Daya ingat merupakan salah satu aspek kognitif yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Dalam praktik pendidikan, pemahaman peserta didik tidak akan bertahan lama tanpa kemampuan menyimpan serta memanggil kembali informasi yang telah dipelajari. Kenyataannya, di ruang kelas masih sering dijumpai peserta didik yang terlihat aktif saat pembelajaran berlangsung, tetapi kesulitan mengingat kembali materi pada pertemuan berikutnya.
Pengalaman tersebut saya temui dalam proses pembelajaran sehari-hari. Berbagai metode telah diterapkan, mulai dari ceramah interaktif, diskusi kelompok, hingga penugasan. Namun, sebagian peserta didik tetap menunjukkan gejala cepat lupa. Hal ini menandakan bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya menyentuh tahapan penguatan memori.
Secara teoritis, proses mengingat berkaitan dengan tahapan pengkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval) sebagaimana dijelaskan dalam teori pemrosesan informasi oleh Atkinson dan Shiffrin. Informasi yang tidak diproses secara mendalam cenderung hanya bertahan dalam memori jangka pendek. Karena itu, strategi pembelajaran perlu dirancang agar peserta didik tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengolahnya secara aktif.
Sejalan dengan teori levels of processing dari Craik dan Lockhart, informasi yang diproses secara lebih mendalam, misalnya melalui pemaknaan, pengorganisasian, dan pengungkapan kembali akan lebih mudah diingat dalam jangka panjang dibandingkan informasi yang hanya diproses secara dangkal. Berdasarkan prinsip ini, saya menerapkan metode rangkuman dan pelafalan kembali dalam kegiatan pembelajaran.
Metode ini dilakukan dengan meminta peserta didik menyusun rangkuman materi menggunakan bahasa mereka sendiri, bukan sekadar menyalin dari buku atau papan tulis. Setelah itu, mereka diminta melafalkan kembali isi rangkuman tanpa melihat catatan. Kegiatan ini mendorong peserta didik mengidentifikasi gagasan utama, menyusun ulang informasi, serta menghubungkan konsep-konsep penting. Proses tersebut merupakan bentuk elaborasi kognitif yang memperkuat jejak memori.
Selain itu, pelafalan kembali termasuk dalam praktik pemanggilan memori (retrieval practice). Penelitian Roediger dan Karpicke menunjukkan bahwa upaya mengingat kembali informasi secara aktif jauh lebih efektif dalam memperkuat daya ingat jangka panjang dibandingkan sekadar membaca ulang materi. Dengan kata lain, saat peserta didik berusaha mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari, sebenarnya mereka sedang memperkokoh struktur memori mereka sendiri.
Hasil pengamatan di kelas menunjukkan adanya perkembangan positif. Peserta didik lebih siap mengikuti pembelajaran berikutnya karena masih mengingat materi sebelumnya. Mereka juga lebih percaya diri menjelaskan isi pelajaran dengan bahasa sendiri. Hal ini menandakan bahwa metode tersebut tidak hanya berdampak pada daya ingat, tetapi juga pada pemahaman konseptual dan keterampilan komunikasi.
Dari pengalaman ini dapat disimpulkan bahwa rendahnya daya ingat peserta didik bukan semata-mata persoalan kemampuan individu, melainkan juga terkait dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Guru perlu menghadirkan aktivitas belajar yang mendorong keterlibatan mental aktif agar informasi dapat diproses secara mendalam dan bertahan lebih lama dalam ingatan.
Dengan demikian, metode rangkuman dan pelafalan kembali dapat menjadi strategi pembelajaran yang sederhana, aplikatif, dan selaras dengan teori psikologi kognitif modern. Jika diterapkan secara konsisten dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, metode ini berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat daya ingat sebagai fondasi belajar yang berkelanjutan. (*)


