Belajar dari Diary

0
143
Ilustrasi Diary. (boardgame.id)

Hari ini merupakan hari pertama di minggu yang baru. Yahh… Pastinya dengan harapan yang baru pula. Sekarang tepatnya pukul 08.00 dan aktivitas saya diawali dengan menulis diary. Kalian pernah berpikir atau terlintas di pikiran kalian kalau menulis diary itu ada gunanya? Atau mungkin menulis diary itu buat apa sih?

Yahh… hal itu sering juga saya rasakan pada awal-awal menulis diary, dan bahkan ekspektasi saya melebihi hal tersebut. Memang hal ini baru juga sih saya tekuni karena diminta oleh seseorang untuk tiap harinya menulis diary, paling sedikit satu halaman diary setiap hari.

Mungkin buat kebanyakan orang menulis diary itu kedengarannya aneh dan mungkin buang-buang waktu apalagi dilakukan oleh seorang cowok. Tetapi cobalah kita sedikit mengubah pola pikir tersebut, karena menurut saya menulis diary itu banyak manfaatnya bukan hanya sekadar menceritakan pengalaman tetapi juga bisa lebih dari itu.

Seperti yang saya bilang tadi kalau menulis diary itu bukan hanya sekadar menceritakan pengalaman hidup tetapi juga bisa mencurahkan isi hati ataupun pikiran kita. Kali ini ada salah satu diary yang pernah saya buat beberapa waktu lalu yang akan saya ceritakan dan juga pernah saya bacakan di salah satu kegiatan di sekolah saya. Kegiatan itu diadakan oleh Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi). Ini tulisan saya dalam diary tersebut.

Jumat, 22 Oktober 2021. Tepatnya saat ini jam 5 sore. Ditemani secangkir teh saya duduk di belakang rumah dengan suasana yang lumayan hening dan yah… tetap “panas poll”. Mungkin jam-jam begini adalah waktu paling efektif untuk mengkhayal jadi orang kaya, jadi orang sukses, punya mobil dan rumah mewah, dan lain sebagainya.

Tetapi yah… apa boleh buat realitanya berbanding terbalik dengan ekspektasi saya. Tetapi tidak apa-apa, mengkhayal saja dulu siapa tahu 10 tahun ke depan terwujud. Amin…

Di samping mengkhayal saya juga “browsing” internet untuk membaca biografi dan cerita hidup dari beberapa tokoh sastrawan NTT sampai pada tokoh sastrawan terkenal seperti Chairil Anwar. Dari kemarin saya juga membaca biografi seseorang komedian terkenal hingga pada tokoh dunia.

Ada satu hal yang saya pelajari dari membaca biografi yaitu tokoh tersebut tidak secara tiba-tiba ada dan terkenal sampai saat ini tetapi dia melalui suatu proses yang panjang dan tak jarang ada juga yang di bawah tekanan. Dan ini juga bisa dibilang sebagai motivasi untuk berkembamg seperti mereka.

Jadi, benar kata orang, setiap anda membaca pasti ada manfaat yang didapat. Ini salah satu manfat yang saya dapat dari membaca. Sebelum diary ini berakhir ada satu “quote” yang saya ambil dari salah satu tokoh biografi di atas.

“Anda dan saya adalah sama adanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tetapi yang berbeda adalah bagaimana cara kita menjalani versi kehidupan kita masing-masing. Tua itu pasti dan dewasa itu pilihan. Semua orang di dunia ini tidak mampu melakukan hal yang sempurna tetapi semua orang berkesempatan melakukan hal yang terbaik dan hal yang terbaik tersebut dimulai dari diri Anda sendiri.”

***

Karya: Josua Umbu Lodu Matamba Ndamu

Peserta Didik Kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 1 Haharu, Kabupaten Sumba Timur

Peserta Didik Dampingan Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here