
TTS, SEKOLAHTIMUR.COM — Sebanyak 120 guru SMA/SMK se-Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) disiapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah melalui Pelatihan Innovative Schools Programme yang digelar pada Senin – Jumat, 20 – 24 April 2026 di Hotel Bahagia 2 Soe. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Emanuel dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan, kerja sama ini merupakan langkah konkret dalam meningkatkan kompetensi guru di daerah.
“Kerja sama ini bukan sekadar seremonial, tetapi harus berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Guru yang ikut pelatihan harus menjadi motor penggerak perubahan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Yayasan Emanuel yang telah berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk dalam pembiayaan, sehingga pelatihan dapat berjalan maksimal.
Menurutnya, Kabupaten TTS patut bersyukur karena menjadi salah satu daerah sasaran program penguatan kapasitas guru, termasuk hadirnya berbagai program pendukung seperti Sekolah Garuda.
Lebih lanjut, Ambrosius Kodo menekankan pentingnya tindak lanjut pascapelatihan melalui pengimbasan kepada guru lain di sekolah masing-masing.
“Setiap peserta wajib menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan sejawat. Ini akan dipantau oleh koordinator pengawas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari selesainya kegiatan, tetapi dari perubahan yang terjadi di ruang kelas.
“Kita ingin melihat perubahan nyata, terutama dalam peningkatan kualitas layanan pembelajaran kepada siswa,” tambahnya.

Sementara itu, Emanuel, selaku Ketua Yayasan Emanuel menjelaskan, pelatihan dirancang secara komprehensif dengan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga berbasis praktik.
“Materi yang diberikan mencakup pembelajaran berdiferensiasi, manajemen kelas, pembelajaran inkuiri, penguatan komunitas belajar, asesmen autentik, integrasi literasi dan numerasi, kepemimpinan efektif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI sebagai co-pilot guru,” jelasnya.
Ia berharap para peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dan menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing.
“Kami ingin guru tidak hanya belajar, tetapi juga bergerak dan membawa dampak nyata,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. Mereka berharap pelatihan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. (Lenzho Asbanu/rf-red-st)

