Puisi-Puisi Regesti Salomi Bauana

0
168
Regesti Salomi Bauana

KAMU YANG DISEBUT ISTIMEWA

Tapak kakimu terlalu mudah untuk dikenali

Hujan di wajahmu terlalu deras untuk dinikmati

Bahkan sorot matamu mengisyaratkan pilu dirundung patah

Senyuman palsu telah jadi makanan sehari-hari

Tak ada bahu bersandar untuk sekadar berbagi keluh

Misalnya mereka yang mengaku mengenalmu sejak kau tumbuh

Setumpuk derita yang kau pikul telah merebut kilauan senja yang berharga

Sementara hati bergumam di mana arah cahaya pagi?

Temanku, sebenarnya aku tahu sedalam apa lukamu menganga

Sesakit apa kisah yang kau sulam rapi dengan senyuman gelisah tak berujung

Aku pernah tinggal di sana dalam waktu yang tak singkat

Menangis meringkih antara menyerah atau terus merangkak di antara sudut cahaya terpilih

Dengar, biar ku beritahu kau sesuatu… Tak ada yang kebetulan di semesta ini

Jangan dulu menyerah, teruslah memapah kaki kecilmu

Karena Tuhan ada di arena mendukungmu hingga permainan selesai

Perihal itulah mengapa kamu disebut ISTIMEWA

***

MEMINJAM TELINGA TUHAN

Setiap hari aku terbangun menyaksikan dunia yang semakin terluka parah

Semuanya berdarah tanpa terkecuali

Entah itu pelaku atau korbanya yang mencoba kuat padahal patah di lengan subuh

Mereka seperti orang asing bagi dirinya sendiri

Membungkam luka robek yang tak kunjung mengatup di kepalanya

Dunia membantai mereka tanpa malu dan gusar

Mencampakkan dengan kejam lalu memahat derita baru untuk para pemula

Sedang alumninya masih merangkak sambil bercerita perihal derita yang telah menjadi guru

Ketika ujung sabar telah mengangkat tangan menyerah tanda jeda

Ingin rasanya kupinjam Telinga Tuhan yang mungkin hampir jengah

Mencatat jiwa-jiwa yang terhilang meringkih di kaki waktu

Mereka yang terengah-engah merebah takdir yang menampar dengan sadis

Jantungku sekarat mendengar harapan mereka yang melarat karena si bodoh yang disebut hidup

Banyak selokan kotor menjadi rumah baru bagi malaikat kecil tak berdosa

Para pencari kardus lusuh dan kaleng bekas di tepi jalanan besar yang sebagiannya mati kelelahan

Bahkan tuan berdasi yang menutup kaca mobil terhadap suara bocah penjual koran

Semuanya demi sesuap nasi hari ini

Mirisnya negeri yang katanya tanah surga nyatanya hanya rumah untuk bermuram durja

Lalu di mana para pemimpin yang berposter sejuta janji

Yang kemarin berkoar-koar laksana panji?

Padahal omong kosong setengah mati

Sedang rakyat kecil hanya termakan janji sebagai syarat kotak pemilu

Coba sekali ini… Kau pinjamlah Telinga Tuhan

Dan rasakan bagaimana terisak atau terkapar tewas di jalanan

Karena harapannya telah tercuri celengan tuan besar

***

KOTA PUISI

Sore itu si penyair pulang melancong dari masa lalu

Dibawanya seransel penuh berisi rasa dan rindu dari jalan setapak

Dikumpulkan kembali warasnya yang pulang pergi terbawa angin

Tak sadar sudah sembilan tahun ia menjaga senja yang kini makin memerah di kota puisi

Kini dia menyeduh kopi hitam lalu minum di beranda

Mungkin menunggu senja berlalu di sebuah kolom percakapan

Tapi senja malah bepergian ke ujung kota, hilang menjadi temaram

Dia bungkam, dia keluh dan kopi sudah tidak pahit lagi

Pagi masih remang, gerimis terasa manis

Bus-bus kota ricuh mempertanyakan seorang gadis

Di mana gadis cantik yang kemarin mencuri hati tuan kami?

Dia sedang pergi mencari ikan di tepi laut untuk makan malam kedua orang tuanya

Tapi dia tak pernah pulang sebab senja telah menelannya di ujung lautan

Sahut seorang sopir bus tua yang juga diperdaya senja

Penyair kini menyadari senja itu terlalu indah lagi terlalu tinggi

Sia-sia ia memetik senar gitar menunggu malam minggu

Karena sepertinya kini watak senja sulit ditebak apalagi hatinya

Semoga berbahagia

Ku kirimkan kau secarik rindu dan segenggam canda

Dalam dinginnya kota puisi

***

DIA

Tadi malam kulihat dia tertawa

Tadi pagi kulihat dia tersenyum biru

Mengapa sore ini tiba-tiba dia menangis?

Sepertinya cuaca sedang tidak baik

Adalah sebuah rasa kalau dapat dirasa

Adalah sebuah ruang kalau dapat diisi

Tapi jika ruangnya rumpang dia mati rasa

Dia berduka saat kosong dan sepi 

Toko buku menjadi bilik tidur ketika dia sedang gundah

Sementara apotek adalah tempat singgah untuk ngemil

Sesekali menikmati teh di sebuah cafe dekat penjara

Berharap ayah dapat remisi dan pulang lebih cepat

Kadang dia lembur sampai babak belur

Bukan apa-apa biar mereka tahu dia juga manusia

Hentikan omong kosong tentang bahagia

Kalau kita hanya akan berakhir sebagai manusia bermasalah

***

REGESTI SALOMI BAUANA, lahir di Olafulihaa pada 29 Agustus 1995 dan sekarang menetap di Rote Ba’a, Nusa Tenggara Timur. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Olafulihaa pada tahun 2004, melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Pantai Baru selesai pada tahun 2010, SMAN 1 Pantai Baru selesai pada tahun 2013 dan pada akhirnya menamatkan studi Sarjana di Universitas Nusa Lontar Rote pada tahun 2019.  

Memiliki hobi membaca karya fiksi membawanya mencintai dunia puisi, sebab baginya puisi itu bernilai magis seperti isi hati dan isi kepala penulisnya. Ia menulis beberapa puisi untuk mengisi waktu luang, diikutkan ke beberapa lomba puisi dan pernah masuk dalam 50 karya terbaik yang dibukukan dalam buku “Kata-Kata Kita” (Akalanka Team). Beberapa puisinya juga dibacakan melalui platform youtube dengan nama channel Regesti Salomi.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here