Jumat Pertama di Gereja

0
420
Oleh Norbertha M. Bai, Alumnus SMKN 7 Kupang Angkatan X, Jurusan Nautika Kapal Niaga.

WAKTU itu hari Kamis, saat di sekolah beberapa teman menghampiri saya dan berbicara tentang Jumat Pertama besok. Saya bertanya, apakah kita berkumpul di sekolah untuk pergi bersama atau langsung menuju gereja? Ia menjawab, langsung berkumpul di gereja, dan setelah misa kembali ke sekolah. Siswa yang beragama katolik di sekolah tidak terlalu banyak, namun kami selalu berpartisipasi mengikutinya. Keesokan harinya saat saya ingin berangkat ke sekolah saya melihat grup kelas XII agama katolik. Ada pesan WA: kita langsung berkumpul di gereja.

Sesampainya di Gereja Paroki St. Gragorius Agung Oeleta, ternyata masih sangat pagi, baru beberapa orang saja yang ada. Kami menunggu yang lain. Tak lama kemudian, pak Aloysius Wetto datang dan menceritakan beberapa kisah orang kudus. Sesekali teman laki-laki juga bercerita. Saat asyik bercerita, pak Patris datang, mengajak kami segera masuk ke geraja karena misa akan dimulai.

Mengikuti Misa Jumat Pertama di Gereja sebagai siswa Katolik adalah salah satu momen bersejarah dalam perjalanan rohani saya. Ini bukan hanya sekedar ritual keagamaan, tetapi pengalaman yang memperdalam hubungan saya dengan Tuhan dan memperkuat identitas saya sebagai seorang siswa katolik.

Saat berada dalam gereja, saya merasakan getaran spiritual yang sangat kuat di sekeliling. Suasaan khidmat dan hening memenuhi, mengundang saya untuk merenung dan mempersiapkan diri secara batin dan fisik untuk mengalami kehadiran Tuhan secara langsung dalam misa.

Saat perarakan misa, saya terpesona oleh keindahan liturgi katolik yang kaya akan tradisi dan simbolisme. Setiap gerakan, lagu, dan doa, memiliki makna yang mendalam, juga membangkitkan rasa ketaatan dan pengabdian dalam hati saya. Partisipasi dalam misa, mulai dari pembacaan kitab suci hingga menerima komuni Kudus, adalah momen yang penuh makna dan berarti bagi saya secara pribadi.

Saat mengikuti Misa Jumat Pertama saya sangat bahagia melihat banyak anak-anak katolik sekelurahan Alak. Ada perwakilan siswa dari TK Notre Dame, SDI Osmok, SDI Penkase Oeleta, SMPN 10, SMAN 8 dan SMKN 7 Kupang. Kekompakan mereka terlihat sejak mereka datang dari sekolah masing-masing bersama-sama dengan guru-gurunya menghadiri misa jumat pertama.

Pastor berkotbah, umat mendegarkan. Selama itu, saya mendengar perhatian pada pengajaraan mimbar. Pesan-pesannya tidak hanya memberi arahan moral dan spiritual, tetapi juga menginspirasi saya untuk lebih mendalami iman Katolik dan menerapkannya dalam kehidupan. Kami siswa SMKN 7 Kupang yang bertugas liturgi, seperti: kor, lektor, doa umat, persembahan, dll. Kami bangga bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Ini berarti kekompakkan, kegigihan, dan keseriusan latihan persiapan di sekolah selama seminggu berbuah baik.

Selain kotbah, momen Komuni Kudus adalah puncak dari pengalaman misa jumat pertama saya. Saat menerima Tubuh Kristus dalam bentuk hosti, saya merasakan kehadiran-Nya dalam doa dan refleksi. Ini yang memperkuat iman saya akan kasih-Nya yang tak terbatas kepada umat-Nya. Saya dilingkupi rasa damai dan kelegaan mendalam. Saya bertekad terus bertumbuh setia dalam iman Katolik.

Setelah Misa, kami berjalan kaki 2km menuju sekolah. Hari terik tak dihiraukan, sepanjang perjalanan kami bercanda dan bernyanyi, dan singggahi kios untuk membeli air mineral. Sesampainya di sekolah, kami langsung ke kelas karena pelajaran Kimia sedang berlangsung.

Mengikuti misa Jumat Pertama di gereja sebagai siswa katolik adalah pengalaman mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat iman. Itu adalah momen yang saya nikmati sepenuh hati, dan saya bersyukur atas kesempatan untuk mengalami kehadiran-Nya. (Editor: Patrisius Leu, S.Fil./rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini