Uang dan Kesehatan

0
140
Oleh Nevada Alfa Adventica Radja, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana Kupang.

Uang dan Kesehatan memiliki keterkaitan yang erat. Contohnya, ketika ingin berobat ke rumah sakit atau puskesmas, ketika selesai diperiksa oleh dokter atau perawat dan diberikan obat-obatan rutin, tentu kita akan melakukan transaksi pembayaran untuk mendapatkan obat tersebut. Transaksi yang digunakan tentunya adalah uang.

Sebaliknya kesehatan berpengaruh terhadap keuangan atau tingkat ekonomi seseorang. Ketika orang tersebut sehat atau memiliki kondisi fisik yang prima, tentu akan lebih bersemangat dan pekerjaan yang dilakukan akan lebih efektif dan dapat meningkatkan kualitas ekonomi orang tersebut. Sebaliknya jika orang itu sakit maka ia akan kesulitan dalam meningkatkan kualitas ekonominya dalam hal ini jumlah uang yang dia peroleh dari hasil kerjanya.

Kesehatan merupakan kondisi yang mendasar bagi kelangsungan hidup, yang berpengaruh terhadap produktivitas seseorang. Untuk menjaga kesehatan diperlukan keharmonisan, empati, hubungan sosial, penghargaan serta kebiasaan baik dalam keluarga. Selain faktor-faktor tersebut diatas kesehatan paling utama adalah keluarga, hal ini sangat ditentukan oleh prilaku hidup sehat.

Kesehatan banyak dipengaruhi oleh faktor internal yaitu genetik serta faktor eksternal yaitu lingkungan tempat tinggal. Menurut Harold (Syarifuddin, 2007:2), pada hakikatnya faktor-faktor inilah yang perlu diupayakan agar dapat memiliki kualitas hidup yang diharapkan, karena kualitas hidup berkaitan dengan kesehatan, umur, pekerjaan, kebebasan, keamanan, pendidikan serta keindahan.

Tetapi terdapat filosofi yang mengatakan bahwa “Kesehatan seseorang tidak dapat dibeli dengan uang”. Hal ini tentu benar bahwa kesehatan seseorang memiliki nilai yang begitu mahal sebagai wujud dari anugerah Yang Maha Kuasa. Setiap orang memiliki hak untuk merasakan kesehatan jasmani yang sama tergantung pada karakter dan cara pandang setiap orang dari cara menjaga kesehatannya yang dapat menentukan berapa lama orang tersebut akan merasakan kondisi tubuh yang baik.

Tetapi filosofi tersebut tidak berlaku di zaman modern seperti saat ini. Dalam kenyatannya, kesehatan seseorang sangat ditentukan oleh keadaan ekonmi dalam hal ini kondisi keuangannya. Orang yang memiliki tingkat ekonomi yang baik akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, tetapi tidak untuk orang-orang yang kurang mampu atau tingkat ekonomi rendah. Bahkan, orang yang memiliki tingkat ekonomi rendah yang sangat memerlukan pertolongan dalam hal ini pelayanan kesehatan, sering diabaikan bahkan tidak dipedulikan karena lebih mementingkan masyarakat atau pasien yang memiliki ekonomi yang baik dan tentu yang mempunyai pengaruh di instansi tersebut.

Itulah yang terjadi saat ini. Banyak masyarakat ekonomi golongan menegah ke bawah yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dikarenakan faktor ekonomi yang tidak mendukung. Adakah peran pemerintah untuk membantu masyarkaat yang memiliki kesulitan ekonomi? Tentu saja ada. Untuk membantu masyarakat yang kurang mampu pemerintah membentuk suatu sitem melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan juga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam bidang kesehatan (BPJS Kesehatan).

Kedua jaminan ini sangat membantu masyarakat kurang mampu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Tetapi jaminan ini mirisnya banyak dimiliki oleh masyarakat dengan golongan ekonomi yang memadai bahkan sangat memadai. Sedangkan masyrakat yang kurang mampu yang seharunya mendapatkannya, dipersulit dengan proses mendapatkan jaminan tersebut sehingga pada saat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan masyarakat merasa kesulitan hingga memilih untuk merawat keluarga yang sakit di rumah mereka.

Kejadian ini tentu berbanding terbalik dengan masyarkat yang memiliki tingkat ekonomi yang memadai. Selalu mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik hingga pasien tersebut sembuh total bahkan jika terjadi kematian pun di tangani dengan baik. Sedangkan masayarakat yang memiliki kesulitan ekonomi harus berusaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan berurusan dengan masalah keuangan yang harus dibayar, masalah jaminan kesehatan yang tidak mereka miliki karena kesulitan mendapatkannya. Di saat masyarakat yang memadai sudah mendatkan pelayanan yang baik, dirawat di dalam ruangan yang memadai, masyarakat kurang mampu masih harus berusaha demi satu tempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang merupakan hak semua orang.

Ketika pergi ke rumah sakit, tentu kita menjumpai banyak masyarakat dari kabupaten atau perkampungan yang menunggu di ruang tunggu, hingga tertidur di lantai ruangan tersebut bahkan tidak jarang ditemukan pasien yang meninggal karena menunggu adayanya pelayanan kesehatan yang harus dilunasi administrasi terlebih dahulu atau pun karena berhari-hari menunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Bahkan ketika mendapatkan pelayanan kesehatan pun masih dibedakan menjadi kelas-kelas yang tentunya berbeda dari kualitas pelayanannya. Untuk masyarakat kurang mampu, begitu mudahnya pihak instansi kesahatan memutuskan untuk kembali ke rumah jika tidak terjadi peningkatan kesehatan dari pasiaen selama dirawat. Dan pada akhirnya pasien tersebut meninggal di rumah tanpa adanya campur tangan dari pihak tenaga kesehatan. Tetapi untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi yang baik, segala upaya dilakukan, segala tenaga dikerahkan untuk mendapatkan kesehatan dari pasien terebut.

Lantas. Apakah kesehatan benar-benar tidak bisa dibeli dengan uang? Apakah uang tidak dapat menentukan derajat kesehatan seseorang? Itulah yang terjadi di negeri kita, negeri yang memiliki pedoman yaitu Pancasila yang di dalamnya terdapat “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tetapi sebenarnya keadilan itu hanya sebuah frasa yang belum menjadi sebuah tindakan nyata dalam kehidupan masayarakat.

Indonesia terlihat sebagai suatu negara yang hebat di mata dunia bagaikan seorang binaragawan yang memiliki tubuh yang kekar, otot yang keras dan tenaga yang kuat. Tetapi memiliki ganguan kesehatan di dalam tubuhnya, memiliki kerusakan saraf yang merangsang kinerja setiap anggota tubuh agar dapat bekerja dengan baik.

Itulah Indonesia kita sebenarnya. Apa yang akan kita lakukan sebagai generasi muda yang dikatakan sebagai tulang punggung bangsa? Diam? Menunggu? Atau sibuk dengan game online dan terus meningkatkan rank dan skill dalam game? Bukalah mata kita dan lihatlah begitu banyak penyakit yang terjadi di dalam tubuh bangsa kita. Apa yang akan kita lakukan? (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here