Seni Bukan Sekadar Hobi

0
91
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., Gr., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua YASPENSI.

Diskusi panjang lebar tentang seni (berkesenian) adalah sebuah ‘pergumulan’ panjang yang menyisakan jawab bagi para pelaku seni, dan selalu menyisakan tanya bagi masyarakat luas (awam atau sejenisnya). Realitas berkesenian juga kadang menjadi momok di dunia pendidikan, antara pendidik dan peserta didik, antara harapan dan kenyataan, antara nilai angka dan nilai norma, antara konsep kurikulum dan konteks pembelajaran, antara paradigma dan anomali; seni itu penting dan seni itu tidak penting.

Di suatu kesempatan, setelah selesai latihan paduan suara di sekolah, untuk persiapan salah satu lomba, saya dihampiri seorang anak murid yang sangat meminati dunia seni. Seperti biasa kami bercerita mengenai dunia seni, karya-karya seni hingga sepenggal pengalaman-pengalaman. Karena ketertarikannya pada duni seni saya selalu mengarahkannya untuk setelah tamat SMA, sebaiknya ia melanjutkan pendidikan tingginya nanti di perguruan tinggi seni, karena sangat menjanjikan untuk anak seperti dia. Ia menarik nafas panjang dan mengatakan bahwa agak susah untuk melanjutkan pendidikan di kampus seni karena orang tuanya tidak setuju; sudah mendapat ‘masukan’ dari guru lainnya bahwa seni itu tidak penting, seni hanyalah hobi saja, dan seni tidak bisa memenuhi kebutuhan masa depan.

Seni dan Hobi

Seni merupakan aspek yang penting dalam kehidupan manusia, yang sering kali diabaikan atau dianggap remeh oleh banyak orang, yang tanpa menyadari betapa besar pengaruh dan makna yang terkandung di dalamnya. Banyak masyarakat luas (awam atau sejenisnya) yang cenderung menganggap seni hanya sebagai hobi atau sekadar kegiatan santai yang bisa dilakukan di waktu luang, tanpa memahami bahwa seni sejatinya memiliki kedalaman yang jauh lebih signifikan. Seni bukan sekadar media untuk bersenang-senang; ia berfungsi sebagai alat komunikasi yang kuat, memungkinkan individu untuk mengekspresikan perasaan dan ide-ide yang kompleks, serta berperan sebagai cermin yang merefleksikan budaya dan masyarakat tempat kita tinggal.

Pernyataan bahwa seni adalah sesuatu yang tidak penting atau tidak dapat memenuhi kebutuhan masa depan sangat merugikan. Seni memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang dipahami banyak orang. Seni bukan hanya sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang; ia adalah alat komunikasi yang dapat menyampaikan pesan, membangkitkan emosi, dan menciptakan hubungan antar manusia. Dalam era di mana kreativitas dan inovasi menjadi kunci kesuksesan, seni dapat berfungsi sebagai penggerak ide-ide baru dan perspektif yang fresh.

Keberanian untuk memilih jalur pendidikan yang sesuai dengan minat dan passion sangat penting. Namun, hal ini sering kali ditentang oleh orang tua yang mungkin merasa khawatir tentang masa depan anak mereka. Ketidakpahaman tentang dunia seni dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sering kali menyebabkan orang tua memandang pendidikan seni dengan skeptis. Padahal, banyak karir yang berhubungan dengan seni, seperti desain grafis, seni pertunjukan, ilustrasi, dan bahkan bidang kreatif dalam bisnis, yang bisa sangat menjanjikan.

Situasi ini menggarisbawahi perlunya pendidikan seni yang lebih baik di masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Jika lebih banyak guru dan orang tua dapat memahami pentingnya seni dan bagaimana pengembangan keterampilan kreatif dapat menciptakan peluang, generasi muda yang berbakat di bidang seni tidak akan perlu merasa terjebak antara minat dan harapan masa depan.

Oleh karena itu, sebagai mentor atau pendukung, kita perlu terus mendorong anak-anak muda untuk menjalani apa yang mereka cintai dan memahami bahwa seni adalah bagian integral dari kehidupan kita. Mendapatkan dukungan dari mereka yang paham dan mengapresiasi seni akan sangat bermanfaat bagi anak tersebut, membantu dia untuk mengatasi keraguan yang ditanamkan oleh lingkungan sekitarnya.

Menghadapi tekanan ini bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan tekad dan dukungan yang tepat, individu yang berkecimpung dalam dunia seni dapat menemukan jalan mereka, baik dalam karir maupun dalam kehidupan pribadi. Bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang lebih kaya dan beragam berkat pengaruh seni.

Paradoks Seni

Pengalaman lain diceritakan, memang banyak orang tua yang mengkhwatirkan nilai anak-anaknya di sekolah. Ketika anak-anaknya fokus dan tekun berlatih seni, untuk lomba, untuk pentas, untuk PENSI, ada ‘penurunan prestasi’ dengan berkurangnya beberapa nilai matapelajaran, namun meningkat/bertambahnya nilai matapelajaran seni.

