Pengantar
SND adalah kongregasi perempuan apostolis yang berpusat pada Yesus Kristus dalam semangat Maria diutus untuk memberi kesaksian akan kebaikan dan penyelenggaraan Tuhan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dalam setiap karya pastoralnya ada keyakinan mendalam bahwa Tuhan selalu menyelenggarakan dan mencukupi segala kebutuhan.
Keyakinan pada Tuhan pemelihara kehidupan itu telah dihidupi dan diwariskan oleh ibu rohani kongregasi SND, Yulia Billiart. Ia pelindung Pendidikan Kristen dan anak-anak miskin. Dalam sebuah kesempatan, ia berkata, “perlu kesabaran panjang untuk berbuat baik pada anak,” dan kesabaran itu datang dari cinta yang diwujudkan dalam pengorbanan tanpa batas demi mereka. Baginya, setiap anak berharga dan mesti mendapat pendidikan. Kasih harus menjadi dasar dari segala tindakan, dan bahwa setiap orang memiliki panggilan untuk membawa terang bagi dunia. Karenanya semua yang dibuat demi kemuliaan Tuhan saja, soli Deo basta.
Profil Sekolah Notre Dame
Sekolah Notre Dame dikelola oleh para suster SND yang membawa cinta kasih dan kebaikan Tuhan kepada peserta didik melalui kesaksian dan pengalaman hidup para guru. Dalam proses belajar, para guru mengangkat martabat siswa sebagai citra Allah, menghargai setiap keunikan, dan menyemangati siswa. Para guru mengajar dengan penuh hasrat dan ketelitian. Sementara para siswa memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan mengembangkan keunikan pribadinya. Mereka diajari mengembangkan kemampuan berpikirnya.
Pendidikan Notre Dame holistik membentuk iman dan karakter yang kuat. Di sekolah, para suster serta guru merangkul anak-anak dengan hati, mengajak mereka ngobrol, belajar sambil bermain, dan bermain sambil beriman. Karakter dibangun, nalar dididik sebagai Notredamus. Keutamaan watak Notre Dame yang dibiaskan adalah ketaatan, kesederhanaan, rendah hati, kegembiraan, dan cinta kasih. Sekolah Notre Dame adalah rumah bagi anak-anak, rumah bagi orangtua, dan rumah bagi masyarakat. Orang yang masuk kompleks lingkungan sekolah akan berkata: ini rumah saya.
Profil Peserta Didik
Persekolahan Notre Dame tidak bedanya dengan persekolahan Katolik lainnya dan sekolah negeri maupun swasta umunya. Berbedanya aksentuasi pada tiga aspek: karakter, keterampilan dan pengetahuan. Pada profil karakter, mereka menunjukkan sikap menghormati orangtua, guru, teman dan orang lain; inisiatif bertindak dan mengambil keputusan dari kepeduliannya; berani tampil atau berkreasi dan mengemukakan pendapat di kelas; pembelajar yang siap sedia dalam aneka situasi mampu beradaptasi pada lingkungan.
Sementara pada profil keterampilan, mereka menerapkan three magic word: mengucapkan mita tolong, maaf kepada orang lain, dan terima kasih; bekerja sama dalam kelompok, berbagi dengan teman; berorganisasi dan mengemukakan pendapat secar lisan dan tertulis. Dan pada pofil pengetahuan, mereka memiliki tradisi literasi yang baik; mengetahui bakat dan minatnya,
Mendukung pencapaian ketiga aspek tadi, maka kita, pendidik dan peserta didik perlu room for growth. Mengapa? Kita semua berharga sebagai rekan sekerja Allah yang dianugerahi kemampuan dan diberi tanggungjawab, perlu ruang untuk ekspresi dan refleksi diri menuju kesempuraan hidup yang berkelimpahan. Room for growth menjadi ciri khas Pendidikan Notre Dame dalam mengembangkan talenta berupa terang iman, keterampilan, kecerdasan dan berbagai kemampuan yang dapat kita olah demi kemulian Allah di bumi lokalitas kita (bdk. Mat 25:14-30). Di dalam ruang pertumbuhan itu (room for growth), siswa diberi kesempatan berekspresi dan bereksperimen, berkreasi dan bernalar kritis tanpa takut melakukan kesalahan. Karenanya, dibutuhkan guru yang berkomitmen dan kompeten yang merawat dengan kasih peserta didiknya.
