Media Sosial dan Prestasi Belajar Siswa

0
269
Oleh Basilia Nafri Putriman, Pelajar SMA Negeri 2 Kuwus, Kab. Manggarai Barat, NTT

Kemajuan dalam bidang teknologi turut mempengaruhi pola pikir dan pola tingkah masyarakat. Salah satu bukti kemajuan dunia yang paling spektakuler adalah dengan munculnya internet. Kehadiran internet menjadikan dunia yang begitu luas seakan menjadi sempit karena sifatnya yang dapat menembus ruang dan waktu. Dengan adanya internet, berita atau kejadian di belahan dunia yang satu dapat diketahui dengan mudah oleh orang-orang yang berada di belahan dunia yang lain.

Salah satu dampak kehadiran internet di tengah masyarakat adalah dengan hadirnya media sosial yang cukup banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat bahwa saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai angka 63 juta orang dan dari jumlah yang demikian, terdapat 95% di antaranya menggunakan internet untuk berselancar di media sosial. Di kalangan pelajar juga, ketergantungan terhadap internet meningkat drastis pasca-pemberlakuan belajar daring selama masa pandemi Covid-19.

Media sosial adalah situs yang mampu menghubungkan antara pribadi yang satu dan pribadi yang lain untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Jika media tradisonal menggunakan media cetak, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial memampukan setiap orang untuk memberikan feedback secara langsung atas informasi yang dia terima dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Media sosial tak jarang menjadi problem ketika mengkreasikan dua dampak bagi penggunanya, positif dan negatif. Implikasi dari media sosial tidak jarang turut mempengaruhi para pelajar di Indonesia. Secara garis besar, dampak positif dari adanya media sosial menyata dalam semakin mudahnya manusia untuk mengakses informasi dan saling berkomunikasi. Kemampuannya yang mampu mempersempit jarak membuat kehadirannya sangat penting bagi kehidupan manusia.

Dalam bidang bisnis misalnnya, media sosial bisa menjadi tempat pemasaran produk yang paling baik. Selain itu, dalam dunia politik, media sosial juga bisa menjadi alat kampanye yang efektif dan efisien. Media sosial juga dirasakan penting oleh dunia pendidikan, terutama pada masa pandemi Covid-19 ini. Ringkasnya, media sosial dibutuhkan pada segala dimensi kehidupan manusia, termasuk bidang kesehatan dan sosial budaya.

Lebih lanjut, dampak negatif dari media sosial yang menurut penulis paling penting adalah ketika informasi yang ada di media sosial tidak layak untuk dikonsumsi oleh publik. Salah satu yang paling merisaukan masyarakat adalah berita-berita yang bersifat hoaks. Media sosial yang menyebarkan hoaks memicu disintegrasi dalam masyarakat. Kasus-kasus penipuan juga terjadi melalui media sosial.

Media Sosial dan Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hasil dari serangkaian proses belajar yang disertai dengan perubahan yang ada dalam diri pelajar sebagai konsekuensi dari pengetahuan yang didapatinya selama proses belajar berlangsung. Proses pembelajaran yang dijalankan dalam dunia pendidikan mesti mampu mengarahkkan individu pada suatu transformasi yang positif. Transformasi menjadi pribadi yang positif merupakan hasil paling utama dari prestasi belajar.

Dewasa ini, kita tidak bisa mengelak bahwa, prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi juga oleh media sosial. Para pelajar masa kini, hidup di zaman yang menjadikan media sosial sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Untuk itu, pola pikir dan pola tindak dari para pelajar terhadap media sosial itu sendiri menjadi begitu signifikan.

Kehadiran media sosial dalam kehidupan sehari-hari para pelajar masa kini menjadi diskusi serius karena kehadirannya yang selalu membawa hal yang problematis. Media sosial dikatakan problematik ketika membawa dua dampak sekaligus yaitu dampak positif dan dampak negatif.

Menurut penulis dampak negatif dari penggunaan media sosial di kalangan pelajar adalah, pertama, pelajar menjadi pribadi yang lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan lingkungan sekitar. Media sosial menyajikan fitur-fitur yang membuat orang menjadi lupa akan waktu. Konten-konten yang menarik dalam media sosial, seringkali memaksa seseorang untuk berkecimpung di dalamnya selama berjam-jam. Hal ini tentu saja menjadikan seseoarang sebagai pribadi yang tidak memiliki empati akan lingkungan sekitar.

Kedua, kehadiran media sosial seringkali menggantikan waktu belajar dari pelajar. Belajar yang seharusnya menjadi tugas pokok dari pelajar, menjadi terabaikan jika waktu banyak dimanfaatkan untuk berselancar di media sosial. Media sosial singkatnya menjadikan pelajar sebagai siswa yang malas untuk belajar.

Ketiga, pudarnya nilai-nilai positif dalam masyarakat yang seharusnya dimiliki oleh seorang pelajar. Keunggulan dari media sosial adalah ketika dirinya mampu untuk diakses oleh siapa saja yang mampu untuk memakainya tanpa harus memakai kriteria-kriteria seperti umur, jabatan atau golongan. Namun demikian, keunggulan media sosial ini justru menjadi malapetaka, karena ketika semua orang bebas menyebarkan berita, maka hal-hal yang jauh dari nilai dan norma umum dalam masyarakat juga akan banyak berseliweran di media sosial.

Keempat, kecanduan akan media sosial dapat merusak kesehatan seseorang. Hal ini sebagai implikasi dari aktivitas yang selalu di depan computer atau handphone selama berjam-jam sehingga lupa akan aktivitas fisik (olahraga) dan lupa akan jam istirahat.

Sementara itu, dampak positif dari kehadiran media sosial di kalangan pelajar adalah, pertama, media sosial bisa menjadi tempat untuk belajar secara kolektif. Melalui fitur-fitur seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, Telegram, dll., pelajar bisa saling bertukar ilmu pengetahuan.

Kedua, media sosial membantu pelajar untuk melanjutkan pembahasan pelajaran yang didapatkan dari sekolah. Pelajaran yang kurang dimengerti pada saat pembelajaran tatap muka di kelas bisa langsung ditanyakan secara langsung kepada teman atau guru tanpa harus menunggu jadwal tatap muka selanjutnya. Artinya, media sosial membantu pelajar untuk mempercepat proses belajar.

Ketiga, kehadiran media sosial menjadi “jembatan” paling logis akan kebutuhan pengetahuan dari siswa selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. Dengan adanya media sosial, proses pembelajaran tetap dijalanan tidak harus secara tatap muka. Untuk itu kontinuitas pendidikan masih tetap berlangsung meskipun dunia sedang dilanda pandemi.

Untuk mengatasi dampak negatif dari media sosial, penulis menyarankan beberapa hal. Pertama, para pelajar dalam menggunakan media sosial harus bisa membedah antara hal yang diinginkan dengan hal yang dibutuhkan. Pelajar harus bisa memilah beragam informasi yang diterimanya dari media sosial tanpa harus menerimanya begitu saja. Tidak semua hal yang terdapat di dalam media sosial penting untuk dikonsumsi oleh pelajar.

Kedua, orang tua dan guru harus menjalankan fungsi pengawasannya dengan baik. Pada saat proses pembelajaran di sekolah, sebisa mungkin guru memberikan arahan kepada peserta didik berkaitan dengan cara penggunaan media sosial yang positif. Arahan atau bimbingan yang didapati pelajar dari guru di sekolah, akan lebih cepat diterima oleh pelajar, jika di rumah orangtua turut memperhatikan aktivitas anaknya di depan media sosial.

Media sosial itu dalam dirinya bersifat netral. Media sosial bisa menjadi sesuatu hal yang buruk jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif. Sebaliknya media sosial bisa menjadi penunjang prestasi belajar siswa jika manfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Untuk itu penulis tetap yakin bahwa media sosial bisa menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here