Ini adalah gambaran konflik yang kompleks antara pendidikan formal dan pengembangan keterampilan kreatif. Di satu sisi, banyak orang tua yang berharap anak-anak mereka mencapai kesuksesan akademis yang tinggi dalam mata pelajaran seperti matematika, sains, dan bahasa. Namun, di sisi lain, mereka sering kali tidak menyadari atau menghargai betapa pentingnya keterlibatan dalam seni dalam pengembangan diri anak.

Dalam banyak kasus, pendidikan formal masih sangat terfokus pada nilai akademis yang tinggi, menciptakan tekanan bagi anak untuk berprestasi di bidang-bidang yang dianggap “lebih penting”. Ketika anak-anak berfokus pada seni — seperti berlatih untuk pertunjukan, lomba, atau kegiatan seni lainnya — sering kali ada konsekuensi pada nilai di mata pelajaran lain. Hal ini biasa disebut sebagai paradoks, di mana meskipun anak menunjukkan kemajuan pesat dalam seni, mereka terpaksa menghadapi negativisme dari orang tua yang menganggap penting nilai akademik.

Para ahli, termasuk Howard Gardner, berargumen bahwa pengembangan seni dan kreativitas dapat memperkaya pengalaman belajar dan berkontribusi pada kecerdasan majemuk. Melalui seni, anak-anak tidak hanya belajar tentang ekspresi diri, tetapi juga meningkatkan keterampilan kritis, seperti pemecahan masalah, kolaborasi, dan empati. Meski ada penurunan nilai bidang akademis, ini tidak seharusnya dilihat sebagai kegagalan; sebaliknya, itu adalah bagian dari proses belajar yang lebih holistik.

Ketika orang tua melihat penurunan nilai akademis, kekhawatiran mereka sering kali berbasis pada keyakinan bahwa keberhasilan akademis adalah indikator utama masa depan yang cerah. Ini bisa menimbulkan reaksi negatif, seperti kemarahan atau larangan untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan seni. Namun, dengan mengalihkan perhatian anak-anak dari seni, orang tua mungkin tidak menyadari bahwa mereka sekaligus menghilangkan kesempatan emas untuk pengembangan kreativitas dan keterampilan sosial yang krusial.

Jalan Keseimbangan

Tidak banyak orang tua — atau memang tidak ada — yang sujud bersyukur ketika nilai akademis anaknya menurun dan nilai seni-nya meningkat; karena orang tua paham bahwa memang jalan hidup anaknya adalah dunia seni(?) Di sinilah letak paradoks yang lebih besar, di mana pengakuan terhadap bakat dan minat anak sering kali terabaikan. Ketika sebuah angka di rapor mencerminkan peningkatan prestasi di bidang seni, seharusnya itu menjadi sinyal positif bahwa anak tersebut memiliki panggilan yang kuat untuk berkarya dalam bidang yang dia cintai.

Peningkatan nilai seni bukan hanya sekadar angka di kertas; ia mencerminkan dedikasi, kerja keras, dan komitmen anak terhadap bentuk ekspresi yang membuatnya bersemangat. Dengan mengabaikan pencapaian di bidang seni, orang tua mungkin melewatkan kesempatan untuk mendukung dan memfasilitasi potensi yang ada dalam diri anak mereka. Dalam konteks ini, seharusnya orang tua bisa melihat bahwa nilai seni yang tinggi adalah indikasi bahwa anak sedang mengejar passion-nya, yang bisa menjadi pondasi untuk karier yang sukses di masa depan. Mereka menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berbakat, tetapi juga berinvestasi waktu dan usaha dalam pengembangan keterampilan yang relevan. Dalam banyak kasus, mereka yang berfokus pada seni dapat meneruskan pendidikan ke lembaga pendidikan tinggi yang khusus dalam bidang ini.

Penutup

Tulisan ini menegaskan bahwa seni seharusnya dipandang lebih dari sekadar hobi; ia merupakan aspek penting dari kehidupan yang dapat memperkaya pengalaman dan perkembangan individu. Meskipun banyak masyarakat, termasuk orang tua, sering menganggap seni tidak begitu penting dan hanya sebagai kegiatan santai, kenyataannya seni memiliki peran yang signifikan dalam mengekspresikan diri, membangun hubungan sosial, dan mempersiapkan anak untuk karier yang sukses.

Diskusi mengenai seni dalam konteks pendidikan mencerminkan paradoks di mana peningkatan prestasi di bidang seni seringkali disertai dengan penurunan nilai akademis di mata pelajaran lain. Hal ini menyebabkan kekhawatiran dari orang tua yang lebih mengutamakan keberhasilan akademis. However, pandangan sempit ini mengaburkan potensi anak-anak yang menunjukkan bakat dalam seni; nilai seni yang meningkat adalah indikator nyata dari dedikasi, kerja keras, dan passion yang bisa membentuk masa depan mereka.

Penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk memahami nilai seni dan mengintegrasikannya dalam pendidikan secara lebih holistik. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat mengejar minat mereka dalam seni tanpa merasa terjebak antara harapan akademis dan impian kreatif. Kesadaran ini akan membantu menciptakan generasi yang tidak hanya berprestasi di bidang akademis tetapi juga kaya dalam kreativitas dan inovasi, menjadikan seni sebagai bagian integral dari perkembangan manusia yang berkelanjutan, hidup dan menghidupi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini