“Sound of Hope”: Sepenggal Pesan Pohon Natal 6 Meter Stasi YMY Liliba

0
74
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., Gr., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua YASPENSI.

Riuh-riak, kisah-kasih Natal 2025 segera berlalu pergi. Akan disambut dengan sukacita kabar Tahun Baru 2026. Suasana baru – kisah lama yang terulang kembali – hingga rancang rencana, cita dan cinta dalam semangat baru; berubah. Ragam ekspresi dan apresiasi pada kisah kelahiran Kristus. Dalam wujud rupa seni; tari, musik, drama, teater, dan sastra, yang menjelma dari refleksi dan imajinasi, menguatkan perayaan kenangan 2000-an tahun silam, di kandang yang hina; Betlehem.

Gloria in excelsis Deo, Bayi lahir, di atas lampin kudus beralas jerami, terbaring kokoh di atas palungan tua, dingin, dan menyengat. Ibu-Nya tersenyum Bahagia, ayahnya diam kaku seribu bahasa. Domba yang akan dikurbannkan, yang takkan pernah mati.

Ekspresi Natal

Usaha-usaha manusia (umat), dalam tiap-tiap kelompok masyarakat (gereja), berkontribusi sekuat tenaga untuk mengekspresikan, melukiskan, hingga mengabadikan ‘gambaran’ Natal. Lagu-lagu, tari-tarian, musik, bunyi-bunyian, rupa pohon Natal, kandang Natal, lampu, patung-patung, hingga penataan taman dan ruang menjadi daya tarik tersendiri. Semua mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai wujud ekspresi, agar tiap perayaan dan peringatan mesti dilalui dengan penuh kesan, penuh cerita, penuh perjuangan, penuh kebahagiaan.

Dok. pribadi ketua panitia natal_Vincent Repu.

Hal yang sama dilalui oleh umat Wilayah VI, Stasi Yesus Maria Yosep (YMY) Liliba, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kelompok kecil yang tergabung dari bagian gereja ini, ditugaskan sebagai panitia Natal 2025 Stasi YMY Liliba. Semua rancang dan rencana dikerjakan dengan teliti. Ruang diskusi, ruang kritik, ruang refleksi, ruang imajinasi, hingga ruang kreasi lahir, berproses dan berkembang. Tak ketinggalan ruang ekspresi.

Selain ‘mendandan’ area luar gereja dengan polesan yang cerah, pohon-pohon dipangkas dan dirapihkan, gundukan-gundukan material pengerjaan separuh gedung gereja, dibereskan dengan baik. Dilanjutkan dengan membereskan ruang dalam gedung, dibersihkan agar nyaman dan nyaman umat beribadah. 5 buah mobil tanki air dipaksa masuk ke dalam gereja guna menyiran lantai yang penuh tumpukan debu bangunan. Puluhan ana-anak ikut aktif melakukan pekerjaan yang mereka sukai itu.

“Sound of Hope”

Salah satu fokus yang paling intim dari ragam ekspresi (kerja) umat ini tertuju pada pohon dan kandang Natal di bagian depan altar gereja. Terkadang memang ini menjadi ikon yang berusaha membedakan. Walaupun bukan sebagai pusat perayaan ekaristi, tetapi titik ini menjadi salah satu fokus penjiwaan (doa) umat yang ingin ‘sempurna’ merayakan Natal dan Tahun Baru. Tanpa pohon dan kendang Natal, bisa jadi seperti doa-doa yang tinggi membumbung tanpa diakhiri kata “amen”. Pilu. Sepi.

Dok. pribadi penulis.

Pengerjaan kandang Natal oleh belasan Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah VI dilakukan  dengan penuh sukacita. Dibantu arahan beberapa seniman, tim yang solid ini memulai pengerjaan bahan ‘mentah’ dari sepanjang kali Manikin, mengumpulkan rerumputan sebagai alas palungan. Kaki berpijak pada lumpur, ditemani aliran sejuk air beriak, sementara kepala beratapkan sengatan terik matahari siang, yang siap membakar sekujur tubuh.

Kandang Natal yang dihasilkan terlihat normal begitu saja. Karena sangat sederhana. Minim pencahayaan lampu warna-warni yang terlalu mencolok. Lampu kandang Natal hanya kerlap-kerlip teduh. Bak Bintang-bintang malam di kejauhan langit Betlehem.

Hal hal tidak normal adalah – di beberapa tempat – ketika kandang Natal diisi penuh dengan lampu warna-warni yang menutupi kekhusyukan. Kadang ada yang menggantungkan pernak-pernik duniawi yang kadang tak sadar sedang memamerkan fokus kehidupannya; profan dan fana. Lampu-lampu warna-warni mereka lilit di sekujur tubuh bayi mungil dan sekujur bangunan kandang Natal itu. Lampu warna-warni yang mengalihkan kekhusyukan doa. Kerlap-kerlip kepalsuan yang merusak kesucian cahaya lilin-lilin di altar gereja.

Sekali lagi, kandang Natal yang dihasilkan OMK Wilayah VI YMY Liliba, terlihat normal begitu saja. Karena sangat sederhana. Minim pencahayaan lampu warna-warni yang terlalu mencolok. Lampu kandang Natal hanya kerlap-kerlip teduh. Bak bintang-bintang malam di kejauhan langit Betlehem. Banyak ruang kosong yang sengaja para seniman ciptakan untuk nantinya ditutupi (dihiasi) oleh doa-doa para peziarah pengharapan. Penuh, menemani Bayi mungil, yang tersenyum mendengar kidung-kidung permohonan umatNya. Riuh, ceria, bahagia.

Pohon Natal 6 Meter, Pohon Pengharapan

Ada satu titik yang menjadi fokus pandangan umat, yakni pohon tinggi menjulang sejauh 6 meter. Uniknya, pohon ini dihiasi puluhan rangkai mayang kelapa, lengkap dengan kelopak dan bunganya yang sudah mengering. Dicat minim pewarnaan. Hanya perak dan sepotong efek gantungan pita merah pada ‘buah bola-bola’, bergelantungan rapih dan khusyuk, dibalut kain hijau tua menambah keteduhan.

Dok. pribadi ketua panitia natal_Vincent Repu.

Lampu yang dipilih juga lampu cahaya teduh, tanpa kerlap-kerlip, menerangi sinarnya meliuk diantara potongan kelopak dan mayang kelapa, yang bentuknya seperti tangan menengadah, memohon belas kasih, meraih harapan, menjulang ke atas, menuju pusat akhir, bintang bercahaya kerlap-kerlip kecil.

Ada beberapa pertimbangan kecil, pohon Natal ini setinggi 6 meter dan bertema “Sound of Hope”. Pertama, untuk menjawabi kebutuhan komposisi (keseimbangan) ruang atas altar gereja yang sangat tinggi, sekitaran belasan meter. Pohon yang pendek tidak tepat ditempatkan pada efek ruang seperti itu. Mesti yang tinggi, minimal bisa setengahnya, agar komposisi ruang bisa balance. Kedua, adalah hanya soal identitas, angka 6 dari Wilayah VI. Ketiga, dan ini alasan paling puncak, pemilihan angka 6 bukan tanpa makna. Dalam refleksi penulis, angka 6 bisa mewakili (menggambarkan) perhitungan kalender 6 hari kerja manusia, dan pada hari ke-7 beristirahat dan berdoa. Konsep sederhana yang ditawarkan adalah ‘perayaan’ Natal mesti juga bisa dilakukan setiap hari; dalam proses dan progress kehidupan, yakni kelahiran harapan-harapan baru yang dititipkan di waktu sembahyang  pagi. Sebagai peringatan dan simbol dari para peziarah pengharapan, tiap hari, tiap jalan, tiap ruang, tiap waktu; tiap saat dan memuncak pada tujuan akhir, terang.

Karya Seni sebagai Apresiasi

Bagaimanapun, karya-karya hasil ekspresi manusia adalah karya seni yang berasal dari ide, perasaan atau gagasan, yang tentu tak hanya menghasilkan bentuk, tetapi menawarkan ragam pesan filosofis untuk kehidupan itu sendiri. Ragam apresiasi juga bukan hanya pada hasil akhir, namun menghargai (melihat) sebuah proses sebagai rangkaian pahatan ruang imajinasi untuk perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik para generasi muda gereja.

“Sound of Hope” adalah tawaran apresiasi terhadap ruang seni rohani, sebagai nilai outcome yang mudah-mudahan memperkuat kreasi iman untuk penguatan nilai pada kehidupan sehari-hari. Kiranya semua karya seni mampu menyuarakan dan menggambarkan kebaikan, sebagai harapan untuk bonum commune, kebaikan bersama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini