Tak Selamanya “Qui Bene Cantat Bis Orat’’ (Catatan Selepas Koor Paskah)

1
76
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., Gr., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua YASPENSI.

Geliat hingga meninggalkan gejolak dekoratif koor Paskah di sudut-sudut gereja, baik di kota maupun di desa, turut memberi warna dan menakar kemampuan berkesenian manusia itu sendiri. Kata “koor” dalam bahasa Indonesia umumnya dipakai untuk menyebut kelompok orang yang bernyanyi bersama, seperti paduan suara di gereja, sekolah, atau konser. Penggunaan kata ini berhubungan dengan akar kata dari bahasa Belanda,  yang juga berarti paduan suara atau kelompok penyanyi, dan istilah itu sejalan dengan kata serupa dalam bahasa Perancis yang bermakna paduan suara. Jadi, ketika seseorang mengatakan “koor bernyanyi”, maksudnya adalah beberapa orang yang menyanyikan satu bagian lagu secara bersama-sama, sehingga terdengar sebagai kesatuan suara, bukan nyanyian individu.

Saya tertarik membuat tulisan ini karena atas dasar pengalaman bertahun-tahun menjadi aktivis koor di lingkungan (KUB/KBG), pun di rayon, ataupun wilayah. Di sana adalah kelompok terkecil dari komunitas gereja, baik di Katolik dan juga Protestan. Ada banyak warna tentunya, tetapi menakar kemampuan (pemahaman) umat terhadap koor itu sendiri adalah literasi musik liturgis yang perlu dipahami dengan lebih kompleks dan konsisten.

Tradisi dan Bernyanyi yang Baik

Dalam banyak tradisi Kristiani, terutama yang kaya dengan ibadah bernuansa musik, ada satu kalimat Latin yang sering terdengar seperti “hukum tak tertulis” di balik nyanyian: “Qui bene cantat bis orat”—biasanya dimaknai sebagai “Dia yang bernyanyi dengan baik, berdoa dua kali.” Kalimat ini beredar luas di lingkungan paduan suara gereja dan sekolah, sehingga bagi sebagian orang ia terdengar sederhana, rapi, dan sekaligus memotivasi: kalau bernyanyi itu adalah bagian ibadah, maka bernyanyi dengan baik seharusnya membuat doa terasa lebih sungguh-sungguh.

Namun, ketika kita menengok jejak ungkapan ini dalam berbagai rujukan populer Katolik, istilah tersebut sering dikaitkan dengan St. Agustinus (Augustine of Hippo). Bahkan sejumlah sumber yang membahas frasa itu menyebutkan St. Agustinus sebagai tokoh yang dihubungkan dengan kalimat Latin tersebut (en.wikipedia.org). Sementara itu, ada juga pendampingan makna dari sejumlah pembahasan liturgis: ungkapan ini dipahami sebagai penegasan bahwa musik—jika dinyanyikan dengan baik—dapat menambah “panas” batin doa serta membuat ibadah lebih khidmat (newliturgicalmovement.org).

Di titik inilah saya mulai menaruh tanda tanya. Bukan karena saya menolak bahwa bernyanyi bisa menjadi bentuk doa. Saya justru merasakan bahwa nyanyian sakral sering menyentuh bagian terdalam dari diri manusia: ada irama yang menenangkan, ada kata-kata yang disusun menjadi pengakuan iman, dan ada kebersamaan yang membuat iman tidak terasa sendirian. Tetapi saya tidak setuju kalau seluruh makna rohani disederhanakan menjadi: yang menentukan kualitas rohani adalah “benar-benar bernyanyi dengan baik.”

“Berdoa dua kali” terdengar seperti aturan universal. Seolah-olah, begitu suara bagus-menggelegar, tekniknya rapi, nada pas, maka otomatis hati ikut menengadah—dan Tuhan “menerima doa” lebih banyak. Padahal pengalaman rohani manusia tidak sesederhana itu. Saya telah melihat orang bernyanyi sangat baik: latihan teratur, napas terkendali, harmoni rapi. Suaranya bahkan mampu membuat ruangan menjadi hening, dan umat seperti diberkati. Tetapi di sisi lain, hidupnya tidak menunjukkan buah yang selaras dengan nilai Kristiani: ia bisa tetap keras kepala, tetap jauh dari belas kasih, tetap cuek saat kesempatan berbuat kebaikan muncul. Paradoks ini membuat saya percaya bahwa kemampuan musikal tidak bisa menjadi pengganti keselarasan batin.

Saya juga sering melihat adegan yang lain. Ada orang yang suaranya mungkin tidak paling indah, bahkan cenderung gugup atau terbatas. Namun ketika ia bernyanyi, ada ketulusan yang terasa: tidak berarti tanpa kesalahan, tetapi ada maksud yang jernih—doa yang keluar lewat nyanyian. umat bisa merasakan semacam “kejujuran” dalam suaranya. Dalam kasus seperti ini, frasa Latin tadi tampak seperti tidak sedang bicara tentang “benar secara teknis” semata, melainkan tentang apakah nyanyian itu benar-benar lahir dari doa. Masalahnya, ungkapan “si bernyanyi baik berarti berdoa dua kali” mudah disalahpahami menjadi standar penilaian yang terlalu lahiriah.

Karena itulah, inti yang sebaiknya harus dijaga bukanlah level musikalnya, melainkan orientasi hatinya. Pernyataan yang bernada seperti jaminan rohani sering kali—tanpa disadari—mendorong orang untuk fokus pada performa. Ketika bernyanyi berubah menjadi panggung, yang paling berkuasa bukan lagi iman, melainkan citra diri, musik (pesta) yang tak terkontrol, tepukan tangan umat, dan mungkin teatrikal dirigen yang sangat berlebihan. Kita mulai menilai “siapa paling enak didengar,” “siapa paling rapi,” “siapa paling menguasai lagu,” dan lupa menanyakan pertanyaan yang lebih dalam: apakah saya bernyanyi supaya Tuhan semakin dekat, atau supaya saya semakin terlihat?

Sebaiknya kita berprinsip, bahwa: bernyanyi dengan baik tidak selalu berarti seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan tidak dibuktikan terutama oleh ketepatan nada, melainkan oleh arah hidup: apakah hati bertobat, apakah ada kerendahan hati, tidak saling gossip dan saling benci, apakah ada kasih yang nyata, apakah ada kesediaan untuk patuh pada kebenaran. Jika hidup tetap tidak selaras, nyanyian bisa berubah menjadi ritus kosong. Bukan karena ‘musik itu jahat,’ tetapi karena manusia dapat memakai musik untuk tujuan yang salah.

Tentu, kita juga tidak boleh mengabaikan bahwa bernyanyi dalam ibadah memang perlu perhatian. Nyanyian sakral yang dipelihara dengan baik bisa membantu jemaat masuk ke suasana doa; musik yang dijaga kualitasnya bisa memudahkan kata-kata iman diserap bersama. Namun perhatian terhadap kualitas seharusnya dipahami sebagai pelayanan, bukan kompetisi rohani. Kualitas adalah sarana agar doa lebih jelas terdengar dan lebih indah dirasakan—bukan bukti bahwa doa pasti lebih dalam.

Maka pada titik ini, cara membaca ulang ungkapan tersebut: “Qui bene cantat bis orat” sebaiknya dimengerti sebagai dorongan bahwa nyanyian yang sungguh-sungguh (baik dalam penguasaan dan terutama dalam sikap batin) dapat menjadi doa yang lebih kuat. Tetapi jika kita memotongnya hanya menjadi: “yang bernyanyi bagus pasti berdoa dua kali,” maka kita sedang menukar sarana dengan tujuan—dan itu berbahaya.

‘Qui bene cantat bis orat’ dan Output Karakter – SDM Kaum Muda

Menakar soal “berdoa dua kali” melalui kualitas nyanyian—meski tampak sepele—sebenarnya menyentuh sesuatu yang lebih luas: cara kita membangun karakter dan cara kita memandang manusia, khususnya generasi muda, ketika mereka mulai dibina untuk melayani. Sebab generasi muda hari ini tumbuh di lingkungan yang sering menilai cepat: nilai rapor, prestasi kompetisi, jumlah pengikut, hingga kemampuan tampil di depan umum. Dalam suasana seperti itu, ungkapan rohani yang terdengar rapi kadang mudah berubah menjadi standar penilaian yang menipu. Anak muda tidak lagi bertanya, “Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam diri saya?” tetapi bertanya, “Bagaimana caranya saya terlihat paling siap?”