Profil Guru Notre Dame
Seorang guru Notre Dame diharapkan mumpuni pada kompetensinya di bidang pedagogi, profesional, sosial, kepribadian, spiritual, organisasi, dan lietrasi. Mereka mewarisi spiritualitas Notre Dame, juga misi yang dipercayakan kepada setiap pendidik Notre Dame: berjalan bersama mewujudkan suatu lingkungan keunggulan Pendidikan Katolik yang transformatif dalam semangat Kristus.
Para guru Notre Dame bisa menjadi animator-animatris dan katekis, serta petugas pastoral pendidikan yang menggerakkan dan berdampak. Mereka memberitakan iman kemana pun dan kapan pun ia bisa melakukannya. Anak-anak yang dilayaninya adalah titipan orangtuanya untuk belajar di sekolah dan karenanya anak-anak ini menjadi anak-anak dari bapak dan ibu guru sendiri. Sebagaimana bunda Juliet diberi anak-anak rohani dalam sebuah lembaga religius oleh Yesus dalam visiunnya. Demikianlah, para guru Notre Dame mempunyai hati seluas dunia yang berakar pada betapa baiknya kasih Tuhan Yang Mahabaik. Membalas kebaikan Tuhan itu, para guru dan peserta didik selalau mendaraskan doa syukur pujian bagaikan dupa membumbung ke hadapan Allah Mahatinggi dalam doa pagi dan siang secara bersama.
Semangat Sr. Maria Aloysia juga hendaknya dijiwai para pendidik Notre Dame, bahwa mereka harus memikirkan bagaimana ia mengangkat martabat dirinya sendiri, dan setelah itu mangangkat martabat anak didiknya. Untuk mengangkat martabat siswa, para pendidik harus memberikan ruang untuk pertumbuhan, room for growth.
Para guru Notre Dame didorong memfokuskan pengajarannya pada pada siswa, dan bukan pada penyelesaian materi ajar. Di sekolah mereka bertindak sebagai perencana pembelajaran, pelatih dan mentor. Mereka paham betul empat prinsip Pendidikan Notre Dame. Pertama, berpusat, mengarah, dan mengandalkan Allah Pemelihara, sebagaimana penggambaran bunga Matahari oleh ibu rohani St. Julie. Kedua, setiap individu Notre Dame adalah secitra Allah, yang punya rasa peduli, saling menghormati, dan adil dalam keberbedaan. Ketiga, setiap pendidik adalah saksi kabar gembira Injil di sekolah, di rumah, di tempat umum, dan di mana saja berada. Dan Keempat, pendidikan di Notre Dame terintegrasi berpikir kritis dan membangun karakter mulia dalam kegiatan intrakurikuler, ko-kurukuler, dan ekstra kurikuler.
Membangun Karakter Mulia
Kekhasan Notre Dame pada kurikulumnya yang menghantar siswa mengalami deep learning, membawa siswa untuk belajar sesuatu secara mendalam, dengan tujuan membangun karakternya dan menajamkan mata nalar dan mata imannya. Inilah motto dan kekahsannya. Kita akan membedah karakter mulia Notre Dame, dan selanjutnya membedah menajamkan mata nalarnya.
Membangun karakter berarti membentuk dan mengembangkan nilai etis moral dan sikap positif individu. Karakter yang kuat akan membantu seseorang menjadi pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu membuat keputusan yang tepat. Nilai-nilai inti (core value) karakter yang menjadi prioritas karya Pendidikan di Notre Dame, ada tiga. Pertama, hormat, bahwa setiap Notredamus menghormati Allah dan menghargai setiap manusia sebagai citra Allah (bdk. Kej. 1:27). Sr. Aloysia dan Sr. Ignatia selalu mengangkat martabat manusia. Praktisnya: menghormati setiap individu (orang tua, guru, teman, otoritas) sebagai citra Allah; menghargai perbedaan pendapat orang lain.
Kedua, peduli, pada orang lain dan lingkungannya. Sr. Aloysia dan Sr. Ignatia menerapkannya dengan menyelamatkan anak-anak korban perang. Kita juga bisa dengan: menyadari bahwa Allah ada dalam segala sesuatu; peka terhadap lingkungan dan situasi, lalu mengambil tindakan yang diperlukan; siap sedia melayani Tuhan dan sesama sebagai korelasi iman dan tindakan (bdk. Yak. 2:17).
Ketiga, pembelajaran seumur hidup yang bersemangat sebagaimana pengajar Bernard Overberg telah menginspirasi para suster pendiri. Kita, para pendidik dan siswa Notre Dame mesti bersemangat dalam belajar tak pandang usia; berani mengemukakan pendapat; gemar membaca dan membagikan ilmu dengan siapa pun di sepanjang hidup; selalu dinamis berkolaborasi mencari cara-cara baru yang mendatangkan kebaikan.
Menajamkan Mata Nalar
Menajamkan mata nalar berarti meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan analitis. Ini memungkinkan seseorang untuk memahami dan menganalisis informasi dengan lebih baik, membuat keputusan yang lebih tepat, dan menghadapi tantangan dengan lebih efektif.
Prinsip utama sebagai kekhasan pendidikan Notre Dame adalah agar peserta didiknya berkarakter mulia dan mampu berpikir kritis. Berkarakter mulia, berarti para Notredamus (sebutan untuk warga sekolah, alumni, dan mitra sekolah) memiliki karakter kuat dan menjadi dirinya sendiri yang unik di hadapan Allah. Membangun karakter mulia tidak cukup dengan kata-kata melainkan keteladanan para guru. Hanya guru berkarakter mulia yang dapat melatih siswa menjadi pribadi berkarakter mulia. Demikian pula, guru-guru pemikir kritislah yang bisa melatih siswa berpikir kritis secara menyeluruh dan mendalam, di mana semua aspeknya dipikirkan lebih dahulu sebelum bertindak.
Berpikir kritis adalah cara bernalar secara sengaja dan menyeluruh tentang apa yang harus dipercayai dan apa yang harus dilakukan, seperti penyampaian Overberg sebagai menajamkan mata nalar. Karenanya, setiap Notredamus menggunakan pikiran kritisnya secara utuh untuk: menganalisis makna dan informasi, mempertanyakannya, mengumpulkan bukti dan menyusun argumentasi pemecahan masalah, menyimpulkan, dan merekomendasikan sesuatu.
Pertanyaan kritis: Apakah mata nalar Notre Dame tajam? Bagaimana Notre Dame menajamkan Notredamus? Guru Notre Dame, apakah mata nalar Anda sudah tajam? Bagaimana Anda menajamkannya? Sudahkah Anda menajamkan mata nalar anak-anak kami? Mengapa?
Pengembangan Karakter Notre Dame
Membangun karakter dan menajamkan mata nalar dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti: pembelajaran berfokus pada nilai-nilai moral dan etika; kegiatan ekstrakurikuler yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, selain ekspresi seni; diskusi dan debat yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan logis; dan pembelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Kegiatan pembentuk keutuhan karakter Notredamus antaralain kegiatan kerohanian (lectio divina, misa jumat pertama, rekoleksi, retret); kepemimpinan (guardian angel, guardian teacher, latihan dasar kepemimpinan, dan organisasi kesiswaan); dan Experencial Learning and Life Skills (bakti sosial, kamping, immersion).
Penutup
Mari membangun karakter menajamkan mata nalar, maka batu diubah jadi emas. Individu yang berwatak keras di tangan para pendidik diubah menjadi hati emas yang peduli pada nasib sesamanya yang siap untuk menghadapi tantangan hidup, membuat keputusan yang tepat, dan mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang pilihan hidup.
Kita adalah pelanjut dari semangat pendiri dan perawatnya yang menginkan agar setiap unit Pendidikan Notre Dame unggul, bertransformasi menjawab tantangan zaman, berkembang di sepanjang zaman. Maju terus dan tetap terlibat, berubah, dan berbuah dalam karya pendidikan. (*)


