Nitti Kartini Modern (Catatan Kenangan & Apresiasi untuk Kepala SMKN 7 Kota Kupang)

0
116
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota KSK & Fasilitator Yaspensi.

Zaman dahulu, kehadiran wanita di tengah dunia selalu dibatasi. Mereka tidak diberi kesempatan dan kepercayaan untuk tampil di panggung publik apalagi menjadi pemimpin bangsa. Mereka masih saja dianggap kurang intelektual dalam memimpin.

Kemunculan R. A. Kartini telah mengubah pandangan yang salah tentang wanita. Adanya emansipasi, kini kedudukan wanita disetarakan dengan kaum pria. Mereka memiliki hak yang sama dengan pria di panggung publik bahkan dalam memimpin bangsa. Meskipun wanita sudah mendapatkan banyak kebebasan, namun bukan berarti melupakan kodratnya sebagai wanita sejati.

Adalah Yeftasina M. A. Nitti, dipercayakan menjadi kepala SMK Negeri 7 Kota Kupang, bukan berarti ia lupakan kodratnya. Karier dan keluarga menurutnya prioritas terpenting dalam kehidupannya. Sebagai kepala sekolah, beliau menjalankan fungsi dan perannya secara baik. Sosok pribadi yang lemah lembut, tegas dan teguh prinsip mampu membawa sekolah ke arah yang lebih dinamis. Pengalaman demi pengalaman telah dilaluinya dan selama menjabat menjadi kepala sekolah diaplikasikannya secara baik dalam kepemimpinannya.

Selain itu, Ma As – demikian ia disapa – tidak menunjukkan kesombongan dan keangkuhan karena jabatan yang tinggi. Sebaliknya, kerendahan hati sebagai hamba dan pelayan dan abdi. Artinya, beliau tak menutup diri, justru membaur dengan bawahannya, membuka hati menerima setiap kritik maupun saran yang pahit sekalipun demi kemajuan lembaga (sekolah) yang dipimpinnya. 

Kesuksesan yang diraih Ibu Yeftasina tidak terlepas dari cinta Tuhan dan dukungan keluarga sehingga beliau dapat berdiri tegak seperti batang pohon. “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1 Kor.3:11). Hal ini membuktikan bahwa dalam menjalankan tanggung jawab perkepala-sekolahan, beliau mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Sebab segala sesuatu jika tanpa campur tangan Tuhan maka apapun yang dikerjakan akan berakhir dengan kesia-siaan.

Yeftasina M. A. Nitti dalam salah satu kegiatan di sekolah.

Menjadi pemimpin yang berhasil tentunya harus lewati suka dan duka. Berbekal kepercayaan diri dan keyakinan yang kuat kepada Tuhan, beliau mampu melewati sukaduka itu. Beliau adalah orang yang berasal dari kalangan keluarga sederhana. Tekad dan semangat juang itulah yang membuat beliau berhasil mengangkat derajat diri dan keluarganya, bahwa tidak selamanya orang sederhana tidak bisa jadi pemimpin. Semuanya itu telah dibuktikannya. Hal ini jelas bahwa kesuksesan diperuntukkan bagi semua orang tanpa dibatasi perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Intinya mau berjuang bukan sekadar berpangku tangan.     

Ibu Yeftasina M. A. Nitti adalah salah satu titisan dari sekian Kartini yang ada di Kota Kupang dari lembaga pendidikan. Beliau berhasil membuktikan kepada dunia kita bahwa wanita juga mampu berkompetensi dalam memimpin. Setiap orang memiliki jiwa kepemiminan, tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memimpin. Majulah Nitti dan para Kartini Indonesia, harumkan tanah air pertiwi di Indonssia mini Kota Kupang hunian kita. (*)

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu artikel dalam buku NOMEN EST OMEN, Refeleksi Iman Seorang Guru Penulis (Penulis Patrisius Leu, Penerbit Gerbang Media Yogyakarta, 2022)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here