Membunyikan “Kisah Kasih di Sekolah”

0
99
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis & Wakasek Kesiswaan SMKN 7 Kupang.

PENGANTAR

“Kisah Kasih di Sekolah,” kalimat dari judul buku ke-9 karya penulis, sekaligus adalah judul lagu yang diciptakan penulis khusus untuk kegiatan pembinaan taruna-taruni SMK Negeri 7 Kupang. Judul buku (dan judul lagu) yang ditulis penulis dan yang direfleksikannya setelah melewati tiga belas tahun permenungan pembinaan ketarunaan.

Terciptalah syair lagu ini dengan nada dasar 1 = Bes, birama 2/4, gaya Timor Insana Stakato, pada tanggal 8 Desember 2025 di antara detak jarum pukul 12:09 WITA di ruang Wakasek Kesiswaan kala itu. Lagu ini menggambarkan perjalanan seorang siswa SMK Negeri 7 Kupang tentang bagaimana proses pembentukannya, perjuangan, semangat, cita-cita dan harapannya. Berikut refleksi mengenai lagu tersebut.

HARAPAN DAN CITA-CITA SEKOLAH

Cita-cita dan harapan yang sedang dan terus digelorakan oleh para Pembina dalam Tim Kesiswaan SMK Negeri 7 Kupang untuk taruna-taruni binaan tersampaikan melalui butir-butir syair lagu yang tertulis sebagai berikut.

Reff:

Kami datang ke SMK Negeri 7 Kupang, dari kampung, kota, kabupaten,

untuk mengeyam ilmu pelayaran, yang sudah ada di Kupang manis e …

Reffrein baris pertama, kami datang ke SMKN Tujuh Kupang, dari kampung, kota, kabupaten, menggambarkan asal dan awal perjalanan siswa yang datang dari berbagai latar belakang geografis (kampung, kota, dan kabupaten) dan penjuru yang ada di Nusa Tenggara Timur bahkan se-Nusantara, bersatu dalam satu tujuan: menimba ilmu di SMK Negeri 7 Kupang. Ini mencerminkan semangat keterbukaan ilmah dan kesempatan yang sama bagi semua.

Reffrein selanjutnya, untuk mengeyam ilmu pelayaran, yang sudah ada di Kupang manis e… menggarisbawahi kekhasan SMK Negeri 7 Kupang sebagai lembaga pendidikan yang memiliki program keahlian kemaritiman (pelayaran). Tujuan para muda belia berkumpul adalah untuk belajar ilmu pelayaran. Ungkapan “Kupang manis e” menambahkan sentuhan lokal dan kebangaan terhadap daerah asal sekolah berada di pusat ibu kota provinsi. Di kota Kupang-Kota kasih, kota Karang, demikian dilabeli, memberi garansi nuansa optimisme dan harapan akan masa depan yang cerah melalui pendidikan di tempat ini.

Lanjutan lagu pada ayat 1 berbunyi:

Bunyi sepatu yang sangat kompak sorak teriak

senior yang sangat galak

itu rapihkan banjar dan saf-nya

kami pun siap Langkah maju jalan…grak!

Kalimat Bunyi sepatu yang sangat kompak, sorak teriak senior yang sangat galak. Menggambarkan suasana disiplin, ketegasan dan semangat kebersamaan yang kuat dalam lingkungan sekolah bahkan terjaga diluar lingkungan sekolah. Bunyi sepatu yang kompak melambangkan keseragaman dan ketaatan, sementara sorak senior yang galak mencerminkan tradisi dan hierarki dalam pendidikan kemaritiman (pelayaran). Kekhususannya dapat dilihat dalam latihan baris-berbaris, kesamaptaan, dan kepemimpinan dalam corps batalyon taruna.

Itu rapihkan banjar dan saf-nya, kami pun siap langkah maju jalan… grak! Menekankan pentingnya kedisiplinan, kesiapan, dan kesigapan siswa untuk mengikuti instruksi dan aturan yang diberikan serta siap dalam menghadapi tantangan. Baris ini menggambarkan persiapan fisik, mental, rohani siswa sebelum memulai kegiatan belajar. Bahasa lain adalah, mencerminkan pembentukkan karakter yang disiplin dan siap menghdapi tantangan.

Lanjutan lagu pada ayat 2 berbunyi:

Siswa pelaut digembleng di barak

belajar muku makan apalagi

diasah iman, moral, dan ilmunya

itu semua agar jadi taruna Pancasila… hei!

Siswa pelaut digembleng di barak, belajar muku makan apalagi, menggambarkan proses pendidikan yang keras dan intensif di ‘barak.’ “Digembleng” berarti dibentuk dan dilatih dengan keras untuk menjadi kuat dan tangguh. “Belajar muku, makan apalagi” adalah ungkapan yang menunjukkan bahwa fokus utama adalah belajar dan berlatih, bahkan mengalahkan kebutuhan dasar seperti makan. Belajar giat tidak hanya tentang teori tetapi juga praktik dan keseharian.

Diasah iman, moral, dan ilmunya; itu semua agar jadi taruna Pancasila… hei! Hal ini menekankan bahwa Pendidikan di SMK Negeri 7 Kupang tidak hanya fokus pada pengetahuan akademis dan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral serta spiritualitas yang kuat. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan taruna Pancasila yang kompeten, beriman, dan bermoral.

Lanjutan lagu pada ayat 3 berbunyi:

Kini aku tamatkan studiku

pulang ke laut terjang badai zaman

arung Samudra layari dunia

tak akan lupa, kisah kasih di sekolah, ya!

Kini aku tamatkan studiku, pulang ke laut terjang badai zaman. Menggambarkan momen kelulusan setelah tiga tahun tahan uji dalam masa studi dan kesiapan untuk menghadapi dunia nyata. “Pulang ke laut terjang badai zaman” adalah metafora yang menunjukkan bahwa kehidupan pelaut penuh dengan resiko dan ketidakpastian. Laut adalah rumah, adalah ibu, adalah almamater yang memanggil pulang Kembali untuk memperoleh spirit, saripati hidup dan memperoleh kasih saying untuk hidup.  

Arung Samudera layari dunia, Menunjukkan bahwa pengalaman belajar di SMK Negeri 7 Kupang akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup seorang pelaut. Pada bagian ini mereka diingatkan kembali makna simbolik ritual pada saat pelantikan dimana mereke menerima siraman air Samudra. Bahwa: menerima pembersihan diri yang memberi kesegaran hati yang murni sebagai awal memulai perjalanan dan tantangan hidup baru sebagai calon pelaut dan pekerja profesional di lautan kehidupan. Dengan memberi rasa hormat kepada laut-samudera sumber kehidupan, mereka ini pada akhirnya mengabdikan ilmu dan hidupnya di Samudra raya kehidupan. Di Samudera itulah siapa menguasai laut, ia menguasai perdagangan sekaligus dunia. Karena itulah mereka melakukan pelayaran intelektual di kelas dan akhirnya pelayaran niaga di antar antar benua, bahkan terakhir perjalanan spiritual melabuhkan hidupnya di dermaga surga raya, tempat semua Angkatan dan semua taruna dan semua orang berkumpul menikmati cahaya wajah Allah di nirwana surga.

Tak akan lupa, kisah kasih di sekolah, ya! Penamatan studi sebagai taruna dan taruni disimpulkan dalam rasa syukur dan penghargaan terhadap pengalaman dan Pendidikan yang diterima di sekolah melalui guru-guru terbaik. Dan “Kisah kasih di sekolah” bukan hanya tentang romantisme, tetapi juga tentang persahabatan, persaudaraan, perjuangan, dan kenangan indah pelajaran berharga yang membentuk diri selama masa pendidikan. Karena itu mereka ini, disapa ‘pelaut’ saudara dan sahabatku.

PENUTUP

Lagu “Kisah-Kasih di Sekolah” adalah sebuah puji-pujian persembahan untuk SMK Negeri 7 Kupang dan dunia kemaritiman (pelayaran) umumnya. Liriknya yang sederhana mau membangkitkan semangat, kebanggaan, dan rasa cinta terhadap almamater. Lagu ini menggambarkan perjalanan menjadi siswa di SMK Negeri 7 Kupang dari awal hingga akhir, yang menekankan proses pembentukan karakter, disiplin, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan ketika kita mengarungi samudera kehidupan. Lagu ini juga menjadi pengingat yang mengungkapkan rasa syukur dan penghargaan terhadap pendidikan kekhususan yang diperoleh di sekolah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini