Natal dan Pendidikan: Ketika Terang Datang, Apakah Kita Masih Membiarkan Anak-Anak Berjalan dalam Gelap?

0
1103
Oleh Lefinus Asbanu, Pegiat Literasi YASPENSI & Jurnalis SekolahTimur.com

Natal selalu dirayakan sebagai peristiwa terang yang datang ke dalam kegelapan. Kelahiran Yesus dimaknai sebagai harapan bagi mereka yang kecil, lemah, dan terpinggirkan. Namun setiap kali Natal tiba, patutkah kita bertanya dengan jujur: apakah terang itu sungguh sudah menjangkau dunia pendidikan kita, terutama anak-anak di daerah pinggiran?

Di banyak tempat, termasuk di wilayah-wilayah terpencil pendidikan masih menjadi ruang gelap yang terlalu lama dibiarkan. Sekolah berdiri, tetapi literasi lemah. Guru hadir, tetapi berjuang sendirian. Anak-anak datang ke kelas, tetapi pulang tanpa harapan yang lebih terang tentang masa depan.

Natal dan Keberpihakan pada yang Kecil

Natal bukan perayaan kemewahan. Ia lahir di kandang, jauh dari pusat kekuasaan. Pesan ini seharusnya mengguncang cara kita memandang pendidikan. Jika Natal berpihak pada yang kecil, maka pendidikan pun seharusnya berpihak pada anak-anak yang paling rentan: mereka yang tinggal jauh dari pusat kota, hidup dalam keterbatasan ekonomi, dan tidak memiliki akses bacaan yang layak.

Sayangnya, kebijakan pendidikan sering justru berpihak pada yang mudah dijangkau, bukan yang paling membutuhkan. Ketimpangan ini bertentangan langsung dengan spirit Natal yang mengajarkan keadilan dan kasih yang aktif.

Pendidikan sebagai Tindakan Kasih

Natal bukan hanya tentang iman, tetapi juga tentang tindakan kasih yang nyata. Dalam konteks pendidikan, kasih itu seharusnya hadir dalam bentuk: Sekolah yang manusiawi, Guru yang didukung, dan dimanusiakan, buku yang hidup di tangan anak-anak, serta kebijakan yang berangkat dari realitas, bukan sekadar laporan.

Pendidikan tanpa kepedulian hanyalah rutinitas. Natal mengingatkan kita bahwa kasih selalu menuntut keberpihakan dan pengorbanan, termasuk keberanian mengubah sistem yang tidak adil.

Terang Itu Bernama Literasi

Jika Natal adalah terang, maka dalam dunia pendidikan terang itu bernama literasi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi membaca dunia, memahami realitas, dan menulis masa depan sendiri. Anak yang literat adalah anak yang memiliki daya tawar terhadap kemiskinan dan ketertinggalan.

Namun hingga hari ini, literasi masih sering diperlakukan sebagai program tambahan, bukan fondasi pendidikan. Taman bacaan dan komunitas literasi bergerak dalam keterbatasan, sementara kebijakan berjalan tanpa menyatu dengan gerakan masyarakat.

Natal sebagai Cermin Kebijakan

Natal seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Apakah kebijakan pendidikan kita sudah mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah? Ataukah kita hanya merayakan Natal secara ritual, sambil membiarkan anak-anak tetap tertinggal?

Natal mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian terhadap yang kecil. Pendidikan adalah ruang paling nyata untuk mewujudkan pesan itu. Jika Natal sungguh kita rayakan, maka ia harus hadir dalam keberanian memperbaiki pendidikan bukan hanya lewat doa dan perayaan, tetapi lewat kebijakan, tindakan, dan komitmen jangka panjang.

Sebab terang yang sejati bukan hanya yang dinyalakan di altar, tetapi yang menyalakan masa depan anak-anak melalui pendidikan yang adil dan bermakna. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini