Belajar dari Khrisna dan Arjuna (Tentang Nilai Persahabatan di Sekolah)

0
82
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota KSK & Fasilitator Yaspensi.

Sahabat, nama yang kita semua kenal sebagai kawan, dan teman. Bagi sebagian orang, sahabat dikonsepkan sebagai teman seperjalanan dalam suka pun derita. Seorang sahabat tidak membujuk dan menuntut, tiada iri pun dengki, tidak mencari kepentingan dan keuntungan diri dari sahabatnya.

Baginya, keberhasilannya adalah keberhasilanku, dan kegagalannya adalah kurang perhatianku. Sahabat itu pendengar yang baik, cepat mendengar lambat berkomentar tapi cepat berpikir sembari merenung mencari solusi kreatif.

Terhadap dia yang dipercayai, sang rekan bersedia berbagai masalahnya bahkan pada hal-hal privasi. Seorang sahabat menaruh kasih setia setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesulitan.

Bila dua orang karib, teman, karib hubungannya, maka pasti ada rahasianya. Manakah sikap yang sangat dibutuhkan dalam persahabaan yang sejati? Sikap saling mencintai, dalam hal selalu mau membantu, rela berkorban tanpa perhitungan, dan tahu bertenggang-rasa. Sikap saling percaya, dalam hal berani membuka diri, menceritakan sukaduka hidup, mau memberi pujian dan kritik yang jujur.

Akhirnya sikap saling menghormati, dalam hal menerima teman seadanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, suka mendengar, menerima segala tindakan dan ucapannya sebagai sesuatu yang penting, dan tidak memperalat teman.  

Kisah tentang sahabat dengan indah dilukiskan dalam kitab suci Perjanjian Lama Orang Kristen bagaimana Daud dan Yonatan merawat persahabatan mereka. Hercules dan Yolaus dua ksatria seperjuangan dengan apik juga dikisahkan dalam Mitologi Yunani. Kisab Suci Perjanjian Baru juga menceritakan bagaimana Rasul Paulus dengan Barabas, atau d tempat lainnya Rasul Paulus dengan Thimotius.

Arti pentingnya bantuan sahabat juga ada dalam cerita Kuno Inda Mahabhrata. Dikisahkan di sana, bahwa murninya persahabatan menyatu dalam kebaikan untuk mencapai keabadian yang diwakilkan oleh dua sosok, Khrisna dan Arjuna, sahabatnya. Keduanya memiliki ikatan persahabatan yang  sangat kuat. Khrisna berkarakter baik, tenang, gaya kepemimpinannya baik, bijaksana, berwibawa, dan memberikan ajaran filosofis di masyarakat.

Sebagaimana sahabatnya, Arjuna pun memiliki karakter yang tidak jauh juga miripnya dengan Khrisna. Ia cerdik, sopan, berani, dan suka melindungi yang lemah. Buktinya, mereka berdua kuat dalam peperangan untuk membasmi kejahatan di jagad raya ini. Kisah dua tokoh Hindu ini menceritakan tentang persahabatan yang baik dari keduanya yang tak terkalahkan oleh kejahatan apa pun. 

Dalam dunia kita, di dalam menjalin relasi personal dengan sahabat, kita perlu  mengetahui beberapa karakter diri masing-masing sahabat. Ada sahabat yang kelihatannya sejati, tapi nyatanya buruk. Karenanya kita mesti mempunyai kemampuan menilai dan pembedaan roh. Bila didapati sahabat yang baik, niscaya dia berhati baik, berkarakter budi pekerti luhur mulia, peduli, pemaaf, jujur, bijaksana, beriman dan berilmu.

Bila mendapati sahabat yang kurang baik, dicirikan selalu menekan sahabatnya sendiri untuk ikuti dan penuhi kemauannya, kesukaannya melanggar norma dan aturan kebenaran umum, mempermasalahkan perbedaan yang ada, berlebihan menghakimi mumbully, gosip, penentang dan pemberontak bahkan brutal, menyepelekan hal-hal kecil dan penting, dan abaikan kebaikan bersama demi keuntungan dirinya.

Persahabatan di Sekolah

Bagaimana dengan persahabatan di sekolah kita? Sekolah kita sebagai tempat berkumpulnya para sahabat, tempat mendidik para sahabat muda dalam hal: kesopanan dan taat aturan; rasa kebersamaan yang besar (corps), dan rasa tanggungjawab atas tindakan sendiri.

Nilai-nilai yang diperjuangkan oleh setiap lembaga pendidikan, khususnya di SMKN 7 Kupang perlu seturut teladan Khrisna dan Arjuna dalam hal kepemimpinan yang baik, bertanggung jawab, menghormati satu sama lain, kejujuran, semangat pantang menyerah, menyatukan kekuatan otot dengan otak dibaluti iman yang teguh.

Persatuan yang sepadan ini menampak dalam diri taruna-taruni yang berjaya bukan saja di laut medan laga sewaktu pelayaran niaga, tetapi juga berjaya di darat sewaktu pelayaran di atas peta laut dan pada saat petualangan intelektual di kelas dalam setiap matapelajaran yang dilayarkan bapak ibu guru setiap harinya.

Di mana saja kita berada, bila iman dan ilmu dapat disatukan secara seimbang maka kitalah pemenang jaya dalam ‘peperangan’ kita. Inilah butiran intisari kitab Mahabharata tentang Khrisna sang rohaniwan-intelektual dan Arjuna sang ksatria-pahlawan. Bila abdi Tuhan dan abdi negara bersatu, maka makmur sentosalah rakyatnya, masyarakat akademisnya, warga belajarnya, dan keadilan merata bagi bangsa, bagi semua orang di tempat itu.

Khrisna dan Arjuna, dua sejoli sehidup-semati, sebumi-seakhirat. Mereka bukan dua melainkan satu dan mereka tetap satu, dan telah contohkannya. Siapa di anatara kita yang memiliki karakter keduanya? Punyalah sahabat, sebab dia itulah saudaramu, dirimu yang lain. Dia itu separuh jiwamu-separuh nafasmu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here