Jalan Pagi: Di Maranatha, “Senyummu adalah Sehatku”

0
170
Wisuda Stikes Maranatha Kupang, Rabu (17/11/201)

Perhatian saya langsung tertuju ke panggung utama ketika mendengar nada suaranya berubah. Sebelumnya terdengar riang dan bersemangat, lalu terbata-bata seperti menahan tangis.

Saya perhatikan baik-baik, meski jarak kami agak jauh (sekitar 5 meter), matanya terlihat berkaca-kaca. Jelas sekali. Dan hal itu membuat suaranya menjadi parau.

“Akhirnya…,” katanya kemudian, pelan sekali. “Kita bisa melaksanakan wisuda di kampus sendiri…”

Iya, saat itu saya sedang menghadiri acara wisuda STIKES Maranatha Kupang (17/11/2021), dan orang yang menahan tangis ketika berpidato itu adalah Bapak Drs. Semuel Sellan. Di lingkungan STIKES dan AKPER Maranatha, selain dikenal dengan dengan nama panggilan Pak Semuel, beliau juga biasa disapa: Bapa Pembina.

Panggilan yang terakhir itu berkaitan dengan perannya saat ini, yaitu sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Maranatha NTT. Itu adalah yayasan pengelola dua institusi pendidikan tinggi kesehatan yang dikenal dengan nama STIKES Maranatha dan AKPER Maranatha Groups.

Tangisan haru Bapak Semuel pada hari berbagai itu cukup beralasan. Setelah bisa mengendalikan diri dengan baik, ia kemudian menjelaskan bagaimana perjuangan dirinya bersama tim dalam mendirikan dan mengembangkan dua institusi pendidikan tinggi kesehatan tersebut.

Beliau bercerita kalau upaya mendirikan kampus sudah dimulai sejak tahun 1998. Tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sehingga tahun 2000 baru bisa terwujud. Saat itu Akper Maranatha Groups yang dibuka pertama. Bapak Semuel juga mengakui kalau pembukaan kampus kala itu tidak langsung bagus. Awalnya kampus ini hanya mengontrak sebuah gedung di bilangan Jl. Elatari, Kupang. 

Ia sempat menyinggung kenangan bersama Bapak dr. Stef Bria Seran, MPH., yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT saat itu. Katanya ketika proses pengurusan izin dan akreditasi kampus, dr. Stef sempat marah-marah karena kondisi kampus kurang layak.

“Saya tidak akan ke sini lagi kalau kampusnya macam kandang ayam seperti ini…,” kira-kira begitulah peringatannya saat itu.

Bapak Semuel bersama tim menjadi terpacu untuk terus berubah menjadi lebih baik. Yayasan Maranatha NTT kemudian membeli tanah dan membangun gedung kampus yang lebih permanen di Nasipanaf. Tepatnya di Jl. Kampung Bajawa-Nasipanaf, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kab. Kupang, NTT.

Ketika bangunan sudah jadi, sekitar tahun 2005, yayasan juga menginisiasi pembukaan institusi baru yang bernama: STIKES Maranatha Kupang. Jadi, meskipun berada di bawah naungan yayasan yang sama, lalu berada di lingkungan kampus yang sama, AKPER dan STIKES Maranatha tetap dikelola dengan manajemen yang berbeda.

Saya, Saverinus Suhardin, yang menulis catatan #JalanPagi ini adalah bagian dari keluarga besar Yayasan Maranatha NTT. Mungkin saya perlu cerita sedikit bagaimana latar belakang saya sampai bisa bekerja sebagai pengajar di Akper Maranatha Groups.

Tahun 2008, saya datang dari Manggarai Barat dengan impian kecil mau jadi perawat. Awalnya saya mendaftar di Poltekkes Kemenkes Kupang, tapi tidak lulus. Lalu, saya mendaftar di dua tempat sekaligus: AKPER Maranatha Groups dan STIKES Surabaya (kini sudah tidak ada). Saya diterima di dua tempat itu, tapi waktu itu saya lebih memilih berkuliah di STIKES Surabaya.

Sialnya, kelak kami tahu kalau lembaga itu tidak memiliki perizinan yang jelas. Kami sebagai mahasiswa saat itu marah-marah. Kami berdemonstrasi; menuntut keadilan dari pengelola kampus, tapi semuanya berakhir sia-sia.

Kami akhirnya mengalah, lalu mencari jalan keluar masing-masing. Saat itu, saya coba daftar lagi ke Poltekkes Kemenkes Kupang, dan lagi-lagi tidak lulus. Perjuangan tidak berhenti, saya mendaftar lagi di AKPER Maranatha Groups. Untungnya lulus, dan saya memulai kuliah lagi (kuliah ulang) sejak tahun 2009. Nah, sejak masuk ke AKPER Maranatha itulah, saya mulai mengenal Bapak Drs. Semuel Selan.

Saya masih ingat jelas, pertama kali melihat dan mendengarnya bicara saat kegiatan PPS (Pengenalan Program Studi), atau mungkin istilah yang paling dikenal untuk menerangkan kegiatan itu adalah Ospek. Khusus bagi mahasiswa, ia selalu berpesan agar selalu senyum saat melayani orang sakit. Apalagi Akper Maranatha Groups memiliki moto, “Bersaing dalam Mutu Pelayanan,” dan sesanti, “Tiada Hari Tanpa Pelayanan Kasih.”

Saat itu, Bapak Semuel menjabat sebagai Ketua Yayasan Maranatha NTT. Setiap kali ada acara besar di AKPER Maranatha, misalnya acara caping day, acara yudisium, acara pelantikan senat mahasiswa, syukuran wisuda, wisuda, dll., pasti beliau hadir dan memberikan sambutan.

“Senyummu adalah Sehatku…,” itu adalah frasa yang terus diulang-ulangnya tiap kali memberi wejangan ke mahasiswa.

Tahun 2012 saya lulus dari Akper Maranatha Groups. Kebetulan saya lulusan terbaik, lalu ada tawaran untuk bekerja di kampus. Saya dipersiapkan untuk menjadi dosen di sana. Tanpa banyak berpikir, saya langsung iyakan saat itu. Saya ambil kesempatan itu, lalu tahun 2013 langsung kuliah lanjut, dari D3 ke S1+Ners di Prodi Pendidikan Ners, Fakultas Keperawatan Unair, Surabaya.

Saya lulus sebagai Ners pada tahun 2016. Saat itu langsung kembali ke Kupang, lalu mulai bekerja di Akper Maranatha Groups. Karena dosen minimal harus lulusan S2, maka saya kuliah lagi tahun 2019 di Fakultas Keperawatan Unair. Saya baru saja lulus bulan September 2021 lalu.

Oh iya, ada bagian yang sempat terlewatkan, padahal itu sangat penting. Sekitar tahun 2010, ketika saya masih mahasiswa Akper Maranatha Groups, Bapak Semuel dikabarkan sakit. Stroke.

Sebagai mahasiswa yang baru belajar sedikit tentang penyakit saat itu, kami berpikir kondisi sakitnya itu akan berakibat fatal. Dugaan seperti itu cukup beralasan, karena teori menyebutkan kalau prognosis penyakit stroke cenderung berakhir buruk.

Tetapi, hal itu rupanya tidak berlaku bagi Bapak Semuel. Barangkali beliau hanya beristirahat dari aktivitas kampus itu setahun. Setelah itu, beliau aktif kembali. Selalu hadir dalam setiap acara kampus, dan selalu memberi sambutan atau wejangan buat dosen dan mahasiswa.

Padahal, kalau kita mau berpikir dengan cara biasa, mungkin sebaiknya beliau istirahat saja. Bapak Semuel memiliki gejala sisa serangan stroke, setidaknya ada dua hal: beliau jalan harus ditopang dengan tongkat, dan bibirnya sedikit pelo yang membuat pelafalan kata-katanya sedikit kurang jelas, tapi masih bisa diikuti dan dimengerti—khususnya bagi kami yang sudah terbiasa mendengarkan beliau bicara.

Kondisi itu tidak menghalanginya hadir dalam setiap acara. Bahkan praktik keperawatan komunitas yang harus jalan ke desa-desa yang jauh dari kampus, beliau tetap datang. Pendek kata, ia akan selalu ada dalam kegiatan kampus. Sampai saat ini, sampai ketika dirinya berstatus sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Maranatha NTT dan dalam kondisi sakit, beliau tetap aktif dalam setiap kegiatan

Sebagai perawat, saya selalu kagum dengan kekuatan dan kegigihan beliau dalam menjalani hidup dengan penyakit stroke. Saya kira tidak banyak yang memiliki semangat seperti itu. Dan saya selalu menyampaikan kekaguman itu pada beliau.

“Bapa, tidak banyak orang yang terkena stroke memiliki semangat hidup seperti Bapa,” saya bilang begitu sambil mengacungkan jempol.

Barangkali Anda berpikir, sebagai “orang dalam” saya hanya menulis yang baik-baik saja. Okelah, persepsi seperti itu tidak ada salahnya. Tapi, saya tetap berusaha menulis apa adanya. Jujur saja, barangkali AKPER dan STIKES Maranatha bukanlah yang paling bagus, tapi setidaknya sudah berjalan lebih hingga saat ini.

Ada satu hal yang membuat saya memaafkan hal-hal yang masih kurang baik itu, yaitu keberpihakannya pada orang kurang mampu dan keinginan yang kuat mendidik anak-anak daerah yang kelak akan membawa daerahnya menjadi lebih baik.

Pertama, tentang keberpihakan pada orang kurang mampu. Di Maranatha, mahasiswa bisa menyicil pembayaran seluruh komponen uang kuliah. Intinya ada keterbukaan atau komunikasi. Kalau orang tua belum ada uang, bisa datang sampaikan baik-baik, lalu pembayarannya bisa ditunda sesuai kesepakatan.

Kedua, tentang memberi peluang kepada semua putra-putri daerah, khususnya dari daerah pelosok. Kalau poin ini saya rasakan sendiri juga. Bayangkan, saya dua kali daftar di Poltekkes Kemenkes Kupang, tidak lulus. Andai tidak ada Maranatha, barangkali saya tidak pernah menjadi perawat.

Bukan hanya saya, masih banyak anak-anak dari daerah terpencil lain yang mendapatkan peluang tersebut. Dan memang itu visi utama yang sering disampaikan Bapak Semuel dalam berbagai kesempatan.

Kalau di kampus lain, barangkali pengelolanya akan berfokus atau mengampanyekan bahwa mereka akan mencetak anak didik untuk kebutuhan global; go international; dan macam-macam mimpi besar lainnya.

Bapak Semuel malah berpikir kebalikannya. Dia menginginkan anak-anak daerah terpencil bisa kuliah, lalu kelak ketika lulus, kembali mengabdi ke kampungnya sebagai tenaga kesehatan.

Ikhtiar itu bukan tanpa dasar. Sebelum Bapak Semuel memutuskan buka kampus, beliau adalah PNS di Kabupaten Kupang. Selama bertugas ke daerah-daerah pelosok, beliau melihat adanya ketimpangan SDM, khususnya tenaga kesehatan.

Banyak orang dari luar daerah datang ketika musim tes CPNS tiba, tapi ketika lulus  dan ditempatkan ke daerah terpencil, rata-rata tidak betah, lalu dengan berbagai cara minta pindah.

Karena itu, bagi Bapak Semuel, solusinya cuma satu, sekolahkan anak-anak daerah itu, supaya nanti bisa kembali mengabdi untuk daerahnya sendiri. Itulah tujuan utama keberadaan AKPER dan STIKES Maranatha.

Dalam perjalanannya, kedua institusi itu tentu saja mendapatkan lebih. Sebagian besar putra-putri daerah itu kembali, tapi tidak sedikit pula yang mampu bersaing di tempat lain. Entah di tingkat provinsi, nasional, bahkan ada yang berkarya di luar negeri.

Barangkali atas komitmennya tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi NTT yang saat itu dikepalai oleh dr. Stef Bria Seran, MPH, memberikan penghargaan khusus kepada Bapak Semuel sebagai salah satu tokoh pembangunan kesehatan NTT.

Selain perjuangan panjang tersebut, ada juga hal yang paling emosional bagi Bapak Semuel dalam kegiatan wisuda tahun 2021 tersebut, yakni pemilihan lokasi acara wisuda.

Sejak dulu hingga berjalan hampir 20 tahun, bahkan lebih, prosesi wisuda selalu dilaksanakan di hotel-hotel yang ada di Kota Kupang. Beliau juga mengakui, hal itu dilakukan karena di kampus belum memiliki ruangan yang memadai untuk acara sebesar wisuda. Tapi, ketergantungan pada hotel itu sampai kapan?

Karena itu, wisuda tahun 2021 berani dilaksanakan di kampus. Tempatnya di halaman tengah kampus. Itu adalah lapangan yang biasanya dipakai buat olahraga untuk mahasiswa. Tapi dengan sedikit sentuhan sana-sini, pada akhirnya cukup layak untuk kegiatan wisuda.

Saya, termasuk beberapa orang yang duduk di samping saya memang sedikit mengeluh soal cuaca panas, tapi tetap masih bisa ditoleransi. Bapak Semuel tampaknya senang sekali hari itu, sebab setelah sekian lama, akhirnya bisa langsung menyelenggarakan prosesi wisuda di kampus. Saking gembiranya, tanpa sadar air matanya ikut berlinang.

Saya yang duduk di kursi bagian tengah ikut terharu. Bulu kuduk saya berdiri, dan saya merasa mata mulai memproduksi air yang banyak. Saya segera tepis perasaan itu dengan menarik napas dalam.

***

Pelaksanaan wisuda saat itu sebenarnya masih dalam rangkaian kebahagiaan Dies Natalis STIKES Maranatha yang ke-12. Sebelumnya, STIKES Maranatha menyelenggarakan berbagai kegiatan perlombaan dalam rangka memeriahkan hari jadinya tersebut. Ada pertandingan futsal, bola voli, debat dan kegiatan ilmiah lainnya.

Puncak perayaannya dilaksanakan pada Selasa (02/11/2021). Kegiatan Dies Natalis itu ditutup dengan ibadah bersama. Kemudian dilanjutkan pentas seni dan budaya yang dipersembahkan mahasiswa/i yang telah melewati masa bimbingan (Mabim) sebagai mahasiswa baru.

Kemudian pada tanggal 10 November 2021, STIKES Maranatha menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema: “Meningkatkan Resiliensi Masyarakat di Masa Pandemi dan Era New Normal”.

Kegembiraan Dies Natalis itu terus berlanjut hingga wisuda yang diselenggarakan pada tanggal 17 November 2021. Saat itu ada 125 lulusan yang diwisuda, berasal dari prodi S1 Keperawatan dan D3 Kebidanan.

Baik pada saat acara puncak Dies Natalis maupun saat acara wisuda, Ketua Stikes Maranatha—Bapak Ns. Stefanus Mendes Kiik, M.Kep., Sp.Kep.Kom—membeberkan berbagai kemajuan dan prestasi yang telah diraih oleh institusi tersebut. Ada banyak capaian yang sudah diraih, saya tidak akan merincikan satu per satu, cukup kesimpulan umumnya saja bahwa: seluruh program studi STIKes Maranatha Kupang telah terakreditasi B oleh LAM-PTKes.

“Institusi ini terus berupaya membenahi diri begerak ke arah yang lebih baik, ke arah kampus merdeka sebagaimana visi Mas Menteri,” demikian komitmen yang disampaikan Ns. Stef.

Oh iya, pada kesempatan itu juga, ketika Bapak Semuel diberi kesempatan memberikan sambutan, lagi-lagi beliau mengingatkan mahasiswa dan lulusan yang akan menjadi alumni, “Senyummu adalah sehatku.” (Saverinus Suhardin/ rf-red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here