Pengembangan (pembangunan) karakter bukan dimulai dari kepiawaian, melainkan dari pembentukan sikap yang konsisten. Dalam konteks pelayanan musik atau ibadah, teknik vokal bisa dilatih melalui latihan napas, pengendalian nada, dan ketepatan harmoni. Tetapi karakter bertumbuh lewat hal yang lebih “tidak terlihat – tidak terdengar”: kerendahan hati ketika salah, ketekunan ketika latihan terasa membosankan, kemampuan menerima arahan tanpa tersinggung, dan kesediaan bekerja bersama tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Musik memang bisa menjadi sarana, tetapi jika sarana itu diperlakukan sebagai tujuan, maka yang terjadi adalah kebiasaan perfeksionisme—bukan kebiasaan bertumbuh.

Karena itu, bagi generasi muda, output seperti pembinaan yang sehat seharusnya mengajak mereka menghubungkan kemampuan dengan tanggung jawab batin. Misalnya, seseorang boleh bangga atas peningkatan suaranya, tetapi kebanggaan itu harus diarahkan menjadi semangat melayani. Ia belajar bahwa latihan adalah bentuk komitmen, bukan hanya jalan menuju pujian. Ia juga belajar bahwa dalam komunitas, tiap suara punya peran: tidak semua orang harus menjadi vokal utama agar lagu bisa terdengar indah. Dengan cara pandang seperti ini, karakter akan terbentuk bukan dari “menang – nampak”, melainkan dari “berkontribusi”.

Di sinilah kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). SDM generasi muda tidak dibentuk oleh kemampuan teknis saja, tetapi oleh pola pikir, etika kerja, dan ketahanan mental saat menghadapi kegagalan. Banyak anak muda yang terlihat mahir, namun rapuh ketika tidak lagi menjadi yang terbaik. Mereka mudah frustrasi karena sejak awal dilatih untuk percaya bahwa nilai mereka ditentukan oleh penampilan. Padahal, dunia nyata—termasuk dunia kerja dan kepemimpinan—menuntut hal yang lebih kompleks: kemampuan belajar dari koreksi, integritas saat tidak ada yang menonton, dan kemauan untuk memperbaiki diri tanpa menyalahkan keadaan.

Kembali lagi bahwa bernyanyi yang baik tidak otomatis berarti hubungan dengan Tuhan yang baik—bisa diterjemahkan menjadi prinsip pengembangan karakter: performa bukan ukuran tunggal kedewasaan. Yang paling penting adalah konsistensi nilai dalam tindakan sehari-hari. Bila seorang muda mampu bernyanyi dengan indah tetapi tidak mampu bersikap jujur dalam pergaulan, tidak mampu bertanggung jawab dalam tugas, atau tidak mampu menghargai orang lain, maka ia sebenarnya belum berkembang secara utuh. Sebaliknya, jika seorang muda belum sempurna secara musikal tetapi menunjukkan kejujuran, empati, dan ketekunan, maka ia sedang dibentuk menjadi manusia yang siap dipercaya.

Pada akhirnya, saya percaya komunitas gereja, sekolah, atau organisasi pemuda juga dapat menjadi “laboratorium karakter”. Di sana, musik dan ibadah tidak hanya latihan suara, melainkan latihan hati: latihan disiplin, latihan kebersamaan, latihan keberanian untuk melayani tanpa pamrih. Dan ketika generasi muda belajar bahwa kedalaman tidak selalu identik dengan ketepatan teknis, mereka tumbuh menjadi SDM yang lebih matang—lebih lentur dalam belajar, lebih kuat saat diuji, dan lebih peka terhadap makna di balik setiap peran.  

… akan selamanya “Qui bene cantat bis orat. Qui enim cantat laudem, non solum laudat, sed etiam hilariter laudat.”

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini