Tempat Aku Pulang Setiap Pagi

0
404
Oleh Ana Maria Imakulata Janggu, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Familia Sikumana

SETIAP guru punya caranya sendiri dalam mencintai kelasnya. Ada yang menunjukkan lewat teguran, ada yang diam-diam mendoakan dari jauh, dan ada pula yang menulis agar kenangan tak lenyap begitu saja.

Cerita ini kutulis untuk dua puluh anak wali yang selama tiga tahun menjadi rumah keduaku. Mereka menamakan diri Danger Family, nama yang terdengar lucu tapi hangat, penuh semangat, dan sedikit gila, seperti cara mereka mencintai hari-hari di sekolah. Lewat tulisan ini, aku ingin mengenang pagi-pagi yang ramai, tawa yang tak pernah sama, serta pelukan yang tak selalu terlihat tapi selalu terasa. Karena bagiku, setiap kali melangkah ke kelas itu, rasanya seperti pulang ke tempat di mana hati ini belajar lagi tentang sabar, syukur, dan kasih yang sederhana.

Awal mula saya menjadi wali kelas terjadi begitu saja. Saat rapat awal tahun ajaran, Suster Kepala Sekolah bertanya dengan suara lembut namun tegas, “Siapa yang bersedia menjadi wali kelas tahun ini?” Ruangan mendadak hening. Beberapa guru saling pandang, sebagian tersenyum kecil, sebagian sibuk menunduk mencatat sesuatu yang mungkin tak perlu. Entah dorongan dari mana, tangan saya perlahan terangkat. Dengan suara yang sedikit ragu, saya berkata, “Biar saya, Suster.” Suster menatap dan tersenyum. “Baik, terima kasih,” katanya singkat. Begitulah tanpa banyak rencana, saya resmi menjadi wali kelas. Saya tidak tahu bahwa keputusan sederhana hari itu akan mengubah begitu banyak hal dalam hidup saya. Karena dari situlah, saya menemukan tempat untuk pulang setiap pagi.

Hari pertama masuk sekolah, udara pagi terasa berbeda campuran antara gugup, semangat, dan aroma spidol yang entah mengapa selalu menenangkan. Saya melangkah menuju ruang kelas X, kelas yang belum saya kenal. Di dalam, dua puluh wajah muda menatap dengan rasa ingin tahu. Sebagian masih sibuk merapikan meja, lainnya bercanda pelan sambil sesekali melirik ke arah saya. Saya tersenyum dan berdiri di depan kelas. “Selamat pagi,” sapaku. “Selamat datang di SMA Santa Familia. Saya Ibu Ana, wali kelas kalian.” Untuk sesaat, ruangan hening. Beberapa mata membesar, beberapa bibir menahan senyum, seolah baru menyadari bahwa guru yang berdiri di depan mereka bukan hanya pengajar biasa, tapi seseorang yang akan mendampingi mereka tiga tahun penuh. Lalu, perlahan, senyum-senyum itu tumbuh polos, jujur, dan penuh harapan.

Mereka belum tahu seperti apa saya. Saya pun belum tahu seperti apa mereka. Namun, pagi itu, saya tahu satu hal: kami akan belajar bersama, bukan hanya tentang pelajaran, tapi juga tentang menjadi manusia yang saling memahami. Saya menatap mereka satu per satu. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, rasa yang kelak akan membuat saya tersenyum setiap kali mengingat hari itu. Hari di mana saya masuk ke kelas, dan menemukan dua puluh alasan untuk pulang setiap pagi.

Hari pertama itu saya lalui dengan cara paling sederhana: mengabsen nama mereka satu per satu. Suara saya memanggil, dan dari setiap nama, muncul wajah baru yang menatap penuh rasa ingin tahu. Ada yang menjawab dengan suara lantang dan yakin, ada pula yang pelan nyaris berbisik, seperti takut salah menyebutkan kehadirannya di dunia baru itu. Setiap kali satu nama disebut, saya mencoba mengingat wajahnya. Saya perhatikan senyum, tatapan mata, bahkan cara mereka duduk. Dalam hati, saya berjanji, “Aku akan mengenal kalian satu per satu. Tidak hanya dari nilai, tapi dari cerita hidup yang kalian bawa ke kelas ini.”

