Pada desir angin laut yang menggigit dan langit malam yang membentang seperti tirai takdir, ada bunyi yang menolak untuk diam: alunan musik yang lembut, mengalir di atas gelombang kepanikan dan ketakutan.
Nada-nada itu bukan sekadar rangkaian suara, melainkan denyut keberanian yang berdiri tegak di ambang kehancuran. Dalam gelap yang perlahan menelan cahaya, musik menjadi nyala kecil yang menolak padam – menolak diam – menolak tenggelam, berbunyi dalam kedinginan malam; sunyi!
***
Dalam film Titanic karya James Cameron, ada satu bagian yang sangat menyentuh hati dan sulit dilupakan: kisah para musisi kapal yang tetap memainkan instrumen mereka ketika kapal megah itu perlahan tenggelam ke dasar samudra. Saat para penumpang berlarian mencari keselamatan, ketika jerit dan tangis bercampur dengan suara retakan besi, para musisi justru duduk dalam lingkaran kecil mereka, memeluk biola dan cello, membiarkan melodi mengalir dengan ketenangan yang nyaris mustahil dipahami.
Scene itu muncul tanpa sajian berlebihan. Gambar bergerak perlahan, menyorot wajah-wajah yang sadar akan akhir, namun tetap memilih untuk bertahan dalam harmoni. Kalimat sederhana yang diucapkan pemimpin orkestra kepada rekan-rekannya—tentang kehormatan bermain bersama malam itu—mengandung bobot emosional yang jauh melampaui dialog biasa. Ia menjadi penanda bahwa di tengah kekacauan, manusia masih bisa memilih martabat.
Namun kekuatan adegan tersebut tidak hanya terletak pada kepiawaian sinematografi atau kecerdikan penyutradaraan. Ia menjadi begitu menyentuh karena berakar pada peristiwa nyata yang terjadi di atas RMS Titanic pada malam 14 April 1912. Delapan musisi sungguhan memang tetap memainkan musik ketika kapal itu karam. Mereka bukan tokoh fiktif yang diciptakan untuk menambah dramatisasi, melainkan manusia nyata dengan keluarga, mimpi, dan kehidupan yang kemudian berakhir bersama kapal tersebut.
Di geladak yang semakin miring, ketika air laut mulai merayap tanpa ampun, mereka tetap memainkan lagu; sebuah tindakan yang dalam kesederhanaannya justru memancarkan keberanian luar biasa. Musik mereka dipercaya membantu menenangkan penumpang, meredakan kepanikan, dan memberi ilusi keteraturan di tengah situasi yang tak terkendali. Dalam dunia yang sedang runtuh, mereka menghadirkan sepotong kecil keindahan.
Sirilus Wali dan Musisi Titanic
Sirilus Wali lahir pada 4 Februari 1965 di Ndangakapa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende (Daerah Ende–Nagekeo, Nusa Tenggara Timur). Ia menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, mengambil jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik). Ia juga menempuh pendidikan formal di SDK Malasera, SMPN Nangaroro, serta SPGK Frateran Ndao.

Pengabdiannya menjadi Guru Seni Budaya di SMAK Giovani Kupang dan juga SMAN 11 Kupang. Ia adalah seorang komponis handal, terutama untuk lagu-lagu gerejawi berpola etnik, mencipta lagu-lagu Mars, Hymne, dan jingle. Melatih puluhan Paduan suara di kota Kupang dan NTT pada umumnya. Hingga menjelang kematiannya, ia masih melayani kebutuhan konser dan cipta lagu. Ia meninggal pada 17 Februari 2026 di tanah kelahirannya, Flores.
***
Kini, kita akan bayangkan sebuah kisah Titanic itu, selepas 114 tahun lamanya. Tetapi bukan di tengah lautan beku Atlantik Utara, melainkan di sebuah kota di timur Indonesia: Kupang. Seorang musisi tangguh, yang sering dalam kondisi tak bugar, tetap berkarya, naik panggung, menulis lagu, melatih, dan bermeditasi dengan musik. Tubuhnya mungkin melemah, napasnya tidak sekuat dulu, tetapi jiwanya tetap enerjik, menari di atas alunan harmoni pada ruang paduan suara yang menggema. Kisah ini, antara Sirilus Wali dan Titanic, yang dipisahkan oleh ruang, waktu, dan konteks yang sangat berbeda, melahirkan getaran nada yang sama, pada birama yang utuh.
Musik sebagai Panggilan, Bukan Sekadar Profesi
Dalam kisah kapal Titanic, para musisi bukanlah pahlawan dalam arti konvensional. Mereka bukan kapten kapal, bukan awak yang mengatur sekoci, bukan tokoh utama yang menyelamatkan orang lain secara fisik. Mereka adalah penghibur. Namun di saat genting, profesi itu berubah makna.
Musik yang mereka mainkan menjadi jangkar emosional bagi para penumpang. Di tengah kepanikan, suara yang stabil memberi rasa keteraturan. Di tengah teriakan, melodi memberi ketenangan. Musik menjadi bahasa yang melampaui kata-kata.
Sama hal pula dengan Sirilus Wali yang tetap berkarya. Ia mungkin tidak sedang menghadapi bencana besar, tetapi ia menghadapi badai dalam dirinya sendiri: rasa sakit, kelelahan, mungkin ketidakpastian tentang masa depan, namun gejolak musik meruntuhkan semua rasa itu. Ia terus berkarya dalam pelayanan; musik mesti terus berbunyi, terus bergema, menembus ruang dan waktu, menembus keadaan, menembus kenyataan, menembus harapan, sebagai panggilan Ilahi yang akan jadi fondasi, Di titik inilah musik berhenti menjadi sekadar pekerjaan. Ia menjadi panggilan. Sebuah identitas. Sebuah alasan untuk tetap berdiri.
Musik sebagai Martabat
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari gambaran manusia yang tetap setia pada pekerjaannya di tengah kesulitan. Bukan karena keras kepala, tetapi karena di situlah martabatnya berada.
Di atas kapal Titanic, para musisi mempertahankan martabat bukan dengan teriakan heroik, tetapi dengan harmoni. Di Kupang, seorang Musisi mempertahankan martabatnya dengan tetap berkarya, seolah berkata bahwa penyakit boleh melemahkan tubuh, tetapi tidak boleh mematikan jiwa.
Martabat sering kali tidak terlihat dalam tindakan besar, melainkan dalam konsistensi kecil yang terus dilakukan. Setiap nada dan kata yang dipersembahkan Sirilus Wali, adalah bentuk perlawanan terhadap rasa putus asa manusia.
Kisah yang Sangat Penting
Manusia saat ini hidup di zaman yang sering kali mengukur nilai seseorang dari produktivitas dan hasil akhir. Sukses diukur dari pencapaian, jumlah penonton, angka penjualan, atau popularitas.
Namun kisah para musisi Titanic dan Sirilus Wali mengajarkan sesuatu yang berbeda: nilai manusia tidak selalu terletak pada hasil, tetapi pada sikap.
Para musisi Titanic tidak menyelamatkan kapal. Mereka tidak mengubah akhir cerita. Kapal tetap tenggelam. Namun dunia mengingat mereka bukan karena mereka berhasil, melainkan karena mereka tetap setia.
Begitu pula para musisi yang terus bermusik, meski dalam keadaan sakit. Mungkin ia tidak lagi tampil di panggung besar. Mungkin penontonnya hanya segelintir orang. Namun nilai dari tindakannya terletak pada keberanian untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah keterbatasan.
Para sidang pembaca mungkin bukan semuanya musisi. Juga tidak akan pernah menghadapi situasi seekstrem Titanic atau perjuangan kesehatan berat. Namun setiap orang memiliki “geladak” dan “badai” masing-masing. Ada saat-saat ketika hidup terasa tenggelam. Ada saat-saat ketika tubuh atau pikiran melemah.
Ada saat-saat ketika menyerah tampak lebih mudah. Di momen-momen itulah pertanyaan penting muncul: apa musik kita? Apa hal yang membuat kita tetap merasa hidup? Apa panggilan yang tetap ingin kita jalani meski keadaan tidak ideal?
Bagi para musisi itu, jawabannya jelas: mereka akan terus bermusik, berkarya, berbunyi.
Musik yang Tidak Pernah Tenggelam
Kapal Titanic sudah tenggelam ke dasar laut. Air menutup dek, lampu padam, suara manusia hilang dalam gelap. Namun kisah musiknya tidak pernah tenggelam.
“Scripta manent, verba volant” (karya akan hidup, kata-kata akan hilang), telah diwariskan oleh Sirilus Wali, hingga menguatkan adagium “Ars Longa, vita brevis” (Seni abadi, hidup itu singkat). Setiap nada yang dimainkan Sirilus Wali dan Musisi Titanic, adalah bukti bahwa manusia bisa tetap memilih makna, bahkan ketika hidup singkat dan hilang; tidak berjalan sesuai rencana. Pada akhirnya, yang abadi bukanlah kapal, bukanlah tubuh, bahkan bukanlah panggung. Yang abadi adalah nilai dari tindakan itu sendiri. Musik mungkin tidak bisa menyelamatkan dunia. Tetapi ia bisa menyelamatkan martabat manusia.
***
Ditulis di ruang musik SMAN 4 Kupang – sebuah dedikasi dari junior untuk menyambut misa malam ketiga almarhum pak guru Sirilus Wali, senior yang energik.
Sambil ditemani aroma parfum baru dan senyumannya yang terus terlintas didalam kepala. Bahagia abadi, senior. Musik takkan pernah tenggelam – takkan pernah mati. (*)


