektual untuk berkarya dan membaharui diri nanti entah nanti di biara yang lama di Flores ataupun di tengah masyarakat kota Kupang, kota KASIH dengan ikon Smart City adalah biaraku yang baru.

Namaku memang hanya berarti kita aku terlibat aktif dalam kehidupan menggereja di stasi-stasi yang sempat dilayani dengan berpastoral sebagai awam Katolik. Hidup di tengah umat dan bersama umat, aku mengalami apa yang dinamakan orang-orang dari ‘menara gading’ on going formation – long life education – belajar hidup menjadi orang bijaksana dari para bijak.

Guru Pendidikan Agama Katolik, Nama dan Kebanggaanku

Siapa itu guru? Pertanyaan tentang identitas ini mengacu pada realitas eksisistensial akan hakekat dari formasi pendidikan formal. Hakekat fungsionalnya berdasar pada citranya di suatu lembaga pendidikan juga keberadaannya di masyarakat.

Citra dan nama jabatan guru agama tetap dinilai masyarakat sebagai pemberi inspirasi, penggerak, pelatih, pemimpin, dan penyebar nilai-nilai luhur, serta pemberi teladan bagi anak didik dan lingkungan sosialnya.

Ekistensi-keberadaan pada gelar nama Guru Pendidikan Agama Katolik, selain sebagai seorang pengajar pendidikan agama katolik di sekolah, ia juga adalah seorang pengajar iman. Ia adalah seorang pelayan dan pewarta yang dipanggil oleh Allah untuk menjalankan misi pewartaan di tengah dunia. Sebagai “kaum terpanggil,” ia bekerja sama dengan gembala-gembalanya dalam menerjemahkan warta pastoral ke dalam lingkup pastoral yang lebih konkret.

Menjadi guru agama bukan soal pretasi apalagi prestise, bukanlah soal kekayaan, apalagi popularitas. Panggilan termulia menjadi guru agama adalah pelayanan dan pewartaan yang menyuarakan kenabian dan kegembalaan di tengah riuh redah kehidupan Kupang metropolitan. Kesatuan dengan Sang Guru Ilahi adalah kekuatannya sebagai pelayan Tuhan plus abdi negara-abdi masyarakat.

Tanggung jawab profesi dan profetis adalah panggilan jiwa para guru agama, yang penting bagi kami adalah bagaimana menghasilkan manusia beriman dan berilmu sesuai format kementerian pendidikan dan kebudayaan riset dan teknologi dan format kementerian agama juga format Gereja Katolik. Proses formasio bukanlah semata-mata tugas guru agama katolik, melainkan semua komponen yang ada dalam kehidupan peserta didik.

Mengapa saya dan guru lainnya bangga dengan nama Guru Pendidikan Agama Katolik dan bangga sebagai guru yang beragama katolik?

Kebanggaan Pertama: Identitas diri. Identitas diri kami tergambar dalam tiga hal berikut: pertama, Guru agama adalah satu, orang yang hidup dalam prinsip kesatuan dengan Gereja dan dengan Allah Tritunggal dan dengan masyarakat. Kami orang yang sungguh-sungguh hidup dalam atmosfer kudus, suci, dan ilahi karena bergaul dengan Allah Tritunggal Mahakudus (Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Kami satu pikirannya, tidak kacau; otak, hati, dan seluruh diri dikuasai oleh Tuhan; atau saya, dia, dan  mereka memanfaatkan seluruh diri untuk kemuliaan Tuhan.

Kedua, hidup dalam humanum/manusiawi sebagai orang yang dekat di hati sesama, yang sangat mengasihi sesama, dan bekerja siang – malam dalam keadaan sehat dan tidak sehat untuk sesamanya. Rumahnya adalah Betlehem, terbuka untuk memberi makan dan minum bagi sesama.

Ketiga, mereka guru pendidikan agama Katolik dan guru-guru yang beragama katolik adalah orang-orang yang sungguh mencintai Tuhan dan mengasihi sesama sekaligus (atmosfir ilahi dan insani). Sesamanya di sekolah, adalah peserta didik dan rekan guru; di rumah, sesamanya keluarganya, orangtua dan anak-anak bersaudara; dan di masyarakat, sesamanya adalah umat Allah, umat beriman dan lapisan masyarakat multikultur.

Kebaggaan Kedua sebagai guru agama Katolik dan guru yang beragama katolik adalah: Tugasnya diringkas dalam kata 5H (head, heart, holly, hand, health). Head, ia mengisi otak anak-anak dengan pengetahuan yang benar; heart, mengisi hati anak-anak dengan hal-hal mulia, dengan kata-kata sopan santun; holly, ia menguduskan dirinya dan menguduskan anak-anaknya; hand, mengajarkan hal kerja tangan kepada anak-anaknya bukan untuk mencuri dan menipu tetapi untuk bekerja keras dan memberi bantuan; health, ia mengajarkan anak-anak hidup sehat dari dalam dan dari luar sebab ia sendiri menunjukkan teladannya.

