Guru Penggerak Kabupaten Sikka Membangun Ekosistem Saling Menguatkan

0
91
Dirjen PAUD Dikdasmen Iwan Syahril saat berdiskusi dengan Guru Penggerak Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Capa Resort Maumere, Selasa (06/05/2024) malam.

Sikka, SEKOLAHTIMUR.COM — Semangat dan dedikasi untuk bergerak bersama memajukan pendidikan melalui gerakan Merdeka Belajar menjadi catatan penting dalam diskusi antara Iwan Syahril selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) dengan Guru Penggerak Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Capa Resort Maumere, Selasa (06/05/2024) malam.

Diskusi yang dihadiri oleh puluhan Guru Penggerak yang sudah diangkat menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah di Kabupaten Sikka tersebut berlangsung sangat intim dan dipenuhi dengan cerita-cerita menarik mengenai perjuangan mereka melakukan transformasi pendidikan.

Elisabet Gaso, Guru Penggerak Angkatan 1 menceritakan bagaimana lika-liku perjuangannya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak, mulai dari penolakan kepala sekolah terhadap keikutsertaan dalam program tersebut dan praktik baik yang dilakukannya, sampai pada usahanya untuk membuktikan bahwa program yang sedang diikutinya akan berdampak baik pada satuan pendidikannya.

“Setelah dikasih izin (mengikuti Pendidikan Guru Penggerak), nyatanya kepala sekolah tidak rela. Merdeka Belajar itu apa sih? Guru Penggerak itu apa? Bergerak ke sana kemari. Tapi saya selalu berprinsip setiap program yang diluncurkan pemerintah pasti ada niat khusus. Jadi saya terus belajar,” kenang Elisabet yang saat ini sudah menjadi seorang pengawas Sekolah.

Penolakan juga datang saat Elisabet akan melakukan aksi untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah TK tempat ia mengajar. Tetapi ia tidak patah arang, ia terus melakukan aksi dan praktik baik yang dipelajarinya selama pendidikan di sekolah tempatnya mengajar, sampai kepala sekolah mengakui bahwa program yang sedang diikutinya benar-benar telah membuat perubahan di sekolahnya.

“Saya ikuti betul-betul Program Guru Penggerak, banyak aksi dan praktik baik yang saya lakukan di sekolah, jadilah diakui. Dan saya berjalan mulus sampai lulus sembilan bulan mengikuti pendidikan. Saya diangkat jadi pengawas, saya berupaya bergerak dengan niat yang baik, banyak sekolah yang sudah mengenal apa itu Merdeka Belajar di depan kecamatan di Sikka,” terangnya.

Guru Penggerak Kabupaten Sikka pose bersama Dirjen PAUD Dikdasmen.

Elisabet mengakui, dengan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ia bisa saling belajar dan berbagi bersama guru-guru dari satuan pendidikan jenjang berbeda, dan teman seangkatannya kompak untuk saling berbagi pengetahuan yang dimiliki masing-masing.

“Waktu itu saya hanya punya modal pembelajaran sosial emosional, karena itu ada di TK, dan kami berkolaborasi. Saya waktu itu tidak bisa buat video, saya belajar pada teman-teman yang jenjangnya lebih tinggi,” katanya.

Menjadi Senang Belajar

Ana Aprila. Guru Penggerak yang saat ini menjadi Pengawas SMP turut mengakui apa yang sudah ia terima dalam Pendidikan Guru Penggerak sangat membantunya baik ketika menjadi guru dan menjadi pengawas. Prosesnya selama mengikuti program tersebut telah memberikannya beragam kesadaran. Mulai dari kesadaran mengenai tujuan menjadi seorang guru, sampai pada kesadaran bahwa perubahan zaman dan percepatan teknologi harus membuat guru berbenah dan berubah.

“Saya benar-benar mendapat manfaat, di mana menjadikan saya guru yang mempunyai motif altruistic, tulus dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Selanjutnya saya juga menjadi guru yang sedang belajar. Saya berpikir, kalau kita tidak mengikuti perubahan, perubahan itu akan meninggalkan kita,” kata Ana.

Ana juga mengisahkan, ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ia diamanahkan menjadi pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah di sekolah yang baru berdiri, dan salah satu materi yang sangat dirasa membantunya saat mengemban amanah itu adalah pengelolaan program berdasarkan aset. Dari materi itu ia berusaha menerapkan pendidikan sesuai dengan tuntutan zaman sekarang untuk melahirkan murid dengan Profil Pelajar Pancasila.

“Saya berusaha mengajak guru untuk senang belajar dan memiliki nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Di sana guru-gurunya honor semua, tapi saya bangkitkan semangat mereka, ada spirit dari guru penggerak yang memampukan saya untuk mengajak dengan senang hati guru-guru honor itu tentang Kurikulum Merdeka,” kenang Ana sewaktu ia menjadi Plt di SMP Negeri 46 Nangahale.

“Kita belajar dibantu oleh PMM (Platform Merdeka Mengajar), kita jadi senang belajar. Belajar Kurikulum Merdeka itu apa, apa gunanya Merdeka Belajar, dan dalam refleksi tahun depannya saat mendaftar Kurikulum Merdeka kami direkomendasikan untuk memilih Mandiri Berbagi,” terang Ana yang mengatakan bahwa sekolahnya merupakan satu-satunya di Kabupaten Sikka yang direkomendasikan untuk memilih opsi Mandiri Berbagi dalam penerapan Kurikulum Merdeka.

Suasana diskusi.

Spirit dari Guru Penggerak yang ditularkan kepada guru-guru di sekolah tersebut juga telah membuat guru-guru gemar untuk mengakses PMM. Setiap ada waktu kosong guru-guru akan mengakses PMM, bahkan di rumah mereka terus belajar PMM.

“Mereka bahkan merancang kelasnya berbentuk letter u. Pembelajaran berdiferensiasi mereka mulai dengan pemetaan kebutuhan. Guru Bimbingan Konseling melakukan asesmen. Waktu itu mereka melakukan asesmen inventori minat, kecerdasan majemuk. Tidak punya psikolog tapi kita inventori saja. Menanyakan hobi anak, cita-cita anak, lalu ditempel di dinding sebagai hiasan profil anak,” kenang Ana dengan bahagia.

Bergerak dan Saling Menguatkan

Menanggapi beragam cerita praktik baik dari Guru Penggerak Kabupaten Sikka, Iwan Syahril selaku Dirjen PAUD Dikdasmen mengatakan bahwa meskipun sebagian besar Guru Penggerak sudah menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah, akan tetapi esensi para guru tersebut adalah seorang pendidik. Ia mengajak para Guru Penggerak yang sudah mendapat amanah dan jabatan untuk jangan sampai berpikir secara birokratis dan struktural.

“Menjadi pendidikan itu adalah sebuah profesi. Profesi itu esensinya menjadi pendidik. Peran struktural hanya sementara. Buatlah ekosistem Guru Penggerak yang sudah terbangun menjadi saling menguatkan,” kata Iwan sembari mengingatkan bahwa mereka yang belum mendapat amanah untuk tidak berkecil hati dan saling mendukung.

Iwan juga menegaskan bahwa Guru Penggerak harus saling menguatkan apapun peran yang diberikan. Kolektif di Kabupaten Sikka, terang Iwan, harus mengingatkan satu dengan lainnya bahwa tujuan seorang guru lebih besar dari tujuan diri sendiri atau kelompok. Dengan begitu, apapun persoalan yang dialami oleh masing-masing guru, mereka akan lebih jernih dalam melihat solusi dan mencari strategi dalam setiap persoalan yang dihadapi.

“Guru Penggerak itu dididik untuk menjadi pemimpin, dan saat ini ekosistem butuh pemimpin yang mengambil keputusan yang berpihak kepada murid. Pasti ada situasi tidak nyaman di setiap sekolah. Tapi ingatkan satu sama lain, tapi kita butuh ibu dan bapak untuk menjalankan peran menjadi pemimpin di sebuah sekolah, atau pengawas untuk beberapa sekolah, sehingga ekosistem kita maju lebih baik secara bersama-sama,” terang Iwan yang melanjutkan bahwa pendidikan Indonesia sudah harus mulai menghilangkan paradigma yang paling unggul, tapi harus unggul bersama, dan saling membantu untuk maju bersama-sama. (Siaran Pers BPMP NTT/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini