Realitas Pendidikan Hari Ini
Mengerikan! Kira-kira ini satu kata yang dapat mewakili perasaan penulis ketika menyaksikan masalah-masalah di sekolah akhir-akhirnya ini yang terpampang di berbagai media. Topik yang paling update dan viral adalah kasus seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur yang dikeroyok oleh peserta didiknya sendiri.
Bukan maksud saya untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kedua kasus ini. Tetapi kasus ini setidaknya memberi gambaran bahwa pendidikan di sekolah hari ini tidak baik-baik saja. Tampak bahwa elemen-elemen dalam pendidikan, baik peserta didik, guru maupun orang tua masing-masing berjalan sendiri. Padahal pendidikan sejatinya ingin mencapai tujuan yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuan Tidak Menghalalkan Cara
Herbert Fensterhein dalam bukunya Don’t Say Yes When You Want to Say No menekankan korelasi antara tujuan dan cara. Tujuan yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik dan bahasa yang santun. Sebab setiap orang sejatinya membutuhkan perlakuan yang baik. Setiap orang memiki kebutuhan untuk dihargai.
Abraham Maslow dalam bukunya Motivation and personality membagi kebutuhan manusia atas beberapa bagian. Salah satunya Adalah kebutuhan akan harga diri. Bahwa manusia memiliki hasrat akan nama baik atau gengsi (prestise) yang dirumuskan sebagai penghormatan dan penghargaan dari orang lain. Karena itu menyampaikan suatu yang memiliki tujuan baik dengan cara yang tidak baik biasaya cendrung melecehkan dan akan menimbulkan penolakan baik secara terang-terangan atau terselubung. Dengan demikian tujuan tidak tercapai secara utuh karena caranya mengabaikan kebutuhan akan harga diri.
Relasi Pendidik dan Peserta Didik
Dalam dunia pendidikan mau tidak mau dibutuhkan relasi yang positif antara pendidik dan peserta didik. Sebab manusia adalah makluk social yang memerlukan hubungan interpersonal dengan orang lain. Relasi interpersonal memiliki manfaat seperti penyangga Ketika menghadapi tekanan atau dukungan emosional dalam menjalani kehiduban sehari-hari. Karena itu relasi interpersonal antara pendidik dan dan peserta didik memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan.
Efektifnya, pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh relasi antara pendidik dan peserta didik. Relasi yang positif menanamkan kesan dalam benak peserta didik bahwa pendidiknya bukanlah orang asing. Bahwa pendidiknya adalah bagian dari kehidupannya. Dengan relasi yang positif, pendidik mendapatkan “hati” peserta didik. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh pendidik baik itu pembelajaran atau pun nilai-nilai yang ditanamkan dapat diterima dengan baik.
Ada banyak model relasi antara pendidik dan peserta didik. Ali Garda Baba, dkk., dalam Investigation in to the type of Teaher-Student in Institution of Learning in Yobe State (IOSR Journal of Humanities and Social Science) mengemukan beberapa model relasi. Salah satunya adalah model relasi kolegial. Model relasi ini memposisikan guru sebagai rekan, teman dan sahabat bagi peserta didik. Dalam relasi ini pendidik dan dan peserta didik berdiskusi dan bercerita tanpa merasa canggung tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang pendidik. Konsekuensinya pendidik harus merendahkan untuk menyapa peserta didik atau bercengkerama ringan setiap kali bertemu entah di lingkungan sekolah atau pun di luar lingkungan sekolah. Sebab sapaan sejatinya menciptakan lingkungan yang positif. Sapaan membuat seseorang merasa dihargai. Pada titik ini optimisme keberhasilan pendidikan bergaung kencang. Sebab kebutuhan akan harga diri mulai terpenuhi. Dan setiap orang yang merasa dihargai akan terdorong untuk menghargai.
Relasi Pendidik dan Orang Tua Peserta Didik
Orang tua merupakan salah satu pendukung yang sentral dalam pendidikan. Bagaimanapun orang tua adalah pemilik peserta didik. Dan sebagian besar waktu peserta didik dihabiskan bersama orang tua. Hubungan yang positif antara pendidik dan orang tua akan memudahkan keberhasilan Pendidikan. Relasi yang positif antara peserta didik dan orang tua mengembalikan posisi orang tua sebagai pendidik pertama dan terutama.
Relasi yang positif selain memungkinkan pertukaran informasi juga memudahkan penyelesaian yang baik manakala timbul persoalan yang harus diselesaikan. Konsekuensinya, pendidik harus menyapa dan membangun komunikasi yang baik dengan orang tua. Komunikasi membangun kedekatan yang akan memudahkan dukungan orang tua terhadap kebijakan pendidikan yang diambil oleh pendidik.
Kurikulum Berbasis Cinta
Kurikulum Berbasis Cinta merupakan terobosan Kementerian Agama Republik Indonesia yang diluncurkann secara resmi oleh Menteri Agama pada tanggal 24 Juli 2025. Sasaran terdekatnya adalah memulai satu transformasi mendalam dalam ekosistem pendidikan. Mengusung semangat “Mewujudkan Cinta dalam Roh Pendidikan”, kurikulum ini hadir sebagai respons konkret atas krisis yang akhir-akhir ini melanda dunia pendidikan. Menteri Agama dalam pidatonya menyatakan bahwa cinta adalah bahasa universal yang bisa menjembatani berbagai perbedaan dan menyatukan umat manusia dalam harmoni.
Dalam konteks pendidikan, setiap kebijakan dan tindakan harus diambil dengan cinta sebagai fondasi. Sasaran terjauh adalah melahirkan generasi yang berpikir dengan cinta, merasa dengan cinta, dan bertindak dengan cinta. Tindakan yang kasar, kata-kata yang menyakiti tentu saja sudah tidak memiliki tempat di dalam dunia pendidikan. Sebab cinta dan perilaku kasar merupakan dua hal yang saling bertolak belakang. Cinta itu pasti membawa kebahagiaan sedangkan perilaku kasar biasanya menyakiti. Cinta yang sempurna diteladankan oleh Guru Agung Yesus Kristus. Ia rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan manusia yang dicintainya. (Penulis: Yoakim Sae, Staf Kantor Kementerian Agama Kota Kupang)


