Mahasiswa KKNT Institut Pendidikan Soe Latih Warga Desa Bijeli Produksi Tempe Aneka Kacang

0
214
Dokumentasi kegiatan.

TTS, SEKOLAHTIMUR.COM — Upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal terus digalakkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) dari Institut Pendidikan Soe. Mengusung tema besar kampus “Literasi Pangan Berbasis Kearifan Lokal,” tim menghadirkan inovasi pengolahan tempe berbahan dasar kacang-kacangan lokal di Desa Bijeli, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan bertajuk “Inovasi Pangan Lokal Melalui Pembuatan Tempe Berbahan Dasar Varian Kacang-Kacangan” yang berlangsung pada tanggal 20 – 27 April 2026 ini dipimpin oleh Nonci M. Uki, M.Pd., bersama anggota Meti O. F. I Tefu, S.Pd., M.Si., Adi B. W. Banu, M.Pd., dan Kristian Lasi, S.Pd.

Dokumentasi kegiatan.

Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk fermentasi bernilai gizi tinggi dan ekonomis. Fokus utama kegiatan adalah pemanfaatan kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah sebagai alternatif bahan baku tempe pengganti kedelai.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya mengonsumsi kacang secara tradisional, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk inovatif seperti tempe,” ujar Ketua Tim, Nonci M. Uki.

Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga diarahkan untuk membuka peluang usaha rumah tangga berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Inisiatif ini dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian pangan desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dokumentasi kegiatan.

Tim KKNT PkM disambut langsung oleh Sekretaris Desa Bijeli, Franidas B. Nenometa, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Desa Bijeli merupakan salah satu penghasil kacang di Kabupaten TTS. Namun selama ini pemanfaatannya belum maksimal. Masyarakat umumnya hanya mengolah kacang sebagai campuran jagung katemak, jagung bose, atau nasi kacang,” jelas Franidas.

Ia menambahkan, selama ini kebutuhan tempe masyarakat masih bergantung pada pasokan dari Kefamenanu. Oleh karena itu, pelatihan ini dinilai sangat relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kegiatan ini membuka wawasan baru bagi masyarakat. Kami berharap ke depan warga bisa memproduksi tempe sendiri, bahkan menjadikannya sebagai usaha yang berkelanjutan,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Bijeli tidak hanya memperoleh alternatif sumber protein nabati yang terjangkau, tetapi juga didorong untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Inovasi yang diusung oleh Tim KKNT Institut Pendidikan Soe ini menjadi langkah nyata dalam mendukung literasi pangan berbasis kearifan lokal di wilayah Timor Tengah Selatan. (Lenzho Asbanu/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini