Julie Laiskodat Apresiasi Program Tenun Ikat & Kewirausahaan SMAN Tobu

0
478
Julie Sutrisno Laiskodat didampingi Kabid Dikmen Dinas PK NTT dan Asisten II Setda TTS dalam kunjungan kerja di SMAN Tobu, Kab. TTS, Rabu, (1/12/2021).

TTS, SEKOLAHTIMUR.COM – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat memberikan apresiasi kepada SMAN Tobu yang telah menerapkan pendidikan vokasi di sekolah tersebut. Menurutnya selama ini yang menggeluti pendidikan vokasi hanya SMK tetapi SMAN Tobu mampu tampil sebagai salah satu SMA yang melaksanakan program tersebut.

“Saya salut kepada SMA Negeri Tobu karena biasanya SMA itu tidak terlalu banyak praktiknya, yang biasa itu hanya SMK tetapi di SMA Negeri Tobu ini telah membuktikan bahwa ternyata anak-anak SMA juga bisa. Setelah kita lihat di SMA Negeri Tobu ini bukan hanya tenun ikat saja, tetapi ada kewirausahaan yaitu terkait dengan pertanian, perikanan juga. Karena itu saya salut dengan SMA Negeri Tobu ini, harapannya semua SMA juga bisa melakukan hal yang sama yang mana dapat mendorong kreativitas yang dimiliki anak-anak,” ungkapnya saat melakukan kunjungan ke SMA Negeri Tobu, Rabu, (1/12/2021).

Lebih lanjut, Anggota Komisi IV DPR RI, asal Partai Nasdem ini, mengatakan bahwa untuk melestarikan tenun ikat perlu dilakukan regenerasi kepada para pelajar di pendidikan menengah. Dengan menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, lanjutnya, Dekranasda NTT membuat program pendidikan vokasi tenun ikat di sekolah-sekolah yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

“Program Tenun Ikat masuk sekolah adalah bagaimana mendorong kaum milenial yaitu para pelajar untuk mencintai tenun ikat sebagai warisan para leluhur. Ini adalah inovasi Dekranasda NTT bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Selama ini para penenun lebih banyak dikerjakan oleh mama-mama. Dengan program ini, menenun bisa diregenerasian kepada kaum milenial atau para pelajar,” ujarnya.

“Ada beberapa hal yang perlu untuk kita ‘cuci otak’ terkait dengan etos kerja, potensi, standarisasi dan juga pangsa pasar, agar ada keseragaman dengan kami di Dekranasda, sehingga bisa menjawab pangsa pasar yakni terkait dengan kualitas produk yang ada. Sementara untuk potensi di sini sangat luar biasa karena itu perlu untuk terus didorong,” tambah Bunda Literasi Provinsi NTT ini.

Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Mathias M. Beeh, S.ST.Par., yang turut mendampingi Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan, Program Tenun Masuk Ikat Sekolah digagas oleh Julie Laiskodat sejak tahun 2019. Program tersebut bertujuan mengajarkan para peserta didik untuk memiliki keahlian tertentu.

Ia menilai, terobosan yang dilakukan tersebut telah berjalan dan sudah terlihat hasilnya, tidak hanya di SMK tapi juga di SMA. Hasilnya juga langsung dibeli oleh Ibu Julie Laiskodat sebagai Ketua Dekranasda NTT.

“Jadi tidak hanya di SMK-SMK saja, di SMA juga sudah mulai dilakukan proses pembelajaran yang berbasis produk. Ini terobosan yang luar biasa dari Bunda Julie dimana beliau melihat bahwa kegiatan menenun lebih banyak dilakukan oleh para orang tua. Ketika didorong dalam pembelajaran vokasional, para siswa atau kaum milineal diajak untuk mencintai dan melestarikan warisan intelektual para leluhur,” kata mantan Kepala SMKN 1 Kupang itu.

Math Beeh juga menyampaikan bahwa Dinas PK Provinsi NTT terus melakukan upaya pendekatan pelayanan terhadap akses pendidikan karena itu percepatan pembangunan sekolahan jenjang SMA/ SMK. Khusus untuk wilayah Kabupaten TTS sudah 27 Sekolah yang telah didirikan, yang tempatnya berada di kampung dengan tujuan agar melayani anak-anak yang ada sekaligus mengurangi angka putus sekolah.

Asisten II Setda TTS, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si., pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT yang telah terus berupaya dalam mendekatkan pelayanan pendidikan jenjang SMA/ SMK di Kabupaten TTS.

“Mewakili Bupati TTS, saya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah berupaya mendekatkan pelayanan terhadap pendidikan bagi masyarakat di kabupaten TTS, terutama dalam pembangunan di jenjang SMA/SMK. Berharap dengan adanya sekolah-sekolah yang telah dibangun dapat menekan angka putus sekolah di Kabupaten TTS,” ungkapnya.

Sementara Kepala SMA Negeri Tobu, Abednego Baun, S.Pd., kepada media ini menyampaikan bahwa kegiatan yang digelar di SMA Negeri Tobu terkait syukuran pembangunan tiga unit bantuan DAK dari provinsi yakni pembangunan ruang guru, RKB dan satu unit ruang laboratorium.

“Selain itu syukuran juga terkait dengan akreditasi sekolah yang mana sekolah kami memperoleh akreditasi B, dan juga syukuran terkait ulang tahun SMA Negeri Tobu yang keenam. Selain kegiatan syukuran yang digelar, juga dibarengi dengan pelantikan badan pengurus OSIS,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan panen perdana ikan lele dan nila yang merupakan aplikasi dari mata pelajaran Pra Karya dan Kewirausahaan. Selain ikan lele dan nila, ada juga tenun yang dikembangkan oleh para peserta didik agar mereka lebih memahami tentang budaya Timor.

“Berkaitan dengan tenun ini merupakan turunan dari pada orang tua yang memiliki makna filosofis dalam setiap corak tenunan yang ada, karena itu perlu dilestarikan dan juga terus dikembangkan oleh anak-anak milenial sekarang ini melalui bangku pendidikan,” tuturnya. (Lenzho Asbanu/ rf-red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here