Gelar Talkshow Literasi Digital di Ende, Kemenkominfo Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Medsos

0
35
Talkshow Literasi Digital pada Sabtu (04/03/2023) di aula Mgr. Donatus Jagom, SVD, STIPAR Ende.

Ende, SEKOLAHTIMUR.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ndolu Ranggo menggelar Talkshow Literasi Digital bertema “Literasi Digital Melawan Hoax Menjelang Pemilu 2024” pada Sabtu (04/03/2023) di aula Mgr. Donatus Jagom, SVD, STIPAR Ende.

Sebagai Narasumber dalam kegiatan talkshow ini adalah Maria Uria Ie (Bawaslu Ende), Theobaldu Dange (Kominfo Ende), Ferdinandus Lidang Witi (Uniflor Ende), dan Hermanus Gatu (TBM Ndolu Ranggo).

“Masifnya penggunaan internet di Indonesia harus kita akui membawa serta berbagai risiko, seperti penipuan online, hoaks, cyberbullying, dan konten negatif lainnya,” ujar Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan melalui video pre-record.

Menurut Semuel, penggunaan teknologi harus diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni. Tujuannya, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna.

Semuel menambahkan, program literasi digital bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis masyarakat terhadap informasi yang diterima, dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang cakap dalam memanfaatkan teknologi digital.

Sementara Ketua Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ndolu Ranggo, Wilfridus Kado mengatakan bahwa masyarakat perlu mempelajari cara membedakan fakta dengan hoaks.

“Audit sosial ini adalah metode untuk mencari tahu apakah profil atau konten yang kita lihat media sosial adalah fakta atau buatan. Kita perlu punya keahlian, perlu punya kemampuan untuk melakukan periksa fakta mandiri, apakah itu editan di konten video ataupun foto,” ucap Wilfridus.

Ia menlanjutkan bahwa menjelang Pemilu 2024, potensi penyebaran konten hoaks mengalami peningkatan. Apabila kondisi ini tidak dikelola dengan baik, maka ancaman dalam penyelenggaraan pemilu semakin besar.

Tantangannya adalah independensi, netralitas, dan integritas. Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. (WK/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini