Mengupas Kejahatan yang Tenang: Telaah Kemunafikan Perspektif Anton Chekhov

0
407
Oleh E. Nong Yonson, Penulis “Dosa Sang Penyair”, Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Manusia adalah makhluk paling aneh. Pada satu sisi ia memuji, pada sisi lain ia mendoakan jeruji bagi siapa pun yang ia puji. Bentuk kerendahan hatinya bersifat arbiter (mana suka) suka-suka dia. Dengan siapa ia merendahkan hatinya dan bersama siapa ia meninggalkan hatinya.

Meskipun sering terdengar, bahwa manusia yang baik adalah ia yang berusaha memenangkan sesuatu dengan tanpa membuat lawan merasa terkalahkan apalagi terhina. Hati-hati! Sebab, percaya pada ungkapan ini sama seperti mengizinkan Yudas-Yudas menciummu, bunglon-bunglon mengubah penghilatanmu, dan kambing-kambing liar yang mencuri rumput di kandang sapimu.

Anton Chekhov mendeskripsikan Kambing, Yudas-Yudas, dan Bunglon-Bunglon (manusia jenis ini) pada sebuah cerpen berjudul Munafik dalam buku antologinya “Pengakuan”. Buku ini diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia Tahun 2004 dengan tebal 136 halaman.

“Pengakuan” berisi dua puluh empat cerpen-cerpen pilihan. Secara totalitas, tema-tema yang diangkat Chekhov dalam “Pengakuan” selalu tentang tiga hal, yaitu (1) kemunafikan; (2) kecenderungan untuk memanipulasi orang lain; dan (3) praktik korupsi dan penjilatan. Ketiga tema ini rasa-rasanya seperti meruang dan mewaktu. Tema-tema ini dekat sekali dengan realitas kehidupan hingga saat ini.

Munafik menempati posisi pembuka dalam tipografi antologi cerpen itu. Apakah itu unsur kesengajaan? Mungkin iya. Namun, saya lebih menginterpretasikan sebagai bentuk puncak sebuah ekspresi. Sebab, di dalam sebuah ekspresi selalu diendapkan tiga aspek, yaitu arti, nilai, dan maksud (Bakker dan Zubair: 1990:42).

Ketiga aspek itulah menjadi bukti keberanian sastrawan dengan pernyataan “karya sastra tidak pernah lahir dari kekosongan realitas”. Arti, nilai, dan maksud adalah jalan yang mengantarkan pembaca untuk menjumpai realitas kehidupannya dengan sebuah persiapan, yaitu kejelian membaca kemunafikan dari sebuah ekspresi.

Tentang Anton Chekhov

Anton Pavlovich Chekhov, atau lebih dikenal dengan nama Anton Chekhov adalah Raja Cerita Pendek (cerpen) Rusia kelahiran Kota Taganrog. Hidupnya tidak lama. Ia lahir 14 Januari 1860 dan meninggal 15 Juli 1904, pada usia 44 tahun enam bulan. Pada usia 15 tahun Anton Chekhov terpaksa  hidup sendiri sebab keluarganya kabur ke Moskwa secara diam-diam pada 1875 untuk menghindari”lubang hutang”.    

Tiga tahun lamanya, ia berjuang menyelesaikan pelajaran dengan menjadi guru bagi murid-murid terbelakang. Ia lulus dari gimnasium dan mendapat kartu tanda dewasa. Pada tahun 1879 ia pergi ke Moskwa untuk meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Moskwa. Lima tahun kemudian 1884, ia mendapat gelar tabib dan dokter Uyezd (daerah administratif setingkat kabupaten).

Ada tiga periode kepengarangan Chekhov, yaitu tahun 1880-an, 1890-an, dan 1900-an. Tulisan-tulisan pertama muncul pada majalah-majalah humor populer tahun 1880-an, seperti Oskolki (Perpecahan) dan Strekoza (Capung). Umumnya, berisi cerita lucu. Namun, kisah-kisah itu justru merupakan bentuk ejekan terhadap tetek-bengek kehidupan (satire).

Cerpen pertama muncul pada tahun 1880 pada majalah Strekoza dengan judul “Pismo donskogo pomeschika Stepana Vladimirovicha kuconomu sosedu doktoru Friedrich” (Surat tuan tanah daerah Don, Stepan Vladimirovicha kepada tetangganya yang terpelajar Dokter Friedrich). Cerpen pertamanya ini, menggambarkan sikap Chekhov. Ia mengejek sikap masa bodoh tuan tanah penghuni pada rumput di daerah Don terhadap kehidupan masyarakat miskin.

Pada tahun 1886 dan 1887, Chekhov mampu menulis seratus cerita  dalam setahun. Selain cerita-cerita itu menelanjangi kepicikan dan ketidaksenonohan, ia juga mencurahkan perhatian pada masalah-masalah kontemporer yang paling vital dan mendesak. Ia meninggal karena menderita TBC. Walaupun sudah memiliki nama besar di Eropa, Chekhov baru dikenal oleh dunia setelah Perang Dunia I. Di Indonesia, Chekhov baru dikenal sebagai Raja Cerpenis sesudah tahun 1950-an. Empat puluh enam tahun setelah kematiannya.

Kemunafikan Perpektif Anton Chekhov

Sebenarnya, Anton Chekhov menggambarkan kemunafikan pada tiga cerpen dalam antologi “Pengakuan”, yaitu Munafik, Bertopeng, dan Orang Bebal. Namun, pada telaah ini, saya fokus mengangkat kemunafikan perspeketif Anton Chekhov pada salah satu cerpen berjudul Munafik. Uniknya, ia justru mulai memperkenalkan kemunafikan pada kover bukunya. Gambar kover bukunya sangat jelas menyimbolkan pesan munafik. Gambar seorang pria bermantel bulu kelinci tetapi berkepala kambing.

Inkonsistensi antara tubuh, mantel, dan kepala adalah simbol kegandaan bahkan sebagai tanda susah ditebak. Di Rusia, kambing merupakan nama sensitif jika ditunjukkan kepada seseorang. Dalam bahasa Rusia, kambing adalah kozyol. Kozyol populer pada era sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

Era itu merupakan masa dinamika kemunafikan kehidupan yang menempatkan Chekhov sebagai saksi hidup yang tidak sekadar merekam, menyalin, tetapi hidup sebagai korban yang melawan. Oleh karena itu, akan diterima sebagai sebuah penghinaan jika seseorang dipanggil dengan sebutan kambing atau kozyol. Selain penghinaan, kozyol juga merupakan simbol seseorang yang selalu berpura-pura.

Setelah kover, gambaran kemunafikan itu ditataletakkan Chekhov pada paragraf pembuka cerpen itu.

“Jangan percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua; dan saya sudah kehilangan kepercayaan itu!”

Awal paragraf ini tidak sekadar merupakan awal yang mengesankan dalam teori menulis cerpen tetapi awal yang sangat mahal. Chekhov tidak memberi jarak kepada pembaca antara judul Munafik dengan paragraf awal ini. Kemunafikan diperkenalkan dengan tiga simbol yang realisitis, yaitu kambing, Yudas-Yudas, dan bunglon-bunglon.

Yudas-Yudas dan bunglon-bunglon itu mengarah pada orang-orang yang berwajah dua. Atau lazimnya dikenal dengan sebutan ‘muka belakang’. Chekhov menggambarkan kemunafikan itu dalam bentuk jamak “Yudas-Yudas dan bunglon-bunglon’. Hal itu menunjukkan kemunafikan saat itu memang diperankan oleh banyak orang, diberbagai tempat, dengan beraneka tujuan.

Yudas-Yudas adalah pencitraan kemunafikan dengan tanda-tanda yang menunjukkan ‘kejahatan yang tenang’. Sebab kemunafikan versi ini adalah yang paling berbahaya. Pada satu sisi, ciuman dan pelukan berarti cinta dan sayang, pada sisi lain hal itu adalah tanda bahwa yang dicium dan dipeluk adalah target. Sehingga pelukan bukan berarti seberapa lengkap ia mencintai tetapi ia memastikan seberapa dalam sasaran pisau yang ia tancapkan lewat punggungmu.

Bunglon-bunglon merupakan pendeskripsikan tentang ‘berwajah ganda’. Pada bagian ini, kemunafikan diangkat Chekhov dengan menghadirkan tokoh Ivan Kapitonich. Penokohannya sangat menarik. Ivan Kapitonich adalah salah satu pegawai di kantor tokoh utama cerpen itu.

“… ia kecil, murung, dan berhidung pesek. Mukanya seperti terhimpit pintu atau terhantam, asam mengibakan. Jika melihat saya, gemetar, pucat, dan merah padam, seolah-olah saya ingin menelannya atau menyembelinya. Sedangkan, kalau saya marah, ia menggigil dan seluruh anggota tubuhnya menggeletar.”

Pada penokohan ini, Ivan Kapitonich adalah orang yang tidak diperhitungkan. Sebab ia memang hanya seorang pegawai rendahan. Namun, semua itu berubah saat tokoh utama menjumpai Ivan Kapitonich di dalam sebuah kereta.

“… ia bicara politik dengan orang di dekatnya. Seluruh gerbong mendengarkannya. Ia bercerita sambil mengayunkan tangannya.

Penokohan di kereta ini seperti membuka mata dan kepala tokoh utama, bahwa Ivan Kapitonich bukan orang biasa tetapi orang berbisa. Ia adalah bunglon. Kepada siapa ia memperkenalkan warna putih yang lusuh, kusut dan kepada siapa ia memamerkan warna merah kehitaman yang elegan.

Untuk melengkapi kemunafikan Ivan Kapitonich sebagai bunglon, Chekhov mengahadirkan sebuah pernyataan yang begitu lengkap maksudnya.

”Ia memang orang jenius! Ia orang Prancis, tetapi jiwanya Rusia. Orang berbakat!”

Orang Prancis tetapi jiwa Rusia adalah gambaran Chekhov tentang orang-orang yang berbakat untuk menjadi bunglon-bunglon. Dan hal itu menurut chekhov adalah cara yang sangat jenius. Sebab itu susah ditebak. Ivan Kapitonich adalah bunglon-bunglon itu.

Kemudian, Chekhov mendeskripsikan bahaya kemunafikan dengan penyataan yang sangat realistis.

“Mereka gila bentuk, gila huruf! Orang-orang formalis! Suka mencekik!

Dan orang macam itu dilambangkan Chekhov dengan sebutan kambing, Yudas-Yudas, dan bunglon-bunglon. Apakah kambing, Yudas-Yudas, dan bunglon-bunglon ada di sekitar kita? Kemunafikan adalah sesuatu yang meruang dan mewaktu. Tetap selalu ada, hidup, dan berkembang.

Membaca kejahatan yang tenang dalam cerpen munafik karya Anton Chekhov ini adalah sebuah rekreasi psikolgis-realistis yang menyenangkan. Bentuk psikologis dalam cerpen ini adalah psikoligi klinis. Khusus membahas tentang pikiran, perasaan dalam balutan ekpresi verbal dan nonverbal.

Cerpen ini seperti mewanti pembaca untuk berhati-hati dalam menghadapi kambing,Yudas-Yudas, dan bunglon-bunglon. Sapardi Djoko Damono (dalam Sambodja: 2007: 79) menyatakan bahwa salah satu ukuran sebuah karya sastra itu bagus adalah jika pembaca bisa membacanya dari awal hingga akhir dengan cepat dan tak tersiksa.

Sebagai pembaca hermenutika (membaca sambil menginterpretasi), cerpen ini adalah sebuah karya yang bagus. Selain saya tidak tersiksa membaca dari awal sampai akhir, saya juga diajak untuk memahami ciri-ciri kesahatan yang tenang ini. Munafik adalah sebuah cerpen yang konsisten. Meskipun cerpen ini adalah sebuah pemberotakan kepada pemerintahan yang munafik waktu itu. Namun, Kambing, Yudas-Yudas, dan bunglon-bunglon adalah simbol kejahatan yang tenang yang masih meruang dan mewaktu. Kita dituntut untuk berhati-hati.

Sumber Bacaan

Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Jakarta: Sinar Baru Algesindo.

Bakker, Anton dan Achmad Zubair. 1990. Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Chekhov, Anton. 2004. Pengakuan: Sekumpulan Cerita Pendek. (diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Djunaedi, Mohamad. 1992. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang: Putra Maspul.

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang

Sambodja, Asep. 2007. Cara Mudah Menulis Fiksi. Jakarta Selatan: Perpusnas: Katalog dalam Terbitan (KDT) Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here