Di era teknologi 4.0 dalam pandemi Corona Virus ini keteladanan hidup sehat dalam penerapan protokol kesehatan 8M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas, mengurangi makan bersama orang tak serumah, menghindari foto bersama tanpa masker, meningkatkan doa dan amal ibadah) amat perlu.

Dua kebanggaan guru pendidikan agama katolik dan para guru beragama katolik ini adalah  mengikuti keteladanan nama orang besar dalam alkitab dan dalam sejarah Gereja Katolik yaitu nama Paulus. Paulus, misinya bergerak pada dunia pendidikan, pewartaan dan Kemanusiaan. Sebagaimana judul skripsi saya: Misi menurut Santo Paulus, demikianlah saya mengikuti Kristus seturut teladan Paulus dengan menjadi guru iman di sekolah dan pembina iman di sekolah kehidupan, di mana saya berada di situlah saya bermisi.

Misi menurut saya adalah dipanggil untuk mengimani Yesus yang wafat dan bangkit adalah Tuhan dan bersatu dengan Dia Pokok Damai dan Penyelamat, dan dalam persatuan ini diutus sebagai rasul Kristus untuk mewartakan Injil kepada ‘bangsa-bangsa’ lain agar mereka beriman kepada Allah dan kembali kepada Bapa asal segala cinta dan misi dan akhirnya semua memperoleh anugerah keselamatan. Guna mencapai misi ini, saya bertindak sebagai Guru iman dan pembina iman di mana pun saya berlopo melalui surat-menyurat, pewartaan Injil, doa, dan aksi donasi dalam berbagai komunitas umat beriman, yang kesemuanya disimpulkan dalam kata pastoral literasi dan literasi pastoral. 

Penutup

Namaku tidak mengalami metamorfosis seperti nama Abram menjadi Abraham, Saulus menjadi Paulus, Yakub menjadi Israel, atau pun Kefas menjadi Petrus, dsb. Namaku hanya mengalami dialog kehidupan: tesis – antitesis – sintesis. Dari nama awam Patrisius Leu, menjadi Stanislaus Patrisius Leu yang berusaha hidup kudus dalam ketaatan, menjadi Patrisius Leu dari Roh Kudus dalam arti nama biara yang berdevosi kepada Roh Kudus, menjadi Patrisius Leu dengan akronim sebagai awam katolik yang berprofesi sebagai guru yang ‘berdosa’ di antara para pendosa yang berkiblat pada Paulus berpastoral literasi dan berliterasi pastoral. Aku yang sekarang tidak sama persis lagi dengan aku yang dahulu.

Namaku dalam arti paling alami jasmani hingga ilmiah dan rohani spritual hingga millenial, mengajarkan aku bahwa ketaatan – kesetiaan pada panggilan hidup dapat membawa pemaknaan baru dalam kedewasaan intelektual – moral – spiritual sebagai nilai-nilai yang menghantar pada Allah yang kudus dalam aksi kemanusiaan.

Dengan mengimani dan menggunakan namaku yang dahulu hingga formasio nama yang sekarang, aku dapat memuliakan Allah dan hidupku dapat menjadi pesan Allah bagi dunia, sebab makananku melakukan kehendak Dia dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Pekerjaan Bapaku adalah percaya pada Allah (Yesus utusan-Nya) dan pasrah berharap pada-Nya dalam iman harap dan kasih sebagai anak kepunyaan”Bapa”. Aku bangga dengan namaku yang baru Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang belajar melalui mengajar meneladani Paulus sang Guru dan Bapa Gereja yang mengasihi.

Mari, di tahun 2022, tahun berahmat ini, kita menghormati, mencintai dan mengharumkan nama kita masing-masing sebagaimana nama yang kita pakai ini telah lebih dahulu digunakan para kudus yang sudah berbahagia di surga (Gereja Jaya) telah menjadi kesayangan Bapa. Nama yang sama telah diteladani dan dihidupi oleh para leluhur dengan cara hidupnya yang khas (Gereja Penderita) telah mengikuti tradisi hidup para Bapa Gereja, dan kita yang sekarang yang sementara menempa nama kita dengan hidup kreatif bermartabat di dunia ini dengan segala kemanusiaan kita (Gereja Pejuang) supaya berkenan di hadapan ‘Bapa’ yang di bumi dan Bapa yang di Surga. Nomen Est Omen, itulah diri kita yang sekarang dan nanti menjadi dari aku yang ideal menjadi aku yang real. Salve. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here