Setelah presensi, kami membuat kesepakatan kelas. Saya menulis di papan tulis: “Kelas ini adalah rumah kita. Apa yang membuat rumah menjadi nyaman?” Pertanyaan itu membuat mereka saling berpandangan, lalu satu per satu tangan terangkat. “Ada yang mau mendengar.” “Tidak boleh saling ejek.” “Harus bersih, Bu!” Saya tersenyum. Mereka masih malu malu, tapi dari kata-kata itu polos. Saya tahu mereka ingin menciptakan ruang yang aman. Kami juga menentukan pengurus kelas. Beberapa anak langsung bersemangat, ada yang menunduk berharap tak disebut, dan ada pula yang tiba-tiba dicalonkan oleh teman-temannya dengan teriakan kecil yang memecah suasana. Tawa pecah, dan suasana perlahan mencair. Pagi itu, saya merasa seperti sedang menyusun potongan-potongan puzzle. Mungkin butuh waktu untuk mengenal mereka, tapi saya tahu satu hal: potongan itu akan membentuk gambar yang indah, jika kami merangkainya bersama.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan, tapi penuh warna. Setiap pagi, sebelum bel pertama berbunyi, saya selalu berusaha datang lebih awal. Saya suka melihat satu per satu mereka masuk kelas: ada yang datang dengan rambut masih basah, ada yang tergesa sambil menenteng roti, dan ada juga yang duduk diam di pojok, menatap kosong sambil mendengarkan musik dari earphone. Mereka semua berbeda, tapi di mata saya, mereka bagian dari rumah kecil bernama kelas X.

Tahun-tahun berjalan cepat, jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Rasanya baru kemarin saya memanggil nama mereka satu per satu saat presensi, dan kini mereka sudah duduk di kelas XII berseragam rapi, wajahnya lebih dewasa, langkahnya lebih pasti. Kelas yang dulu penuh tawa  kehebohan kini terasa sedikit lebih tenang, seolah waktu sendiri mulai menyiapkan kami untuk berpisah. Mereka sudah bukan anak-anak yang dulu saya tegur karena lupa membawa buku atau terlambat mengumpulkan tugas. Mereka kini lebih sibuk dengan rencana hidup, ujian sekolah, dan cita-cita yang akan membawa ke arah yang berbeda. Setiap kali saya masuk ke kelas, senyum itu masih sama senyum yang dulu menyambut saya pada hari pertama menjadi wali kelas mereka.

Suatu hari, saat mereka tengah sibuk menyiapkan acara perpisahan, saya berdiri diam di depan kelas memperhatikan. Beberapa menempelkan hiasan di dinding, beberapa menulis kalimat perpisahan di papan tulis, dan lainnya memutar lagu pelan dari ponsel. Saya berdiri di sana, menyimpan semua dalam ingatan. Begitu banyak hal yang ingin saya katakan, tapi kata-kata selalu kalah dari rasa. “Bu, nanti kalau kami lulus, ibu masih mau jadi wali kelas lagi tidak?” Tanya salah satu dari mereka. Saya tersenyum, menahan perasaan yang tiba-tiba menghangat di dada. “Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi kalian tahu kan, kelas ini akan selalu jadi yang pertama.” Mereka tertawa kecil, tapi saya bisa melihat mata beberapa dari mereka mulai berkaca-kaca.

Hari demi hari, detik demi detik, membawa kami pada waktu yang tak terhindarkan waktu untuk melepaskan. Saya berusaha tegar, memberi semangat agar mereka percaya diri menghadapi ujian akhir, namun di sisi lain, saya juga sedang belajar ikhlas menerima kenyataan bahwa setelah ini, kursi-kursi itu tak lagi akan mereka isi. Di hari terakhir, saya masuk kelas lebih awal dari biasanya. Cahaya pagi menembus jendela, menyorot deretan meja yang kini penuh coretan kenangan: nama-nama kecil, tanda tangan, dan pesan singkat yang mereka tinggalkan. Saya duduk di kursi guru sambil menatap ruangan itu lama-lama. Hening. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasa seperti seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk ditinggalkan.

Ketika mereka datang satu per satu, suasana berubah menjadi riuh. Ada pelukan, tawa, dan air mata yang tidak bisa disembunyikan. Mereka menyerahkan surat kecil, foto, bahkan gantungan kunci buatannya. Salah satu menulis di kertasnya: “Bu, kalau nanti kami sudah jauh, jangan lupa bahwa dulu kami pernah jadi alasan Ibu tersenyum setiap pagi.” Saya tak sanggup membaca sampai habis. Air mata sudah lebih dulu jatuh. Hari itu saya belajar bahwa menjadi wali kelas berarti siap mencintai dengan sepenuh hati, dan pada saat yang sama, siap melepaskan dengan keikhlasan. Cinta di dunia pendidikan memang tidak untuk dimiliki, tapi untuk diteruskan.

Mereka pergi satu per satu, melangkah keluar dari kelas dengan seragam. Saya berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan sambil berusaha tersenyum. Dan di dalam hati, saya berbisik, “Terima kasih, Danger Family. Kalian bukan hanya murid-muridku. Kalian adalah tempatku pulang setiap pagi, dan alasan terindah untuk tetap bertahan menjadi guru.” Beberapa minggu setelah kelulusan, suasana sekolah terasa berbeda. Lorong-lorong yang dulu ramai kini sepi. Tak ada lagi suara tawa yang memecah pagi, tak ada lagi langkah-langkah tergesa menuju ruang kelas. Hanya hembusan angin yang masuk melalui jendela, membawa aroma nostalgia yang pelan-pelan mengisi dada.

Saya melangkah ke ruang kelas lama ruangan yang kini telah ditempati oleh siswa baru. Namun, di setiap sudutnya masih tersisa jejak Danger Family. Coretan kecil di papan tulis yang belum sempat dihapus sepenuhnya, kertas tugas yang terselip di laci meja guru, dan stiker kecil di pojok dinding bertuliskan, “Kami pernah di sini.” Saya duduk di kursi tempat saya biasa mengajar dan menatap ke depan. Bayangan mereka seakan masih ada: tawa yang meledak saat bercanda, wajah serius saat mengerjakan ujian, mata berbinar ketika berhasil memahami pelajaran. Semua masih begitu hidup di ingatan.

Tanpa sadar, air mata menetes pelan. Bukan air mata sedih, tapi campuran antara rindu dan syukur. Rindu karena hari-hari bersama mereka telah berlalu, dan syukur karena saya pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka meski hanya sepotong kecil. Menjadi wali kelas ternyata bukan tentang memimpin, tapi tentang menemani. Bukan tentang memberi nilai, tapi tentang menanamkan makna. Dan meski kini mereka telah berjalan di jalan hidupnya masing-masing, saya tahu: sebagian kecil dari hati mereka akan selalu tertinggal di sini di ruang kelas kecil yang dulu kami sebut rumah.

Saya berdiri, menarik napas panjang, dan tersenyum. “Terima kasih, anak-anakku,” bisikku pelan. “Kalian telah membuatku mengerti arti menjadi guru yang sesungguhnya.” Lalu saya melangkah keluar, menutup pintu perlahan. Namun di dalam hati, pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup. Karena di sanalah tempat saya pulang setiap pagi, tempat di mana cinta, tawa, dan kenangan akan selalu tinggal. (Editor: Patrisius Leu/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini