Padang Gurun di Padang Rumput

0
107
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota KSK & Fasilitator Yaspensi.

Pengantar

Padang gurun selalu diidentikkan dengan pergi ke suatu tempat jauh dari keramaian (ke gunung, hutan, biara, pertapaan, tempat ziarah, dll). Anggapan ini kini diperbaharui. Orang dapat berpadang gurun di tempat tinggalnya, atau di tengah-tengah keramaian dunia (di dalam komunitas biara, di kantor, di pasar, toko, kebun, dll). Padang gurun yang dipraktikkan di Karmel bisa berbentuk eremit (pribadi dengan beberapa orang) atau senobit (dalam komunitas). 

Mengapa Harus Berpadang Gurun?

Pertanyaan yang baik. Bagi para Karmelit, hal ini, pertama, untuk melanjutkan tradisi eremit senobit yang sudah ada; dan juga kedua, oleh karena kebutuhan akan keheninganserta pencarian jati diri manusia di dunia yang makin kompleks. Ketiga, untuk beristirahat sejenak bersama Allah dan dalam Allah sambil menimba rahmat baru yang diperlukan untuk dengan bebas melayani para saudara dan umat Allah dengan cinta.

Untuk masuk ke dalam padang gurun, pertama-tama Roh-lah yang membimbing kita ke sana supaya kita tinggal dan hidup di sana dan memasrahkan segala sesuatu hanya pada bimbingan Roh Allah saja. Supaya kita dapat bekerja sama secara penuh dengan Roh Allah, maka perlu persiapan fisik dan batin. Selain itu, diperlukan juga keheningan dari dalam diri (menjaga keheningan bicara, pikiran, dan kehendak) serta kesadaran bahwa kita sedang memasuki pada padang gurun, dan Allah sedang membmbing sehingga dapat mendukung peziarahan padang gurun.

Apa yang Dibuat?

Padang gurun itu yang terutama bukanlah suatu tempat tetapi lebih pada situasi disposisi batin dari diri yang aktual dan yang ideal menuju diri yang transenden. Seorang Karmel harus tahu bahwa di pertapaan (di dalam biara maupun di luar biara adalah tempat pertapaan), dan dalam situasi padang gurun itu ia “tidak memboroskan” waktu, tenaga, makanan dan persediaannya, ide-ide dan argumennya, doa dan karyanya, istirahat dan jerih lelahnya, keinginan dan harapannya, penderitaan dan kesehatannya, kepada hal-hal yang berseberangan dengan maksud dan tujuannya melakukan padang gurun itu.

Orang yang berpadang gurun terutama untuk melatih jiwa tapanya supaya ada kesesuaian antara kehendaknya dan kehendak Allah, membaca tanda-tanda baru kehendak Allah dalam situasi, tempat, dan kesehariannya. Ia akan membaca tanda-tanda zaman yang aktual dan urgen bahwa yang dilakukannya demi kemuliaan Allah.

Apa yang dapat dibuat selama berpadang gurun? Ada dua hal utama yang dapat dibuat, yakni pendewasaan dalam kemanusiaan dan pendewasaan dalam hidup rohani. Kedua hal ini dapat dicapai melalui opus manual – kerja tangan pada pos kerja harian maupun kerja inisiatif kreatif; asketis-menikmati makanan secukupnya, hening, puas dengan sarana prasarana yang aada; liturgi offisi dan perayaan misa, konferensi, meditasi, membaca buku bacaan rohani, merenungkan kitab suci; dinamika kelompok dalam olah tubuh, kerja dalam refleksi pribadi maupun bersama. Inilah ciri hidup senobit Karmel.  

Padang Gurun di Padang Rumput?

Lazimnya padang gurun dilaksanakan di tempat yang dipilih cocok untuk menghayati dan mendukung, misalnya di tempat terpencil, di padang gurun sungguhan, tempat yang terbatas sarana dan parasarana dan finansialnya, dan yang sumber makanannya ala kadarnya.

Kalau kita menyebut padang gurun di padang rumput, aneh kedengarannya. Ya, memang demikian. Sebab melakukan padang gurun di padang rumput sama artinya dengan berpadang gurun di “rumput biara” yang telah tersedia dan terjamin makanan, pemondokan sarana prasarana. Singkatnya, segala kebutuhan hidup terpenuhi. Inilah padang rumput. Di “padang rumput” (biara), semua makanan selalu ada, hidangan melimpah, orang takkan kekurangan, isi piala penuh berlimpah dan kenyamanan bait Tuhan di biara membuat orang mau berdiam di rumah Tuhan sepanjang masa atau ingin berpadang gurun selama hidupnya. Kisah ini dilukiskan dalam nyanyian Mazmur Daud (Mzm 23).

Memang segalanya di biara terjamin. Nah, karena segalanya terjamin, maka hal inilah yang menjadi tantangan bagi para pertapa. Apakah mereka cepat tergoda dengan situasi dan keadaan di biara atau tidak, apakah mereka punya jiwa pertapa dan jiwa pekerja atau tidak, dst. Jadi, padang gurun di “padang rumput” di biara (yang berkelimpahan sumber-sumber kehidupan) adalah latihan untuk menumbuhkan jiwa pertapa bagi mereka yang bertapa di biara.

Jadi, sikon gaya hidup pertapa dan tempat pelaksanaannya saja yang dipindahkan ke biara untuk mempraktikan latihan tri kaul agung di biara sembari berusaha tidak tergoda menngunakan kelimpahan hidup biara yang kita sebut padang rumput tadi. Latihan hidup sederhana dan ugahari di biara. Praktik hidup pertapanya dimunculkan dan kini dipraktikkan tempatnya di biara.

Buah Padang Gurun

Bagi mereka yang memaknai hidup padang gurun, maka dari dirinya tampak ciri-ciri sikap reflektif: peka melihat diri dan segala sesuatu kemudian direnungkannya dan dikontemplasikan dalam karya; tidak menuntut banyak hal tetapi puas dengan apa yang ada; dan akhirnya dengan bebas membagikan kasih persudaraan.

Buah-buah kontemplasi bagi yang berpadang gurun, kita terjemahkan dalam simbol-simbol yang disesuaikan dengan situasi padang gurun. Simbol-simbol itu antaralain: para pertapa akan memiliki hati yang sederhana bagai mata air, hati yang terbuka bagai bunga-bunga mekar, hati yang lapang seperti kapela/gereja, hati yang setia seperti seorang sahabat, hati yang berani seperti seorang pahlawan, hati yang murni seperti kristal, hati yang saleh seperti nyala lilin, hati yang segar bergairah seperti seorang anak kecil yang asyik bermain-main, hati yang lembut bagai senja, hati yang cerah bagai fajar merekah, hati yang tenang dalam doa seperti danau, dan hati yang kokoh tegas seperti wadas batu karang. Jadi para Karmelit itu memiliki hati dan jiwa seorang pertapa yang berbelas kasih. 

Penutup

Masuk dalam persaudaraan kontemplatif Ordo Karmel berarti berarti masuk untuk berpadang gurun di sana seumur hidupnya. Seorang Karmelit hendaknya memiliki jiwa dan hati seorang pertapa yang berbelas kassih sehingga dari dalam dirinya akan tampak kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kematangan rohani-spiritual yang mencirikannya. Hasil akhir dari latihan kegiatan padang gurun di “padang rumput” (biara) yakni menyadari kehadiran Allah di semua situasi dan bekerja sama dengan rahmat-Nya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here